- Oleh: Dr. Safwan, M. Ag. Ketua Prodi Study Islam, Pascasarjana STAI Nusantara Banda Aceh
KABARDAILY.COM, OPINI – Alhamdulillah pemerintah melalui Kementerian Agama telah menetapkan Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah yaitu 10 Dhulhijjah atau bertepatan dengan hari Rabu, 27 Mei 2026. Maka pertanyaan adalah ada apa dengan hari raya idul adha, jawabanya adalah di hari raya Idul Adha ada dua ibadah penting yang sangat besar pahalanya yaitu Naik haji ke baitullah apabila sudah mampu dan tentunya sudah di panggil oleh Allah SWT untuk melaksanakannya, dan satu lagi ibadah yang sangat besar pahalanya adalah berqurban.
Ibadah Qurban yang dilaksanakan setiap hari raya Idul Adha sering kali dipandang dari dimensi ritual-spiritualnya saja, yaitu sebagai bentuk ketaatan makhluk kepada Sang Pencipta. Namun, jika dibedah lebih dalam, Qurban memiliki dimensi yang tidak kalah penting: kesalehan sosial.
Dalam Islam, kesalehan tidak mutlak diukur dari seberapa khusyuk seseorang beribadah di dalam masjid (kesalehan individual), melainkan juga dari seberapa besar dampak keberadaannya bagi kesejahteraan masyarakat di sekitarnya.
Berikut adalah perspektif kesalehan sosial yang terkandung dalam ibadah Qurban:
1. Meruntuhkan Sekat Sosial dan Egoisme
Penyembelihan hewan qurban adalah simbol penyembelihan sifat-sifat kebinatangan yang ada dalam diri manusia—seperti ketamakan, egoisme, dan rasa ingin menang sendiri.
Distribusi Tanpa Batas: Daging qurban tidak dibagi berdasarkan status sosial. Semua orang, baik kaya maupun miskin, berhak menerimanya.
Momen Kebersamaan: Proses penyembelihan, pengulitan, pemotongan, hingga pembagian daging melibatkan gotong royong warga tanpa memandang kelas ekonomi. Hal ini menciptakan ruang interaksi yang hangat dan inklusif.
2. Pemerataan Pemenuhan Gizi (Keadilan Sosial)
Bagi kelompok masyarakat ekonomi lemah, daging sapi atau kambing mungkin merupakan makanan mewah yang jarang bisa mereka nikmati sehari-hari.
Qurban hadir sebagai instrumen pemerataan pangan berkala.
Melalui Qurban, Islam mengajarkan bahwa kebahagiaan dan kenikmatan mengonsumsi makanan bergizi harus dirasakan bersama, bukan hanya monopoli kaum yang berpunya saja.
3. Menghidupkan Sektor Ekonomi Rakyat
Secara makro, ibadah Qurban menggerakkan roda perekonomian yang masif dan berdampak langsung pada masyarakat kelas bawah dan menengah.
Peternak Lokal: Permintaan hewan qurban yang melonjak drastis memberikan keuntungan bagi para peternak di desa-desa.
Kemudian Sektor lain seperti penyedia pakan, jasa transportasi pengiriman hewan, hingga pedagang bumbu dapur dan arang ikut merasakan dampak ekonomi positifnya. Ini adalah bentuk redistribusi kekayaan yang nyata.
4. Manifestasi Empati dan Solidaritas Kemanusiaan
Kesalehan sosial dalam Qurban mengajarkan kita untuk mengasah kepekaan terhadap penderitaan sesama. Melalui syariat ini, umat Muslim dididik untuk tidak menutup mata terhadap realitas sosial di sekitarnya.
“Daging-daging lenbu dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan darimulah yang dapat mencapainya.” (QS. Al-Hajj: 37)
Ayat di atas menegaskan bahwa Allah tidak butuh dagingnya, melainkan proses kepedulian dan ketakwaan sosial kita yang sampai kepada-Nya.
Qurban adalah bukti bahwa Islam adalah agama yang sangat seimbang. Ibadah ini menghubungkan dimensi vertikal (Hablum minallah / hubungan dengan Allah) dengan dimensi horizontal (Hablum minannas / hubungan dengan sesama manusia) secara sempurna.
Menjadi shaleh secara ritual saja tidak cukup jika kita abai terhadap lingkungan sekitar. Melalui Qurban, seorang Muslim diajarkan untuk menjadi agen perubahan yang membawa kemaslahatan, kedamaian, dan kesejahteraan bagi masyarakat.




















