- Oleh: Mukhlis Aminullah, aktivis literasi/kontributor kabardaily.com
KABARDAILY.COM – Rabu pagi, langit di atas Jeunieb berwarna biru lembut. Sinar matahari menembus pepohonan di halaman SMK Negeri 1 Jeunieb, memantul di dinding kaca Seulanga Meeting Room. Di dalam ruangan itu, suasana tampak berbeda dari biasanya. Tak ada pembahasan tentang luasnya laut dan segala isi didalamnya. Tidak juga membahas tentang perikanan. Yang terdengar adalah kata-kata lembut, dalam, dan penuh makna.
Pada Rabu yang cerah, 15/10/2025, penyair nasional LK Ara berkunjung ke SMK Negeri 1 Jeunieb dalam rangka program “Penyair Nasional Saweue Sikula”, sebuah kegiatan yang difasilitasi oleh Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah I Kementerian Kebudayaan. Ia datang untuk menyulut “api” puisi. Tujuannya untuk menumbuhkan semangat literasi dan apresiasi sastra di kalangan pelajar.
Ini merupakan hari kedua saya ikut mendampingi LK Ara, setelah dua hari lalu kami ikut acara serupa di SMA Negeri 2 Bireuen.
Kedatangan kami ke sekolah ini disambut hangat oleh para guru, pelajar, dan kepala sekolah.
Ruang Pertemuan yang Menjadi Taman Kata
Di dalam Seulanga Meeting Room, suasana terasa syahdu. Ruangan itu dihiasi oleh perbedaan warna baju seragam para pelajar. Menurut info dari seorang guru, warna berbeda itu menunjukkan jurusan yang mereka ikuti. Spanduk bertuliskan “Penyair Nasional LK Ara Saweue Sikula” menghiasi dinding. Dari depan ruangan, LK Ara memandang sekeliling dengan senyum lembut. Ia tampak bahagia menyaksikan wajah-wajah muda yang duduk rapi, menunggu giliran membaca puisi.
“Ruang ini seperti taman kata,” ucap LK Ara pelan, sesaat sebelum acara dimulai.
“Saya bisa merasakan semangat yang tumbuh dari guru dan murid di sekolah ini. Di sinilah kata menemukan rumahnya.”
Ketika ia memulai, dengan membaca sebuah puisi khusus yang ditulis spontan saat itu, suasana berubah menjadi khusyuk. Kemudian dilanjutkan, lima pelajar tampil pertama, membacakan karya mereka sendiri maupun puisi-puisi pilihan penyair Indonesia.
Mereka datang dari berbagai jurusan: teknik permesinan, teknika kapal penangkap ikan, hingga tata busana, namun di atas panggung, semua perbedaan itu melebur dalam satu bahasa: bahasa puisi.
Beberapa suara masih terdengar bergetar, tapi justru di situlah keindahan muncul. Getar itu bukan tanda gugup, melainkan tanda kehidupan, bahwa kata-kata yang diucapkan benar-benar keluar dari hati.
Suara mereka membawa ketenangan, kadang getir, kadang membuncah seperti ombak di pesisir Bireuen.
Kepala Sekolah yang Menyemai Kreativitas
Kepala SMK Negeri 1 Jeunieb, Feri Irawan, S.Si., M.Pd., yang turut hadir sepanjang acara, tampak bangga menyaksikan semangat murid-muridnya.
“Kami sangat berterima kasih atas kehadiran penyair nasional seperti LK Ara,” ujarnya saat ditemui usai kegiatan.
“Kehadiran beliau menjadi inspirasi bagi anak-anak kami. Sekolah vokasi tidak hanya mendidik keterampilan teknis, tetapi juga karakter dan kreativitas. Hari ini, kami melihat bagaimana seni dan teknologi bisa berjalan beriringan.”
Menurut Feri, kegiatan literasi seperti ini menjadi salah satu upaya sekolah untuk menyeimbangkan kecerdasan intelektual dan emosional peserta didik.
“Sastra mengajarkan empati dan imajinasi,” lanjutnya.
“Dan itu sama pentingnya dengan kemampuan berpikir logis di dunia kerja.”
Suara Muda dari Seulanga Meeting Room
Helmiza, salah seorang guru muda energik membacakan sebuah puisi khusus berjudul “Nyala Lentera Sastra” yang khusus ia tulis untuk LK Ara. Ia tampil memukau, sehingga para pelajar memintanya membacakan sebuah puisi dari LK Ara.
“Senang sekali saya hari ini,” sebut guru pembina Pramuka ini.
Ia bercerita bahwa sebelumnya tak terfikirkan bahwa sosok sastrawan asal Gayo tersebut bisa bertatap muka dengan mereka dalam agenda baca puisi. Dan puisi yang ia tulis tersebut berisi kekagumannya pada pria 88 tahun tersebut.
“Saya ingin menulis tentang Bapak Ara,” kata Helmiza.
“Saya ingin tercatat bahwa dari tempat kecil seperti Jeunieb pun, bisa lahir kata-kata besar, khususnya terkait sosok penting seperti ayah LK Ara.” lanjutnya.
Selain Helmiza, tampil juga adalah Dahliani, S.Pd, M.M yang membacakan puisi berjudul “Nuansa Seni di Jeunieb” karyanya sendiri. Puisi yang ia tulis secara spontan tersebut juga menggambarkan tentang sosok legenda hidup LK Ara. Suaranya lembut, tapi tegas. Ia membaca tanpa banyak gerak, hanya menatap jauh ke depan seolah berbicara pada seseorang yang tak tampak.
Setelah acara usai, Dahliani masih tampak menyimpan debar di dadanya.
“Saya tidak pernah menyangka bisa membaca puisi di depan LK Ara,” ujarnya sambil tersenyum malu.
“Rasanya campur aduk: gugup, bangga, senang. Tapi ketika beliau menatap dan mengangguk saat saya membaca, saya merasa seperti mendapat restu untuk terus menulis.”
Makna yang Tertinggal
Acara berlangsung lebih dari dua jam. Tawa dan tepuk tangan bersahut-sahutan, namun di sela-selanya selalu ada hening-hening yang penuh makna, ketika kata-kata dari puisi masih menggema di benak hadirin.
Di akhir acara, LK Ara menutup pertemuan dengan sebuah pesan sederhana.
“Menulislah,” katanya.
“Karena dari kata, kita belajar mengenali diri sendiri. Dari kata, kita bisa membangun jembatan menuju masa depan.”
Ketika hadirin berdiri dan bertepuk tangan, cahaya sore mulai masuk melalui jendela besar Seulanga Meeting Room. Di balik kaca, terlihat taman sekolah yang hijau. Seolah alam pun ikut menyimak, menyaksikan bagaimana sebuah ruang belajar berubah menjadi ruang makna, tempat di mana puisi, teknologi, dan kehidupan saling bersalaman.
Program Saweue Sikula hari itu berakhir dengan foto bersama, namun gema kata-kata LK Ara tetap tertinggal. Ia tak hanya menanamkan cinta pada sastra, tapi juga menumbuhkan keyakinan bahwa setiap siswa, dari mana pun asalnya, memiliki kisah yang pantas ditulis dan dibacakan.
Dan di Jeunieb, Rabu pagi, kata-kata benar-benar tumbuh. Saya bangga menjadi salah satu saksi penting sastra yang telah menjadi nafas bagi SMK Negeri 1 Jeunieb.




















