Pure Seungke

KABARDAILY.COM | —Istilah pure seungke bukanlah hal yang asing di kalangan masyarakat aceh jaman dulu, atau di kalangan masyarakat yang tinggal di gampong-gampong, kalau diartikan kedalam bahasa Indonesia, pure artinya penyakit kulit seperti kurap, sedangkan Seungke artinya siku, jadi bisa diartikan pure seungke adalah kurap di siku tangan, sebagian masyarakat memberi istilah pure seungke kepada orang orang yang meminta kembali pemberiannya kepada orang lain, meskipun orang tersebut tidak memiliki penyakit kurap di sikunya.

Dikalangan masyarakat aceh dahulu, Pure Seungke selalu disampaikan kepada orang orang yang meminta kembali pemberian nya kepada orang lain, pure seungke merupakan semacam hukuman bagi mereka yang memberikan hadiah kepada orang lain lalu memintanya kembali.

Saat kami kecil dulu, pure seungke selalu di ucapkan dan diingatkan oleh orang tua, sehingga ada rasa khawatir saat melakukan tindakan yang mengarah ke hukuman pure seungke, dalam benak kami, pengidap penyakit pure seungke itu sangat memalukan dan yang paling mengkhawatirkan adalah menjadi bahan bullying teman teman bermain dan dijauhkan oleh teman teman.

Begitulah orang jaman dahulu mengajari anak anak nya atas prilaku yang tidak bermoral dengan cara menakut nakuti atas sesuatu yang dapat dibayangkan oleh anak anak, contoh lain misalnya ada istilah geuntet yang digambarkan seperti sosok yang hitam, gelap dan sangat tinggi, dia bisa menculik anak anak yang berkeliaran diluar rumah menjelang magrib, orangtua ingin menyampaikan bahwa tidak boleh lagi anak anak berkeliaran di luar rumah saat menjelang magrib, memang benar bahwa pergantian waktu dari hari ke malam adalah waktunya kaum jin bereaksi, bahkan para kaum penyembah berhala, penyembah sihir, banyak melakukan perbuatannya disaat pergantian waktu, dan istilah-istilah lain yang sudah jarang kita dengar dimasyarakat saat ini.

Kembali ke prilaku “pure seungke”, Orang yang memberikan sesuatu kepada orang lain sebagai hadiah atau sedekah berarti kepemilikannya telah berpindah kepada orang yang diberi. Namun ada orang yang meminta kembali pemberiannya itu lantaran kesal, bertengkar, menyesal, tidak sesuai dengan tujuan nya dan lain sebagainya.

Saat ini banyak kita saksikan terutama prilaku para politisi yang meminta kembali pemberiaan nya akibat tidak terpilih atau tidak sesuai dengan harapannya, misalnya yang sempat viral di sosial media tentang prilaku seorang caleg yang gagal terpilih kemudian meminta kembali sajadah yang pernah diberikan nya kemesjid atau tempat ibadah.

Rasulullah SAW menyerupai orang orang yang meminta kembali pemberiannya seperti anjing yang menjilat muntah nya, sangat menjijikkan, contoh prilaku buruk dan tidak termasuk akhlak seorang muslim, dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari Muslim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Orang yang menarik kembali pemberiannya seperti anjing yang muntah kemudian menjilatnya kembali.”.

Di hadist yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda, “Tidak halal bagi seseorang memberi suatu pemberian lalu ia mengambilnya kembali kecuali orang tua, ia boleh mengambil kembali apa yang telah diberikan kepada anak-anaknya.” (HR. At Tirmidzi)

Jumhur ulama sepakat bahwa meminta kembali pemberian yang telah diberikan kepada orang lain hukumnya dilarang dan larangan ini bersifat haram. Oleh karena itu, barang yang telah diberikan kepada orang lain tidak boleh diminta kembali dengan alasan apapun, kecuali pemberian ayah terhadap anaknya.

Oleh karena itu, mari kita memberikan sesuatu kepada orang lain secara ikhlas karena Allah, bukan karena manusia atau ingin mendapatkan imbalan dari manusia, karena ketika imbalan yang kita harapkan itu tidak kita dapatkan, maka kekecewaanlah yang akan kita peroleh, dan syaithan bermain hingga mengganggu hubungan antar sesama manusia dan terhapus segala pahala yang pernah kita dapatkan dari pemberian tersebut.

Orang yang memberikan hadiah atau sesuatu karena Allah, insya Allah imbalan dunia akan ia dapat dan imbalan akhirat juga diperoleh, namun bila hanya mengharapkan imbalan dunia saja, maka kita akan mendapatkan imbalan di dunia saja tidak diakhirat, mudah mudahan kita terlindungi dari penyakit pure seungke.
Wallahu’alam…

Penulis : M. Sanusi Madli