Suasana begitu akrab seolah ini pertemuan lanjutan. Dengan sigap dan sistematis ketua IGI menyampaikan program literasi untuk kota Lhokseumawe. Bapak wakil walikota yang duduk tegak lurus di depan penulis menganguk-angguk setuju… subhanallah….!
Penyampaian program literasi kota Lhokseumawe disambut hangat dan penuh semangat olehnya. Mendengar sambutan tersebut penulis dan pengurus IGI seperti disuntik serum antibodi dan antibiotik. Semangat literasi yang kami gagas menjadi motivasi awal dalam menggerakkan kegiatan mencerdaskan anak bangsa.
Melalui bahasa yang khas beliau menyatakan bahwa, pihaknya mendukung seratus persen tentang gerakan literasi kota Lhokseumawe yang diprakarsai oleh Ikatan Guru Indonesia ( IGI).
Kepeduliannya tentang literasi kota Lhokseumawe ternyata bukanlah pepesan kosong. Ini dibuktikan dengan antusiasnya beliau mengikuti dan menghadiri setiap rangkaian kegiatan yang sudah dirancang IGI, baik melalui kegiatan sagusaku dan program literasi lainnya yang ada di kota Lhokseumawe.
Selain itu, bapak wakil walikota Lhokseumawe juga punya visi yang brilian. Beliau sudah menanamkan budaya literasi dalam beberapa program yang dipaparkan.
Progam yang paling memotivasi penulis dan kawan kawan IGI adalah menjadikan Lhokseumawe sebagai kota pendidikan. Program ini merupakan hal yang sangat mulia dalam mencerdaskan anak bangsa.
Di samping berbagai julukan yang dimiliki oleh kota tersebut , julukan kota pendidikan merupakan impian bagi semua warga kota Lhokseumawe.
Sepintas secara geografis kota Lhokseumawe memang kecil ( hanya terdiri atas empat kecamatan )beliau menambahkan dengan populasi sebanyak 200,.000 ribu didukung oleh dua perguruan tinggi negeri dua universitas swasta , lima sekolah tinggi dan Akademi dengan berbagai disiplin ilmu serta sekolah menengah atas dan kejujuran yang luar biasa. Bukanlah isapan jempol bagi Lhokseumawe untuk menetas dari kepompong menuju kota pendidikan.



















