Hujan yang Mengambil Segalanya

  • Karya Agnes, Siswi SMA Negeri 1 Lhokseumawe

KABARDAILY.COM  –   Namanya Dini, siswi kelas XI di sebuah SMA negeri di pinggiran Lhokseumawe. Semua orang mengenalnya sebagai anak yang ceria, aktif di kelas, dan selalu mendapat nilai terbaik. Ia bukan berasal dari keluarga kaya—rumahnya hanya gubuk kecil yang terbuat dari kayu tua di dekat bantaran sungai, dan ayahnya bekerja sebagai buruh bangunan serabutan. Namun satu hal yang membuat hidup mereka istimewa adalah keluarga yang harmonis dan penuh tawa. Meski sederhana, rumah itu selalu dipenuhi suara canda, doa, dan hangatnya kebersamaan.

Dini sangat menyukai hujan. Baginya, suara rintik-rintik air di atap seng adalah musik paling indah yang bisa menenangkan hatinya. Setiap kali hujan tiba, ia akan duduk di tangga rumah, memeluk lutut dan tersenyum kecil sambil menatap langit.

Hari itu, ketika tetes pertama mulai jatuh dari awan kelabu, Dini berkata dengan riang kepada ibunya: “Ibu, aku suka sekali bau hujan hari ini. Rasanya damai banget.”

Ibunya tersenyum, mengusap kepala Dini. “Hujan itu berkah, Nak. Semoga membawa rezeki dan kebaikan.”

Namun tidak ada yang tahu bahwa hari itu adalah awal dari sesuatu yang akan mengubah segalanya.

Hujan turun tanpa jeda. Hari pertama masih terasa biasa. Hari kedua mulai menimbulkan cemas. Memasuki hari ketujuh, matahari tidak pernah sekalipun terlihat. Langit gelap sepanjang hari. Sungai di belakang rumah mulai meluap pelan, namun warga masih berharap semuanya akan baik-baik saja.

Dini yang awalnya menikmati suara hujan kini mulai merasa ketakutan. Di luar, air naik perlahan, merayap masuk ke pekarangan. Angin kencang membuat dinding kayu berderit.

“Ayah, apa banjirnya akan besar?” Dini bertanya gemetar.

Ayahnya tersenyum menenangkan, meski sorot matanya menunjukkan kecemasan yang ia sembunyikan. “Tenang, Dini. Ayah ada di sini. Tidak akan terjadi apa-apa.”

Tapi malam itu, doa mereka seolah tidak cukup untuk menghentikan amukan alam.

Air sungai tiba-tiba menerjang dengan sangat kuat, menghantam dinding kayu rapuh rumah mereka. Dalam hitungan menit, lantai rumah dipenuhi air setinggi lutut. Perabotan mengapung, barang-barang terjatuh dan terhempas kesana kemari. Baju-baju terendam lumpur. Foto keluarga hanyut entah ke mana.

“Cepat naik ke atap!” teriak ayah Dini.

Ayah menggendong adik Dini yang masih kecil, sementara Dini dan ibunya merangkak menuju atap melalui loteng kecil di bagian belakang rumah. Air terus naik, semakin deras dan semakin tinggi. Rumah mereka mulai bergoyang, seperti akan roboh kapan saja.

Di tengah kepanikan, suara kayu patah terdengar keras—dinding belakang jebol diterjang arus. Air menghantam tubuh ayah Dini dengan keras, membuatnya terseret ke luar rumah.

“AYAH!” jerit Dini, tangannya terulur mencoba meraih.

Ayahnya berusaha berenang melawan arus, tangannya terangkat, mencoba mencapai mereka. Wajahnya benar-benar ketakutan.

“Jaga ibu dan adikmu… Dini!” teriaknya sebelum tubuhnya hilang ditelan derasnya air dan gelapnya malam.

Jeritan Dini memecah langit yang dipenuhi hujan. Tubuhnya gemetar hebat, matanya terasa panas oleh air mata dan ketakutan. Ibunya memeluknya kuat-kuat meski sama-sama menangis.

Rumah mereka akhirnya roboh total. Mereka berhasil diselamatkan warga yang datang dengan perahu karet. Namun tidak ada lagi yang bisa diselamatkan: pakaian hanyut, buku-buku sekolah rusak, kasur terendam lumpur, dan foto keluarga hanya menjadi kenangan samar.

Yang paling tidak bisa digantikan adalah kehilangan seorang ayah.

Seminggu setelah banjir surut, Dini berdiri di tempat di mana rumahnya pernah berdiri. Kini hanya tersisa lumpur, kayu patah, dan puing-puing yang tak lagi berbentuk. Ia menggenggam sobekan kecil foto ayah yang ditemukan menempel pada pecahan papan.

Ia mengusap foto itu, lalu menatap langit mendung di atasnya.

“Dulu aku bilang hujan itu indah… tapi hujan mengambil segalanya dariku.”

Air matanya jatuh, bercampur dengan sisa-sisa banjir. Namun di dalamnya, ada cahaya kecil tekad yang tumbuh.

“Tapi Ayah… aku akan tetap kuat. Aku akan sekolah lagi. Aku akan bangkit. Ayah pasti mau aku terus tersenyum, kan?”

Angin berhembus pelan, seolah menjawab.

Dan untuk pertama kali, Dini tersenyum sangat pucat—senyum seorang anak berusia 16 tahun yang kehilangan segalanya dalam satu malam, namun masih memilih untuk tetap berdiri.

Lhokseumawe, 6 Desember 2025