- Oleh Habas, S. Pd*
KABARDAILY.COM | OPINI – Ramadhan telah pergi, seiring kumandang shalat terakhir di tarawih dan witir penghabisan. Meninggalkan kisah haru yang begitu sulit terlupakan. Waktu yang sebulan terasa begitu singkat, waktu yang tak akan kita temukan, di sebelas bulan lain yang telah kita jalankan. Tak ada lagi keramaian yang mengisi shaf dan barisan jamaah yang penuh dengan cerita dan gurauan.
Tak ada lagi anak-anak yang hilir mudik berlarian, yang terkadang menjadi sebuah istilah “Core Ramadhan”. Bahkan tak ada lagi riuh rendah suara emak-emak sesama jamaah, bercerita tentang menu buka puasa apa hari ini, dan berbagi kisah tentang tingkah polah anak-anak di rumah, yang selalu request takjil yang wajib dihidangkan setiap saban sore menjelang berkumandangnya azan magrib yang selalu dirindukan.
Tak ada emak yang berkeluh kesah dengan berbagai rutinitas urusan dapur, bahkan dengan semangat empat limanya, semua dipenuhi setiap permintaan anggota keluarga.
Bahkan, apa yang mereka inginkan, seakan sebuah keharusan untuk menghadirkan menu hidangan spesial di meja makan. Waktu ramadhan, menjadi sebuah ajang ritual, untuk bisa menyajikan menu favorit keluarga, demi menggugah selera lidah disaat waktu berbuka tiba.
Sungguh memang menjadi sebuah pembeda dari hari-hari biasa. Ramadhan memang memberikan nuansa yang religi dan mengesankan. Bukan hanya berbagai menu hidangan bisa kita temukan di sepanjang jalan yang menjual takjil dan makanan. Tapi, adanya rasa kepemurahan di hati setiap insan, untuk saling berbagi menu dan makanan berbuka puasa, yang sering kita lihat di jalan-jalan, lewat beberapa aksi dari forum, majelis serta jawatan.
Ramadhan menjadi bulan yang penuh warna, begitu banyak terselip cerita yang sarat makna. Sungguh menjadi sebuah momen yang selalu dirindu. Berlomba-lomba untuk menggalakan ibadah, spiritual ditempa dengan berbagai amal dan sunah. Setiap kita ingin membuktikan, untuk menjadi hamba yang terbaik kepada Sang Khalik. Mungkin, yang selama ini kita enggan mengayunkan langkah menuju masjid dan meunasah. Justru kehadiran ramadhan seolah menjadi penggugah untuk rajin melakukan ritual ibadah berjamaah.
Jemaah dan insan berkerumun masa di masjid dan surau. Melantunkan irama Al Qur’an yang mendayu merdu. Seakan menghipnotis batin dan raga, karena sepanjang malam yang dilewati kita disajikan nyanyian menenangkan qalam Illahi yang menyejukan qalbu. Tadarus menjadi sebuah rutinitas malam jelang sahur yang hampir tiada luput dari pendengaran.
Saat sahur tiba, giliran anak muda dan remaja, menabuhkan alarm dan teriakan sahur-sahur yang saling bersahutan. Menandakan kita yang sedang tidur, untuk segera bergegas bangun. Melaksanakan aktifitas makan sahur yang penuh dengan keberkahan. Suasana makan sahur bersama dalam waktu yang bersamaan, seakan menjadi lambang silaturahmi yang mungkin di hari biasa, bisa saja kita makan dan sarapan secara sendirian. Karena jadwal kerja dan rutinitas yang terjalan memang berbeda-beda. Tapi, tatkala waktu sahur tiba, hampir dipastikan. Kita akan makan semeja, atau duduk tertib dengan keluarga secara lesehan.
Pun, saat berpuasa tiba. Keimanan kembali ditempa. Untuk bisa menjaga prilaku dan ucapan, memagari lisan dengan perkataan baik dan sopan. Demi ibadah puasa terjalan sesuai dengan tuntunan. Ramadhan adalah waktu yang terjadwal dengan baik. Rutinitas ibadah menjadi lebih teratur dan terarah. Semua kita lakukan untuk jalan menuju fitrah.
Mengharapkan ridho Allah menggapai maghfirah.
Ramadhan telah berpamit diri, tak akan pernah ada waktu seindah ini. Saat bulan telah berganti. Rutinitas kita mungkin telah berbeda arah. Ajang berkumpul bersama, bukan lagi menjadi sebuah menu wajib yang penuh kisah. Sungguh tak dapat dipungkiri, ada bulir kesedihan yang hadir di penghujung ramadhan. Rindu akan waktu yang terasa hanya hadir sejenak. Rindu ketika setiap desahan napas dan rutinitas, bahkan saat kita terlelap dalam tidurpun, sudah dianggap menjadi sebuah amalan yang dihitung ibadah.
Sungguh ramadhan akan menjadi sebuah kerinduan yang teramat sangat. Ingin kembali bisa membersamai, berharap kembali dapat bersua, di ramadhan yang akan datang. Air mata kesedihan ini adalah sebuah pengharapan dan permohonan. Mengingat usia tak pernah ada yang mengira dan mereka. Sebait tanya, apakah kita masih memiliki kesempatan yang sama, menghirup indahnya desiran angin ramadhan di kesempatan selanjutnya.
Ramadhan bukanlah sebuah kenangan yang terlupakan begitu saja menjelang hadirnya bulan kemenangan. Tapi sejatinya, ramadhan telah hadir untuk menempa sejauh mana kita mampu melewati berbagai momen ibadah dan kebersamaan. Ramadhan pula yang menjadi tameng, bagaimana kita bisa menjadikan nilai ibadah kita tidak berkesenjangan dengan bulan-bulan yang lain. Justru sebaliknya, kita semakin memupuk nilai-nilai iman dan ketakwaan.
Selamat tinggal ramadhan. Terima kasih untuk waktu dan kesempatan yang telah diberikan. Meski berat hati untuk melepaskan. Air mata kesedihan, akan berganti menjadi buliran air mata kebahagian. Saatnya kita menuju kemenangan. Seiring gema takbir berkumandang. Ucapan syukur atas segala nikmat yang Allah berikan. Ulurkan tangan maaf, mari kita pererat tali silaturrahmi.
Minal Aidzin Walfaizin
Mohon Maaf Lahir dan Bathin
Selamat Idul Fitri
1 Syawal 1446 Hijriah
Penulis Guru SMK Negeri 1 Bener Meriah




















