“Mau kemana dek?” Seorang preman pasar bertanya padaku. Wajah dan penampilannya yang sangar, lumayan membuatku ciut.
“Ke Perdagangan, bang.” Kujawab dengan sangat lirih, pedih seperti ditinggal mati kucing kesayanganku, Brownie.
“Telat kali kau, bah. Udah berangkat tadi angkot yang terakhir.”
“Oh, gitu ya bang. Makasih ya bang.”
“Iya, hati-hati kau ya. Udah gelap ini soalnya.”
Kulihat si abang sangar, tersenyum. Aku pun tersenyum, kecut. Ternyata penampilan dan wajahnya tidak menggambarkan sikapnya.
Aku melangkah, gontai, lemas, bingung tak tau harus bagaimana. Teman-teman dekatku juga semuanya tinggal di luar kota Siantar. Teman-teman lain, aku tidak tau alamat mereka. Bagaimana aku bisa sampai ke rumah sementara angkot terakhir sudah berangkat?



















