Generasi yang Kehilangan Rasa Penasaran Hidup di Bayang-Bayang Influencer

KABARDAILY.COM  |  OPINI  –   Di tengah canggihnya teknologi, generasi muda hari ini hidup di dalam dunia yang nyaris seluruhnya dibentuk oleh layar ponsel. Informasi bisa dicari dengan musah, tren silih berganti, dan influencer menjadi sumber inspirasi sekaligus penentu arah selera.

Namun di balik kemudahan ini, ada gejala yang mengkhawatirkan: hilangnya rasa penasaran dan kemampuan untuk menentukan pilihan berdasarkan diri sendiri.

Jika dulu anak muda menemukan minatnya lewat pengalaman langsung dan bertanya, mencoba, gagal, lalu mencoba lag, kini banyak yang sekadar mengikuti apa yang sedang viral. Musik, gaya hidup, bahkan cita-cita sering kali hanyalah hasil tiruan dari figur publik di media sosial. Selera pribadi tergeser oleh selera yang lagi viral di media sosial yang dimana belum tentu mereka bisa capai.

Akibatnya, banyak pasangan muda yang kaget saat menghadapi kenyataan perbedaan karakter, masalah ekonomi, dan tekanan keluarga. Ekspektasi yang berlebihan dibangun oleh media sosial terlalu tinggi, dan tidak sedikit yang berujung pada perceraian. Data Badan Pusat Statistik dalam beberapa tahun terakhir bahkan menunjukkan bahwa salah satu penyebab meningkatnya angka perceraian adalah ketidakmatangan pasangan muda dalam mempersiapkan pernikahan.

Fenomena ini dapat dijelaskan lewat teori Uses and Gratifications dari Blumler dan Katz (1974). Teori tersebut menyatakan bahwa media digunakan untuk memenuhi kebutuhan informasi, hiburan, interaksi sosial, dan pembentukan identitas. Namun, di era sekarang, proses pembentukan identitas justru dibalik: identitas tidak lagi lahir dari proses pencarian pribadi, melainkan dibentuk langsung oleh media.

Psikolog Jean Twenge dalam bukunya iGen (2017) menegaskan bahwa paparan berlebihan terhadap media digital membuat anak muda merasa sudah “tahu segalanya” tanpa pernah mengalami langsung. Akibatnya, intrinsic curiosity dan rasa penasaran alami itu tidak ada lagi.

Mereka lebih sering menjadi pengikut ketimbang pencipta itu sendiri, lebih sering menjadi penonton ketimbang pelaku.
Jika tren ini terus dibiarkan, kita akan melahirkan generasi “cermin”: pandai memantulkan tren yang ada, tetapi jarang memunculkan sesuatu yang mereka ciptakan sendiri.

Padahal, inovasi hanya lahir dari pertanyaan-pertanyaan yang tidak puas dengan jawaban instan. Tanpa rasa penasaran, daya cipta pun ikut menghilang.

Solusinya bukan memutus teknologi, melainkan mengembalikan penjelajahan atau penyelidikan untuk menemukan atau mempelajari sesuatu yang baru atau belum diketahui.

Pendidikan perlu memberi kesempatan untuk mencoba dan berkreasi tanpa takut salah. Keluarga perlu memberi kebebasan agar anak berani memilih minatnya sendiri. Lingkungan perlu memberi apresiasi pada orisinalitas, bukan sekadar popularitas.

Generasi muda butuh lebih dari sekadar koneksi internet dan mereka butuh koneksi dengan diri sendiri. Dan itu hanya bisa tercapai jika mereka kembali berani bertanya, “Apa yang benar-benar aku sukai?”, bukan sekadar, “Apa yang sedang viral?”

Penulis : Ridha Aulia, S.Pd
Mahasiswa Pascasarjana USK