Antara Jiwa, Penyair dan Puisi

Oleh : Muklis Puna

OPINI—Apakah pernyair bekerja dengan jiwa? Itulah pertanyaan dominan yang muncul dalam dunia perpuisian kita. Banyak anggapan bahwa setiap puisi dilahirkan dari ledakan hebat yang menguncang bathin penyair. Guncangan bathiniah yang begitu dahsyat akan meluapkan jutaan lahar panas dan dingin melalui lereng lereng imajinatif, lalu mengubah struktur bumi karya dengan berbagai tumbuhan dan dikmati oleh para petani kopi dalam setiap cangkir kopi. Secara psikologi mengacu pada Freud bahwa puisi itu lahir dari jiwa.

Mungkin tanpa jiwa, puisi takkan pernah ada. Lalu apa sih jiwa itu dan apa beda dengan roh. Pertanyaan ini membutuhkan sebuah kajian mendalam. Secara harfiah jelas tampak perbedaan antara roh dan jiwa. Sejak roh ditiupkan pada rentang janin dalam kandungan disitulah jiwa mulai bekerja. Roh sering diartikan dengan nyawa, akan tetapi jiwa tidak pernah digantikan dengan nyawa. Agar lebih mudah memahami, penulis coba menglustrasikan dalam kalimat berikut ” asahlah jiwamu pada tingkat sempurna” tapi kalimat asahlah rohmu/ nyawa ketingkat sempurna’ kalimat ini tidak berterima.

Mengingat perdebatan antara roh dan jiwa begitu kontroversial. Mari kiita cermati kembali kalimat pembuka esai ini. Setiap penyair bekerja dengan jiwa dalam menuangkan puisi. Warren dan Wellek (1986) bahwa pada dasarnya penyair adalah seorang pelamun. Setiap lamunan diracik dengan bahasa berbentuk abstrak sebelum dituangkan di atas kanvas dalam wujud puisi dengan segala unsur membangunnya. Di sini tampak bahwa arus bawah sadar seorang penyair sangat mempengaruhi sebuah karya yang dihasilkan.

Dalam kajian psikologi sastra disebutkan bahwa kepribadian manusia dibagi tiga yaitu id, ego, dan super ego. Ketika ketiga tersebut dibongkar dalam sisi gelap yang disembunyikan penyair, maka dapatlah diketahui bagaimana jiwa jiwa penyair dalam menyelami sebuah masalah. Dewasa ini pemerhati sastra beranggapan bahwa si penyairlah yang mampu memahami tentang puisi yang diungkapkan. Dalam hal ini penulis meragukan hal tersebut, mengingat ada beberapa kajian yang dipaparkan dan dikonfirmasi kepada penyair selalu saja mengalami kebuntuan. Mungkin subyektivitas seorang penyair diuji tentang kepribadiannya dalam karya. Mungkin juga karena penyair bekerja di luar arus kesadaran, sehingga dia tidak mengetahui apa yang telah diungkapkan..he.he ( mungkin ada benar juga ya)

Selanjutnya, kalau semua puisi dilahirkan dari jiwa penyair berdasarkan pengalaman bathiniah. Bagaimana dengan puisi yang bertemakan tentang kehidupan sosial.

Misalnya puisi pengemis, Khairil Anwar, apakah penyair secara bathin dan jiwanya sudah mengalami hal tersebut? Untuk meluruskan pemahaman tersebut ada dalam kajian refleksi sastra yang berkorelasi dengan sosiologi sastra. Dalam kajian refleksi sastra dikemukakan bahwa refleksi sastra merupakan cerminan yang ada dalam kehidupan sosial. Cerminan ini diwujudkan oleh penyair melalui kepekaan penyair. Hal ini membuktikan bahwa seorang penyair tidak selamanya bekerja secara egois. Biasanya penyair menyuarakan tentang kesenjangan yang terjadi dalam kehidupan sosial dan budaya. Mungkin pembaca sudah mengenali penyair penyair nasional yang peka terhadap hal hal tersebut. Misalnya, Pramoedya Ananta Toer harus keluar masuk penjara sebanyak tujuh kali mulai zaman penjajahan, zaman kemerdekaan dan bahkan zaman orde baru.

Nah, dalam refleksi sastra penyair menjadikan dirinya sebagai agen perubahan dalam kehidupan berbangga dengan segala konsekuensi yang harus diterima.

Ditinjau dari uraian di atas dapat ditarik beberapa hal yang berhubungan antara penyair dan puisi. Ternyata setiap puisi yang ditulis penyair tidak selamanya bersumber dari jiwanya, jika dilihat dari refleksi sastra. Selanjutnya puisi yang ditulis oleh penyair belum tentu dipahami benar maknanya oleh penyair itu sendiri,( agak kontroversi) dengan pikiran publik selama ini.

Ketika postingan puisi disajikan penyair di dunia maya. Tanpa analisis dan kajian pembaca langsung menohok penyair dengan statemen bahwa penyair lagi….
atau penyair mau…. Sebagai apresiasi awal bagi penyair itu sah sah saja agar motivasi berkarya lebih maju. Demikian , tulisan ini hanya mengantarkan pandangan penulis dalam mengamati penyair dan puisinya.