KABARDAILY.COM,Aceh, Prof. Dr. Wildan, M.Pd., menerima audiensi dari Ketua Komunitas Tikar Pandan, Yulfa, S.H., M.H., pada Senin (27/4/2026). Pertemuan berlangsung di ruang Rektor ISBI Aceh dalam suasana hangat dan penuh semangat kolaboratif untuk pengembangan seni budaya Aceh.
Dalam audiensi tersebut, Rektor ISBI Aceh didampingi oleh Kepala UPA Ajang Gelar dan Dokumentasi Budaya Aris Munandar, M.Ag., Ketua Jurusan Seni Rupa dan Desain Ichsan, M.Sn., serta Kepala UPA Pengembangan Karier dan Kewirausahaan Anni Kholilah, M.Sn dan Koordinator Pusat Humas dan Kerjasama, Achmad Zaki, M.A. Sementara itu, Ketua Komunitas Tikar Pandan turut didampingi oleh Medya Hus dan Dimas.
Pertemuan ini secara khusus membahas peluang kerja sama strategis antara ISBI Aceh dan Komunitas Tikar Pandan dalam rangka pemajuan seni budaya Aceh. Kedua pihak menilai pentingnya sinergi antara institusi akademik dan komunitas kreatif dalam menjaga, mengembangkan, serta mempromosikan kekayaan budaya lokal di tengah arus globalisasi.
Rektor ISBI Aceh, Prof. Dr. Wildan, M.Pd., menyambut baik inisiatif tersebut dan menegaskan komitmen kampus dalam mendukung kolaborasi lintas sektor.
Menurutnya, keterlibatan komunitas menjadi elemen penting dalam menghidupkan ekosistem seni yang berkelanjutan.
“Sebagai rumah bagi seniman dan budayawan, ISBI Aceh membuka ruang seluas-luasnya untuk kolaborasi dengan komunitas seni. Kami percaya bahwa penguatan budaya tidak bisa dilakukan sendiri, tetapi harus melalui kerja bersama yang terarah dan berkelanjutan,” ujar Prof. Wildan.
Lebih lanjut, ia menyebutkan bahwa kerja sama ini diharapkan dapat menghadirkan program-program kreatif yang tidak hanya berdampak pada pengembangan seni, tetapi juga pemberdayaan masyarakat, khususnya generasi muda di Aceh.
Sementara itu, Ketua Komunitas Tikar Pandan, Yulfa, S.H., M.H., menyampaikan apresiasinya atas sambutan yang diberikan oleh pihak ISBI Aceh. Ia menilai kolaborasi ini sebagai langkah strategis untuk memperluas jangkauan gerakan komunitas dalam mengangkat nilai-nilai budaya lokal.
“Kami melihat ISBI Aceh sebagai mitra yang sangat potensial dalam membangun ekosistem seni yang inklusif. Kolaborasi ini diharapkan mampu melahirkan ruang-ruang kreatif baru yang mempertemukan akademisi, seniman, dan masyarakat,” ungkap Yulfa.
Sebagai tindak lanjut dari pertemuan tersebut, kedua pihak sepakat untuk segera merealisasikan kolaborasi dalam kegiatan Festival Sri Musim Lampuuk yang akan digelar dalam waktu dekat. Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal dari berbagai program kerja sama yang lebih luas dalam upaya pemajuan seni budaya Aceh.




















