Anita sebenarnya malas berdebat dengan Indri, namun dia menjawab juga.
“Indri, loe tuh yang seharusnya banyak belajar. Tolong ya loe baca deh. Googling kek apa kek, loe cari deh. Yang barusan loe ucapkan itu apa. Loe sedang mengkritik, memberi saran, atau justru menghina. Jangan segala sesuatu berdasarkan opini sendiri. Loe itu tidak sedang mengkritik atau memberi saran, tapi loe menghina soto. Kenapa? Karena loe nggak suka makan soto. Jadi mau gimanapun, ya tetap aja soto itu buruk dimata loe yang kabur itu. Terus, belajarlah untuk melatih mulut loe agar mengeluarkan kata-kata yang baik, meskipun loe nggak suka terhadap sesuatu atau seseorang. Gue juga nggak suka sop loe, tapi gue gak ampe segitunya menghina loe atau sop loe. Buat gue, kalo gue nggak suka, ya udah gue tinggalin, gue pilih yang gue suka. Simpel kan?” Anita panjang lebar menjawab omongan Indri yang menurutnya sudah keterlaluan.
Lagi-lagi Indri bersikukuh dengan pendapatnya. Meskipun Anita sudah menyatakan kekesalannya, dia tidak mau diam dan kalah begitu aja.
“Egois banget sih loe, Nit. Gue kan Cuma nawarin sop. Soto itu nggak mutu, soto itu…”
“STOP! Gue udah gak nafsu makan. Gue pulang duluan. Loe makan aja sop loe sendiri!” Anita memotong omongan Indri, dan dia berdiri beranjak pergi.
Penulis : Suafrida Rahmah



















