- Oleh Ichsan MSn,, Manager Museum Kota Juang Bireun, Ketua Jurusan SRD ISBI Aceh
KABARDAILY.COM – Di tengah denyut kehidupan seni Aceh yang dikenal luas lewat tari Saman, Ratoh Jaroe, Seudati, hingga syair-syair religius, ada satu cabang seni yang kerap luput dari perhatian publik, ia adalah seni rupa. Padahal, seni rupa di Aceh menyimpan khazanah panjang yang berakar pada tradisi, agama, dan pengalaman sejarah masyarakatnya. Bagaimana sebenarnya kedudukan seni rupa di Aceh.
Jika kita melihat warisan tradisi, seni rupa Aceh lekat dengan ukiran kayu, motif songket, hingga ragam hias pada Meunasah dan Rumah Adat Aceh. Ukiran Aceh, misalnya, bukan sekadar hiasan estetis, tetapi mengandung pesan moral dan doa yang berlapis makna. Kaligrafi Arab menjadi salah satu bentuk ekspresi visual yang lebih menonjol, sejalan dengan identitas Aceh sebagai Serambi Mekkah.
Kita mengakui bahwa corak seni rupa tradisi Aceh cenderung lebih banyak berada pada ranah dekoratif dan simbolik, ketimbang realistik. Hal ini dipengaruhi oleh pandangan keagamaan yang menghindari representasi figuratif makhluk hidup. Secara visual seni rupa tradisi Aceh berkembang pada bidang ornamentasi dan kaligrafi, yang hingga kini masih mengakar kuat dalam ruang sosial masyarakat.
Dalam sejarah, Aceh pernah menjadi pusat peradaban Islam yang berpengaruh di Asia Tenggara. Nilai-nilai Islam membentuk corak seni rupa Aceh. Di satu sisi, Islam memberi warna spiritual yang mendalam pada karya seni dan, menjadikannya sarana dakwah serta refleksi religius. Di sisi lain, keterbatasan ruang untuk bereksperimen dengan bentuk-bentuk figuratif membuat perkembangan seni rupa Aceh tidak sevariatif seni tari atau musiknya.
Prof Dr Irwan Abdullah, Guru Besar UGM asal Aceh yang kerap meneliti budaya Aceh, pernah menegaskan bahwa Seni rupa Aceh adalah seni yang lebih banyak berbicara lewat simbol. Di balik ornamen dan kaligrafi, tersimpan narasi tentang religiusitas dan identitas kolektif masyarakatnya.
Dalam konteks sosial hari ini, seni rupa di Aceh kerap ditempatkan sebagai seni pinggiran dibandingkan seni pertunjukan. Publik lebih familiar dengan festival tari atau musik Islami, sementara seni rupa masih jarang mendapat panggung besar. Hal ini memperlihatkan bahwa kedudukan seni rupa di Aceh masih terjebak dalam posisi subordinat.
Meski begitu, arus baru seni rupa Aceh mulai lahir dari kalangan muda dan akademisi. Kehadiran kampus seperti ISBI Aceh, serta komunitas seni di Banda Aceh, Lhokseumawe, dan Bireuen, membuka ruang baru bagi seniman untuk bereksperimen. Ada yang mulai bermain dengan media kontemporer seperti mural, instalasi, fotografi, hingga seni digital. Kita yakin mahasiswa kita punya semangat bereksperimen dengan seni kontemporer. Mereka ingin menembus batas tradisi, tapi tetap membawa ruh Aceh dalam karya-karyanya.
Dilain sisi, kita melihat bahwa, penerimaan publik terhadap seni rupa kontemporer masih terbatas. Sebagian masyarakat menganggap karya yang terlalu eksperimental kurang sesuai dengan norma sosial. Di titik inilah seniman Aceh ditantang untuk merajut dialog antara tradisi dan modernitas, antara nilai-nilai Islam dan kebebasan berekspresi, agar seni rupa tidak sekadar dianggap asing, melainkan menjadi bagian dari dinamika sosial Aceh itu sendiri.
Seorang perupa hebat, Indra Setiawan yang pernah menjadi Koprodi Seni Murni ISBI Aceh menuturkan mural dan instalasi yang saya buat sering dipandang aneh. Tapi bagi saya, seni harus menjadi ruang dialog. Justru lewat medium kontemporer, saya bisa menyuarakan berbagai isu sosial hari ini.
Fakta lain yang tidak bisa diabaikan adalah lemahnya ekosistem seni rupa di Aceh. Galeri seni permanen nyaris belum ada yang efektif, pameran hanya sesekali diadakan, dan pasar seni rupa belum terbentuk dengan baik. Kolektor seni masih minim, kurator yang aktif sangat terbatas, dan pemerintah daerah lebih sering memusatkan anggaran pada festival tari, musik, atau kegiatan keagamaan.
Hal ini membuat perupa Aceh sering menghadapi dilema berkarya di Aceh dengan ruang terbatas, atau merantau ke luar daerah agar karya mereka bisa diapresiasi lebih luas. Banyak seniman muda Aceh akhirnya memilih jalur kedua, sehingga Aceh kehilangan potensi besar untuk membangun identitas seni rupa yang khas.
Seorang Kriyawan, Saniman Andi Kafri, pernah menyebutkan, kalau kita hanya memandang seni rupa sebagai ornamen, maka kita telah kehilangan peluang besar. Motif Aceh bisa masuk ke desain global, ke industri kreatif, bahkan ke dunia digital. Seni rupa adalah modal ekonomi, bukan sekadar hiasan.
Sesungguhnya, potensi seni rupa Aceh sangat besar. Ragam hias Aceh memiliki kekayaan visual yang unik dan bisa dikembangkan ke berbagai ranah seperti desain grafis, kriya, fashion, hingga seni digital. Arsitektur tradisional Aceh menyimpan nilai filosofis yang dapat digali dalam seni visual kontemporer. Kaligrafi Islami Aceh pun memiliki ciri khas yang bisa menjadi ikon pada tingkat nasional maupun internasional.
Jika modal budaya ini dikelola dengan serius, seni rupa Aceh bisa menjadi kekuatan besar dalam ekonomi kreatif. Bayangkan jika motif Aceh dikembangkan sebagai produk desain global, atau jika seni rupa Aceh mampu hadir dalam biennale internasional dengan narasi khas, spiritualitas, sejarah, dan daya tahan budaya.
Untuk mengangkat kedudukan seni rupa Aceh, diperlukan strategi yang jelas. ISBI Aceh perlu menjadi pusat riset dan pengembangan seni rupa yang bukan hanya melahirkan seniman, tetapi juga kurator, penulis seni, dan penggerak ekosistem seni.
Selain itu, pemerintah daerah harus lebih inklusif dalam mendukung seni rupa. Anggaran kebudayaan jangan hanya diarahkan ke seni pertunjukan, tetapi juga membuka ruang bagi pameran seni rupa, pembangunan galeri, hingga residensi seniman.
komunitas seni juga harus aktif membangun jejaring dengan lembaga nasional maupun internasional. Jejaring ini penting agar seni rupa Aceh tidak terkungkung dalam lingkaran lokal semata, tetapi bisa bersuara di panggung global.
Literasi seni bagi masyarakat harus ditingkatkan. Masyarakat perlu diedukasi bahwa seni rupa bukan sekadar gambar atau ornamen, melainkan medium refleksi, kritik sosial, bahkan ruang dakwah yang sejalan dengan identitas Aceh.
Pada akhirnya, kedudukan seni rupa di Aceh tidak boleh hanya dipandang dari segi estetika, tetapi juga sebagai wajah peradaban. Bangsa yang besar tidak hanya dikenal karena ekonominya, tetapi juga karena seni dan budayanya. Jika Aceh ingin tampil bukan hanya sebagai daerah yang religius, tetapi juga kreatif dan berperadaban tinggi, seni rupa harus ditempatkan pada posisi yang terhormat.
Seni rupa Aceh hari ini memang masih menghadapi tantangan besar diantaranya minim dukungan, keterbatasan ruang, dan lemahnya pasar. Tetapi dengan modal budaya yang kaya dan semangat generasi muda yang terus tumbuh, seni rupa Aceh memiliki peluang untuk bangkit.
Seniman tua di Aceh pernah berkata lirih, Tari Aceh bisa bikin kita menunduk kagum, musik Aceh bisa bikin kita terdiam, tapi seni rupa Aceh bisa membuat kita merenung. Jangan biarkan ia tenggelam dalam sunyi.




















