Mensyukuri Nikmat Allah

TAZKIRAH—Betapa nikmat yang Allah berikan, namun apakah di antara kita mennsyukuri atas apa yang diberikan oleh Allah?

Firman Allah SWT :

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

Artinya :
“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS. An Nahl: 18)

Sesungguhnya begitu banyaknya nikmat yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada hamba-hambaNya.

Sering-seringlah merenungi segala nikmat yang telah Allah SWT anugerahkan kepada kita hamba-Nya. Kenikmatan tersebut dari hal terkecil hingga yang terbesar, semua adalah pemberian Allah.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,”Nikmat itu ada dua, nikmat muthlaqoh (mutlak) dan (nikmat) muqoyyadah (nisbi).

Nikmat muthlaqoh adalah nikmat yang mengantarkan kepada kebahagiaan yang abadi, yaitu nikmat Islam dan Sunnah. Nikmat inilah yang diperintahkan oleh Allah kepada kita untuk memintanya dalam doa kita, agar Allah SWT menunjukkan kepada kita jalan orang-orang yang Allah karuniakan nikmat itu padanya.”

Firman Allah :,

وَإِن تَعُدُّواْ نِعْمَتَ اللّهِ لاَ تُحْصُوهَا-٣٤-

Artinya :
“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.”
(QS Ibrahim 14-34)

Sesungguhnya kita pasti dimintai pertanggung jawaban tentang apa saja yang telah Allah berikan, seperti nikmat kesehatan yang sering kita gunakan untuk hal yang tidak disukai Allah.

Mata akan ditanya tentang apa yang dia lihat. Kekayaan akan di hisab, untuk apa dia digunakan.

Dari keterangan singkat Ibnul Qayyim rahimahullah di atas, maka jelaslah bagi kita tentang, ”Apakah nikmat Allah yang hakiki itu?”. Nikmat Allah yang hakiki itu tidak lain dan tidak bukan adalah ketika Allah Ta’ala memberikan hidayah-Nya kepada kita sehingga kita dapat mengenal Islam dan Sunnah serta mengamalkannya.

Kita dapat mengenal tauhid, kemudian mengamalkannya dan dapat membedakan dari lawannya, yaitu syirik, untuk menjauhinya. Kita dapat mengenal dan mengikuti sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam, dan dapat membedakan dan menjauhi lawannya, yaitu bid’ah.

Kita pun dapat mengenal dan membedakan, mana yang termasuk ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, dan manakah yang maksiat?

Sesungguhnya, Allah SWT menegaskan bahwa nikmat hidayah-Nya merupakan kenikmatan yang paling utama dibandingkan berbagai kenikmatan lainnya.

Allah SWT berfirman:,

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيْرِ وَمَاۤ اُهِلَّ لِغَيْرِ اللّٰهِ بِهٖ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوْذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيْحَةُ وَمَاۤ اَكَلَ السَّبُعُ اِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْ ۗ وَمَا ذُ بِحَ عَلَى النُّصُبِ وَاَنْ تَسْتَقْسِمُوْا بِالْاَزْلَامِ ۗ ذٰ لِكُمْ فِسْقٌ ۗ اَلْيَوْمَ يَئِسَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ دِيْـنِكُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِ ۗ اَ لْيَوْمَ اَكْمَلْتُ لَـكُمْ دِيْنَكُمْ وَاَ تْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَـكُمُ الْاِسْلَامَ دِيْنًا ۗ فَمَنِ اضْطُرَّ فِيْ مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لِّاِثْمٍ ۙ فَاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ‏

artinya :
“……….Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku dan telah Aku ridhai Islam sebagai aturan hidupmu.”
(QS Al-Maa`idah: 3)

Betapa besar kenikmatan yang Allah SWT limpahkan kepada manusia; ketika Dia mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya Islam dan memberinya petunjuk kepada agama yang Dia ridhai.

Mensyukuri nikmat Allah dalam kehidupan sehari-hari adalah dengan melaksanakan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yaitu menjalankan segala perintah-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya.

Ketahuilah bahwasannnya Allah mencintai orang-orang yang bersyukur. Hamba yang bersyukur merupakan hamba yang dicintai oleh Allah Ta’ala.

Ada beberapa hal dalam bersyukur;
(1) Bersyukur dengan hati adalah dengan meyakini dan mengakui bahwa segala nikmat tersebut adalah semata-mata berasal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, adapun peran manusia hanyalah sebagai perantara sehingga semua yang terjadi adalah atas izin Allah Ta’ala.
Firman Allah SWT :

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ

Artinya :
“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya)”.
(QS. An Nahl: 53)
(2) Bersyukur dengan lisan, yakni lisannya akan senantiasa digunakan untuk banyak dalam berdzikir, senantiasa memberikan pujian atas nikmat Allah, membicarakan kepada orang lain tentang nikmat yang Allah berikan kepadanya adalah sebagai bentuk rasa syukur.

Firman Allah SWT:

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ

Artinya :
“dan terhadap nikmat Rabbmu, maka hendaklah kamu nyatakan (dengan bersyukur).”
[QS Adh Dhuha: 11]

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ

Artinya :
“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya)”.
(Qs. An Nahl: 53)

Semua itu dalam rangka menggapai tujuan utama penciptaan manusia, yaitu menyembah atau beribadah kepada Allah SWT. Karena itu, manusia akan meraih kebahagiaan di dunia dan mendapatkan pahala kebaikan di akhirat kelak.

(3) Bersyukur dengan anggota tubuh, bersyukur dengan anggota tubuh artinya menggunakannya untuk melaksanakan berbagai ketaatan kepada Allah ta’ala dan tidak digunakan untuk kemaksiatan. Seluruh anggota badan digunakan untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, melaksanakan perkara-perkara yang telah diwajibkan Allah dan menjaga sunnah-sunnah Rasulullah.

Sungguh, kenikmatan Allah SWT sangat banyak. Namun, satu-satunya kenikmatan yang paling utama untuk kita adalah nikmat Islam dan Iman serta hidayah untuk menyembah-Nya dan menTauhidkan-Nya, maka jadilah hamba yang pandai bersyukur.