Opini,kabardaily.com – Kuah Beulangong, siapa yang tidak merasakan kelezatan bumbu khasnya. Masakan khas Aceh yang menjadi kegemaran masyarakat tidak hanya warga Aceh bahkan Nusantara. Tidak hanya itu, sajian kuah ini menjadi kuliner yang dibawa dalam ajang expo budaya dan kuliner tingkat negara.
Bila dilihat sajian kuahnya cukup menggoda, karena bumbu yang melimpah hingga aromanya tercium kesetiap orang yang lewat diwarung-warung penjual kuah.
Tak heran, hampir disetiap sudut jalan diseputaran Banda Aceh dan Aceh Besar, sajian kuah beulangong tersedia disetiap warung rumah makan layaknya warkop (warung kopi) dan ramai disinggahi setiap waktu istirahat dan makan siang.
Namun, bila kita cicipi, ternyata kuah Beulangong telah bermetamorfosis tidak hanya sekedar bumbu alami yang melimpah disajikan, akan tetapi ditambahi dengan bumbu instans berupa micin (penyedap rasa). Apakah bumbu alami menjadi tidak menawarkan rasa yang menggugah selera, sehingga para koki (juru masak) tetap menaruh micin sebagai bumbu masaknya ?
Micin (Monosodium Glutamat/MSG) adalah salah satu zat kimia berupa garam natrium dan asam amino yang bila dikonsumsi berlebihan dapat membahayakan bagi kesehatan tubuh. MSG dalam jumlah yang berlebihan kemungkinan berdampak pada gangguan kesehatan khususnya otak, peningkatan tekanan darah dan diduga dapat memicu kanker. Akan tetapi, masih belum banyak studi yang melaporkan tentang hubungan antara MSG dengan gejala-gejala yang terjadi pada diri manusia.
MSG mungkin berbeda dengan penyedap rasa pada umumnya seperti garam dan rempah alami lainnya, karena kandungannya dapat menguatkan rasa pada bumbu masakan kuah beulangong.
Penggunaan dengan takaran tertentu, dianggap tidak membahayakan. Di Eropa, para ahli memberikan takaran tertentu yang disarankan dapat diberikan pada bumbu masakan berkisar antara 5 – 12 gram perharinya. Di Indonesia, penyajian MSG telah diatur oleh pemerintah. Merujuk pada peraturan menteri kesehatan No. 033 Tahun 2012 dan peraturan badan pengawasan obat dan makanan RI No. 23 Tahun 2013 ditegaskan mengenai batasan atau takaran maksimum yang dapat ditolerir dalam memberikan MSG untuk penguat rasa pada makanan termasuk kuah beulangong. Bahkan, WHO (World Health Organization/Badan Dunia Kesehatan) telah menetapkan batasan takaran yang aman diterima oleh tubuh manusia yaitu antara 0 – 120 mg per kilogram berat badan.
Sudah saatnya bagi para penikmat kuah beulangong khususnya, agar dapat mengatur untuk mengkonsumsi kuah beulangong khususnya bagi penjual kuah beulangong yang membubuhkan tambahan MSG dalam bumbu masaknya. Tidak hanya itu, juru masak pun juga diharapkan dapat menyuguhkan makanan yang sehat dan alami serta menakar dengan baik MSG pada bumbu masakannya, agar kuah beulangong tetap sedap dilidah dan aman dikonsumsi para penikmat kuah.
Rahmad Julianto, S.Kep, MNS
Wakil Ketua Prokami Aceh dan Dosen Fakultas Psikologi UIN Ar-Raniry Banda Aceh




















