SOP_VS_SOTO

“Sop itu lebih menyehatkan dan menyegarkan daripada soto. Karena sop tidak menggunakan santan yang mengandung kolesterol jahat. Buat gue rasa soto itu aneh. Kok ada ya orang yang suka makan soto?” Dia melirik Anita.

Anita tidak menanggapi jawaban Indri. Karena dia tahu persis kalau temannya yang satu ini suka sekali berdebat dan tidak pernah mau kalah. Setiap kali dia memiliki opini, selalu saja memaksakan opininya diterima orang lain dan kalau bisa semua teman-temannya harus mengikuti semua opininya.

Melihat Anita diam, Indri merasa senang. Diamnya seseorang menurut Indri berarti, kalah. Dia pun melanjutkan.

“Mendingan loe pesan sop aja. Gue deh yang traktir kalo loe mau pesan sop, barengan ama gue. Gimana?” Indri meletakkan tangannya ke bahu Anita yang mengalihkan pandangan ke arah jalan raya.

“Makasih deh, Ndri. Tapi gue nggak begitu suka sop,” Anita membalas ucapan Indri dengan nada yang kurang suka dan senyum yang sedikit dipaksakan.

“Ceile, cinta banget ama soto. Gue kalo ditawarin soto pasti muntah deh. Makanan sampah. Setan aja gue pikir ogah makan soto. Karna setan sekarang takut kolesterol dan lemak jahat!” Indri mulai mengeluarkan kata-kata yang memang sudah jadi kebiasaannya. Setiap kali dia tidak menyukai sesuatu dia pasti akan mengucapkan kata-kata yang tidak pantas.

“Loe bisa nggak sih Ndri belajar untuk menghargai perbedaan? Nggak semua kesukaan yang jadi pilihan loe harus loe paksakan ke orang lain. Maksud loe gue pemakan sampah gitu?” Anita mulai jengah dengan kata-kata Indri yang terkesan memojokkan.

Bukan Indri namanya kalau tidak bisa membuat orang lain illfeel. Bukannya merasa bersalah dengan kata-katanya barusan, dia justru semakin merasa di atas angin.

“Loe tuh yang anti kritik. Maksud gue kan bagus, kasih saran buat loe, supaya makan makanan yang tidak mengandung santan. Santan itu jahat. Bisa membunuh loe. Loe sih yang gak mau denger saran gue. Dan gue gak bilang loe setan kok. Gue itu ngomong apa adanya. Loe aja yang baperan ma omongan gue. Maksud gue kan bukan loe. Tapi, setan,” Indri tersenyum sinis ke Anita.