Angkot Ghaib

Aku menangis sesenggukan, berjalan di sepanjang jalan Sutomo, Pematang Siantar. Entahlah, aku pasrah.

Tiba-tiba…..

Tet tot…. sebuah klakson mengagetkanku.

“Ke Perda, dek?”

“Iya bang.”

Aku berpikir, kenapa abang supir tau aku ke Perdagangan ya? Akh…cepat kusingkirkan pikiran yang tidak-tidak. Yang terpenting, aku bisa sampai rumah.

Abang supir membuka pintu depan.

“Di depan aja dek. Abang gak ambil penumpang lain. Abang juga mau pulang nih.”

“Oh…gitu ya bang.” Tiba-tiba aku urungkan niatku untuk naik ke angkot itu.

Dan abang supir angkot melihat gelagat ketakutanku.

“Ha ha ha. Nggak usah takot kau dek. Nggak makan orang aku. Orang baek-baeknya aku. Nggak mau aku bikin jahat, mati aku, susah aku nanti.”

Kulihat ada kejujuran dari perkataannya. Dan kulihat wajahnya juga bukan orang jahat.

Akh….lagi-lagi aku selalu tertipu dengan penampilan. Ku ikuti instingku. Dia orang baik. Dan akhirnya aku naik.

Kulihat jam tanganku, waktu menunjukkan pukul 7.30 malam.

“Hmm, sampe rumah jam setengah sembilan nih. Belum lagi jalan kaki dari simpang ke rumah setengah jam. Ugh…jam 9 baru nyampe nih kayanya.” Aku membatin.