- oleh Yusrawati Jr Simatupang
dosen Bahasa Indonesia UBBG, peneliti literasi membaca, dan mahasiswa doktoral
di Universitas Pendidikan Indonesia.
KABARDAILY.COM, OPINI – Kehadiran Artificial Intelligence (AI) perlahan mengubah cara manusia belajar, bekerja, dan memperoleh informasi. Di lingkungan akademik, mahasiswa kini dapat menemukan jawaban hanya dalam beberapa detik. Mereka tidak lagi harus membuka banyak buku untuk memahami sebuah konsep atau membaca artikel panjang untuk memperoleh penjelasan tertentu. Cukup dengan mengetik pertanyaan, AI dapat menyajikan ringkasan, uraian, bahkan penafsiran terhadap suatu persoalan.
Perkembangan ini membawa banyak kemudahan bagi dunia pendidikan.
Akses terhadap pengetahuan menjadi lebih cepat dan luas sehingga mahasiswa dapat memperoleh berbagai sumber belajar tanpa menghabiskan banyak waktu untuk menelusuri informasi dasar. Kehadiran AI juga membantu proses belajar menjadi lebih efisien, terutama ketika mahasiswa membutuhkan penjelasan awal terhadap konsep yang rumit atau bahan bacaan yang sulit dipahami.
Persoalan mulai terasa ketika kemudahan tersebut perlahan mengubah kebiasaan belajar mahasiswa. Banyak mahasiswa terbiasa membaca ringkasan dibandingkan membaca teks secara utuh. Mereka lebih nyaman memperoleh poin-poin singkat daripada mengikuti alur argumentasi yang panjang dalam tulisan akademik. Tidak sedikit pula yang langsung meminta AI menjelaskan isi bacaan tanpa terlebih dahulu mencoba memahaminya secara mandiri.
Keadaan ini memperlihatkan bahwa tantangan pendidikan hari ini bukan lagi sebatas persoalan akses informasi. Informasi tersedia di mana-mana dan dapat ditemukan dengan mudah melalui berbagai platform digital. Tantangan yang lebih serius justru terletak pada melemahnya kemampuan menalar melalui kegiatan membaca yang mendalam.
Mahasiswa semakin cepat memperoleh jawaban, tetapi semakin sulit bertahan dalam proses memahami gagasan secara utuh.
Membaca sesungguhnya bukan sekadar melihat tulisan lalu memahami arti permukaannya. Aktivitas membaca melibatkan penafsiran, perenungan, penilaian, bahkan percakapan batin dengan gagasan yang sedang dibaca.
Seseorang yang membaca secara mendalam sedang melatih cara berpikirnya. Ia berusaha menghubungkan ide, mempertanyakan argumen, menemukan relasi antargagasan, sekaligus menguji pemahamannya sendiri.
Kemampuan menalar tidak tumbuh secara instan.
Proses tersebut dibentuk melalui kebiasaan membaca yang tekun dan penuh refleksi. Semakin seseorang terbiasa membaca secara mendalam, semakin terlatih pula kemampuannya dalam memahami persoalan secara kritis dan menyeluruh. Penalaran yang matang lahir dari proses berpikir yang panjang, bukan dari jawaban yang diperoleh secara cepat.
Maryanne Wolf dalam bukunya Reader, Come Home menjelaskan bahwa budaya digital perlahan mengubah cara otak manusia membaca. Manusia modern semakin terbiasa membaca secara cepat dan terpotong-potong. Akibatnya, kemampuan deep reading atau membaca mendalam mulai mengalami penurunan. Padahal melalui membaca mendalamlah seseorang belajar membangun konsentrasi, empati, refleksi, dan pemikiran kritis.
Kehadiran AI membuat situasi tersebut semakin rumit. Teknologi hari ini tidak hanya menyediakan informasi, tetapi juga menyajikan penjelasan dan interpretasi secara langsung. Mahasiswa tidak lagi sekadar mencari sumber bacaan, melainkan segera memperoleh jawaban yang sudah jadi. Proses intelektual yang seharusnya tumbuh melalui pergulatan membaca sering kali terlewati begitu saja karena semuanya tersedia secara instan.
Penggunaan AI dalam belajar akhirnya perlahan bergeser dari alat bantu menjadi pengganti proses berpikir. Mahasiswa terbiasa menerima hasil akhir tanpa mengalami proses memahami yang sesungguhnya. Mereka dapat mengetahui banyak hal dengan cepat, tetapi sering kesulitan menjelaskan alasan atau dasar dari pemahaman tersebut. Situasi ini membuat proses belajar kehilangan kedalaman karena mahasiswa lebih berorientasi pada hasil dibandingkan proses intelektualnya.
Keadaan seperti ini patut menjadi perhatian serius di perguruan tinggi. Kampus sejatinya bukan hanya tempat memperoleh informasi, melainkan ruang untuk melatih penalaran. Kemampuan berpikir kritis tidak lahir dari jawaban instan, tetapi dari proses membaca, mempertanyakan, dan merefleksikan gagasan secara mendalam. Tradisi akademik yang sehat justru tumbuh melalui kebiasaan berpikir yang sabar dan reflektif.
Gejala tersebut semakin tampak ketika mahasiswa berhadapan dengan teks akademik yang kompleks. Banyak mahasiswa sulit mempertahankan fokus saat membaca jurnal ilmiah atau buku teori. Mereka cepat lelah, mudah terdistraksi, lalu berhenti membaca ketika menemukan bagian yang sulit dipahami. Dalam keadaan seperti itu, AI sering dipilih sebagai jalan tercepat untuk memperoleh jawaban tanpa harus melewati proses membaca yang panjang.
Kesulitan dalam membaca sebenarnya merupakan bagian penting dari proses belajar. Saat seseorang berusaha memahami teks yang rumit, sebenarnya ia sedang melatih penalarannya. Kebingungan yang muncul ketika membaca bukan tanda kegagalan, melainkan bagian dari proses membangun pemahaman. Pikiran belajar bekerja lebih sabar, lebih teliti, dan lebih reflektif ketika berhadapan dengan teks yang menantang.
Pendidikan perlu menyadari bahwa kemampuan penting di era digital bukan hanya kemampuan mencari informasi, tetapi juga kemampuan bertahan dalam proses membaca dan berpikir. Kemampuan tersebut semakin penting ketika manusia hidup di tengah arus informasi yang bergerak sangat cepat. Mahasiswa perlu dibimbing agar tidak hanya terbiasa memperoleh jawaban instan, tetapi juga mampu mengembangkan pemahaman yang mendalam dan kritis.
Kesadaran inilah yang membuat ketahanan membaca menjadi penting. Ketahanan membaca merujuk pada kemampuan seseorang untuk tetap fokus, tekun, dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi bacaan yang sulit. Kemampuan ini semakin dibutuhkan di tengah budaya digital yang serba cepat dan instan. Tanpa ketahanan membaca, mahasiswa akan semakin mudah kehilangan fokus dan bergantung pada penjelasan singkat yang tersedia secara cepat.
Mahasiswa perlu dibiasakan memahami bahwa membaca bukan sekadar kewajiban akademik, melainkan latihan berpikir. Mereka perlu belajar menghadapi teks secara perlahan, berdialog dengan gagasan, dan membangun pemahaman melalui proses refleksi.
Kebiasaan membaca yang seperti inilah yang membantu mahasiswa membangun penalaran secara lebih matang. Kemampuan berpikir mendalam tidak lahir secara tiba-tiba, tetapi dibentuk melalui latihan membaca yang terus-menerus.
AI sebenarnya tidak perlu dipandang sebagai ancaman bagi dunia pendidikan. Teknologi tetap dapat dimanfaatkan secara produktif apabila digunakan secara tepat. AI dapat membantu mahasiswa menemukan referensi, memetakan ide, atau menjelaskan konsep awal yang sulit dipahami. Proses menalar, bagaimanapun, tetap harus dibangun melalui kegiatan membaca yang mendalam dan reflektif.
AI membantu manusia mencari, tetapi membaca membantu manusia memahami. Melalui membaca, seseorang belajar menilai informasi, memeriksa argumentasi, dan menemukan makna yang lebih luas dari sebuah teks. Aktivitas membaca juga membantu manusia membangun kesadaran kritis terhadap informasi yang diterima. Karena itu, membaca tetap menjadi fondasi penting dalam membangun kualitas pemikiran manusia.
Pendidikan tinggi perlu membangun keseimbangan baru dalam penggunaan teknologi. Mahasiswa tidak cukup hanya diajarkan cara menggunakan AI, tetapi juga perlu dibimbing agar tetap kritis di tengah kemudahan teknologi. Tidak semua jawaban cepat menghasilkan pemahaman yang matang. Kemampuan berpikir tetap memerlukan proses membaca, merenung, dan menguji gagasan secara perlahan.
Pembelajaran membaca di perguruan tinggi juga perlu bergerak menuju proses yang lebih dialogis dan reflektif. Strategi seperti Reciprocal Teaching dapat membantu mahasiswa aktif bertanya, mengklarifikasi, memprediksi, dan merangkum isi bacaan. Aktivitas semacam ini bukan hanya membantu memahami teks, tetapi juga melatih keterlibatan berpikir secara aktif.
Mahasiswa tidak sekadar menerima informasi, melainkan ikut membangun pemahaman melalui dialog dengan teks dan lingkungan belajarnya.
Kemampuan itulah yang justru semakin penting di era AI. Ketika teknologi mampu menyediakan jawaban secara otomatis, manusia perlu mempertahankan kemampuan yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh mesin, yakni kemampuan menalar, merefleksikan, dan membangun makna.
Kemampuan tersebut menjadi dasar penting bagi lahirnya pemikiran yang kritis dan bijaksana. Pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan individu yang cepat memperoleh informasi, tetapi juga individu yang mampu memahami makna di balik informasi tersebut.
Nicholas Carr melalui bukunya The Shallows pernah mengingatkan bahwa teknologi digital membuat manusia semakin mahir memindai informasi, tetapi semakin sulit berkonsentrasi secara mendalam.
Peringatan tersebut terasa semakin nyata hari ini. Dunia pendidikan sedang berhadapan dengan generasi yang cepat memperoleh informasi, tetapi sering kesulitan bertahan dalam proses berpikir yang panjang. Kondisi ini perlu disikapi secara serius agar pendidikan tidak kehilangan esensi intelektualnya.
Tugas pendidikan bukan menolak AI, melainkan memastikan bahwa teknologi tidak melemahkan kemampuan berpikir manusia. AI seharusnya menjadi alat untuk memperluas pembelajaran, bukan menggantikan proses intelektual yang dibangun melalui membaca.
Pendidikan perlu tetap menempatkan membaca sebagai fondasi penting dalam membangun penalaran dan pemikiran kritis. Dengan cara itulah teknologi dapat dimanfaatkan tanpa menghilangkan kedalaman berpikir manusia.
Masa depan pendidikan tidak akan ditentukan oleh siapa yang paling cepat memperoleh jawaban, melainkan oleh siapa yang tetap mampu berpikir mendalam di tengah banjir informasi. Di saat teknologi mampu mencari hampir segala hal, kemampuan membaca secara reflektif dan kritis justru menjadi fondasi penting untuk menjaga kualitas pemikiran manusia. Kemampuan tersebut akan menentukan apakah manusia tetap mampu memahami dunia secara utuh atau hanya sekadar menjadi konsumen informasi yang bergerak serba cepat.




















