Oleh: Dr. Ainal Mardhiah, S.Ag, M.Ag
kabardaily.com – Jika boleh saya katakan “Aceh adalah kota seribu Warkop alias Warung Kopi”, julukan ini saya rasa tidaklah terlalu berlebihan. Kenapa saya katakan demikian? Karena hampir semua sudut kota, pinggir jalan sampai ke pedesaan, warkop eksis di Aceh, bahkan menjadi mata pencaharian sebagian masyarakat Aceh dari dahulu sampai sekarang.
Bedanya, dahulu warkop itu masih sangat tradisional hanya menjual kopi dalam satu rasa, sekarang ini warkop sudah di kemas dalam bentuk modern, dengan berbagai rasa kopi. Warkop sekarang hadir dengan berbagai gaya dan ciri khas. Ada yang khas dalam jenis olahan kopi, ada yang khas dalam cara penyajian yang menarik, yang lainnya khas dalam cita rasa kopi. Ada juga warkop yang menyajikan pemandangan yang indah, seperti di pinggir laut, di pinggir jurang, dipinggir danau, di kebun kopi, sehingga para peminat kopi dapat menikmati kopi sambil menikmati pemandangan yang indah. Cara ini tentunya akan menambah sempurna kenikmatan dalam acara ngopi, menjadikan warkop itu memiliki sejuta makna dan sejuta rasa.
Warkop, Kafe Dengan Sejuta Warna dan Rasa
“Ngopi”, bagi orang Aceh sudah menjadi bagian penting, sudah menjadi kebiasaan, bahkan ada yang sudah menjadi kebutuhan. Kalau biasa kita mendengar ungkapan “Sudahkah anda shalat hari ini?”, atau “Sudahkan anda membaca Al-Qur’an hari ini?”. Sekarang bisa kita katakan “sudahkah anda ngopi hari ini?” kenapa kita katakan demikian? karena bagi sebagian besar orang Aceh saat ini, terutama yang diperkotaan tidak ada hari tanpa acara ngopi, meski hanya sebentar.
Semenjak selesai shalat subuh di masjid, warkop sudah dipenuhi orang, dan sampai subuh lagi sebagian warkop masih buka, baru terdapat perubahan setelah keluar peraturan Gubernur tentang warkop dan kefe harus tutup setelah jam 12 malam.
Tema pembahasan di warkop sangat beragam, ada masalah anak, politik, ekonomi, pendidikan, pekerjaan, tetangga, menu masak perselisihan, perselingkuhan, kekerasan seksual, bisnis, atau lainnya.
Sebagian lainnya dari warkop lahir berbagai karya-karya besar, ide-ide cemerlang yang bermanfaat buat diri, pekerjaan, dan orang banyak.
Warkop, Kafe Dan Rusaknya Rumah Tangga
Pagi sampai siang tidur, kadang sampai sore. kapan shalat?, kapan kerja? Kapan belajar? bangun sore mandi, makan, pamit sama istri, untuk ngopi atau ketemu kawan, menjelang subuh baru pulang. Begitu rutinitas suaminya kata seorang istri. Akibatnya, di rumah sering cekcok sampai akhirnya istri minta cerai, dan hakim memutuskan cerai dengan alasan tidak memberi nafkah.
Dalam kasus lain, istri dapat telpon dari atasan suami, yang menanyakan kenapa suaminya tidak masuk kerja? istri mengatakan bahwa suaminya sudah berangkat kerja dari pagi, tapi si Bos mengatakan dia tidak ada di kantor. Setelah di telusuri ternyata suami si Ibu tidak masuk kerja, asyik nongkrong di warkop, pulang ke rumah menjelang subuh dalam keadaan mabuk karena minuman keras. Sampai di rumah suami marah-marah, dalam keadaan mabuk ia pukul istri, dibanting, diinjak-injak dengan sepatu. Karena tidak tahan dengan perlakuan suami, si istri minta pasakh, dengan keputusan hakim pisah karena KDRT.
Ini contoh kecil sa’at ini bagaimana keadaan banyak rumah tangga, sering terjadi keributan, perselisihan disebabkan suami tidak bertanggung jawab, suami menghabiskan waktu siang malam di warkop dengan kawan, dengan handphone, istri tidak diberi nafkah, sampai kemudian memicu pertengkaran, perselisihan, kekerasan dan perceraian.
Warkop, Kafe Dan Rusaknya Generasi
Menjelang subuh baru pulang, atau pulang lewat tengah malam, tentunya semua orang tua khatir dengan anaknya. Ini merupakan hal yang sangat penting menjadi perhatian bersama, terutama orang tua harus senantiasa waspada dengan kehidupan anak, waspada dengan kawan-kawan anak dan lingkungan yang dia pilih anak.
Di rumah kita mendapati, anak-anak patuh dan shaleh. Namun ketika di luar rumah, sedikit orang tua yang mengetahui dengan pasti bagaimana aktivitas anak, dengan siapa ia berkawan dan apa yang dilakukan. orang tua meski khawatir namun tetap berbaik sangka, bahwa anak-anaknya bisa menjaga diri, bisa memilah dan memilih mana yang benar atau salah.
Sering kali baik sangka orang tua tidak sejalan dengan kenyataan di lapangan. Dalam temuan di lapangan terdapat anak dengan umur setingkat SMP dan SMA di warkop dan kefe di waktu siang, begitu juga malam sibuk main game online. Yang lainnya dengan kepulan asap rokok, dan vape yang memenuhi ruangan, nongkrong dengan teman sebaya, sambil tertawa tidak jelas apa yang mereka bicarakan. Ketika ditanyakan kepada kawannya, ada yang sedang memakai obat terlarang, dan minuman terlarang. Bukankah ini Sebuah kondisi yang sangat mengkhawatirkan. Apalagi jika kita melihat ada yang berbeda jenis kelamin di antara mereka pada waktu malam. Jika sudah lewat jam 12 malam apa kira-kira yang akan terjadi?
Kenapa mereka bisa demikian? Ternyata mereka ini adalah anak-anak yang kurang perhatian orang tua, mencari tempat pelarian di warkop dan kefe. Sebagian lainnya anak-anak yang terpengaruh gaya hidup yang tidak sehat dari kawan-kawan, ada juga yang kerja online, atau mengerjakan tugas kantor dan tugas kampus.
Keadaan ini tentu akan berbuntut panjang pada suatu hari nanti atau mungkin sekarangpun sudah terjadi, pergaulan malam akan melahirkan anak-anak di luar nikah seperti kita dengar dari pemberitaan, bahwa banyak kasus aborsi, banyak kasus pembuangan bayi yang baru lahir. Kejadian ini tentu sangat menyedihkan, anak-anak yang lahir tidak jelas lagi nasab dan keturunannya, akan muncul berbagai penyakit kelamin yang sangat membahayakan kehidupan, bahkan bisa mematikan, dan akan menularkan kepada orang lain, termasuk kepada orang baik-baik yang tidak berdosa, lewat perkawinan yang sah pun bisa tertular karena pernikahan tidak mempersyaratkan ada tes penyakit kelamin. Seperti kita dengar dan kita baca di berbagai media bahwa saat ini kasus HIV meningkat dengan sangat drastis di Aceh dan di berbagai daerah lainnya.
Dalam sebuah wawancara dengan mahasiswa yang sering telat masuk kuliah, kadang lupa kuliah katanya ketiduran, masuk kuliah dengan keadaan mata merah dan tidak mengerjakan tugas, mereka mengatakan menjelang subuh mereka pulang, shalat subuh hilang, katanya kelelahan main game online di warung kopi.
Seperti ini keadan generasi ke depan, haruskah warkop, kafe terutama yang remang-remang tutup setelah jam 12 malam? Menurut saya, ini tidak ada pilihan lain, jika ingin menyelamatkan generasi mendatang: “warkop, kafe, harus ditutup sebelum jam 12 malam”.
Jika ada yang masih buka setelah jam 12 malam, pemerintah dapat memberikan peringatan. Karena menjaga generasi ini penting untuk menjaga kokohnya sebuah negara, dan ini perlu kerjasama yang baik antara orang tua, pemerintah dan masyarakat.
Moga Allah jaga generasi Aceh ini dan semua generasi di negeri tercinta ini, dari kehancuran aqidah dan kerusukan akhlak.




















