Pameran “Building Bridges” Hadirkan Kolaborasi Seni Indonesia-Belanda di Erasmus Huis

JAKARTA,KABARDAILY.COM  – Pameran Building Bridges, hasil dari workshop Art in Motion (AiM) Culture Forward, resmi digelar di Erasmus Huis, Jakarta. Pameran ini menampilkan prototype karya seni kolaboratif yang diciptakan oleh 9 mahasiswa seni dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia dan 4 mahasiswa dari Belanda. Hasil kolaborasi ini akan berlanjut dalam bentuk instalasi seni yang rencananya akan dipamerkan dalam perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia ke-80 pada 17 Agustus 2025.

Beberapa karya yang dipamerkan antara lain Whisper of Buitenzorg, yang melambangkan hubungan sejarah melalui simbol bunga bangkai khas Indonesia dipadu padankan dengan ukiran Death blue khas Belanda; Spinning Histories and Dancing Futures, sebuah patung zoetrope yang menggabungkan elemen logam asli, tarian tradisional, dan motif tenun Indonesia; serta Radiance of Unity, instalasi seni kurungan ayam bertema flora dan fauna sebagai simbol keberagaman dan kebersamaan.

Sebelumnya, Workshop Art in Motion (AiM) Culture Forward digelar pada 10-11 Februari 2025 di Erasmus Huis, Kedutaan Besar Kerajaan Belanda di Jakarta. Acara ini bertujuan mempererat hubungan budaya Indonesia dan Belanda melalui seni serta menjadi wadah bagi seniman muda untuk berkolaborasi dan berbagi gagasan kreatif.

Workshop dibuka pada Senin (10/02) oleh Direktur Erasmus Huis, Nicolaas de Reg, serta dihadiri oleh Duta Besar Belanda untuk Indonesia, Marc Gerritsen. Kegiatan ini terdiri dari beberapa tahapan, yakni pre-workshop, workshop utama, dan pameran. Pada tahap pre-workshop, para peserta membuat Inspiration Board bertema masa depan cerah bagi Indonesia dan Belanda. Melalui kolase, mereka menggambarkan visi dan harapan terhadap hubungan kedua negara. Ide-ide tersebut kemudian dikembangkan menjadi prototipe karya seni yang dipamerkan di Erasmus Huis.

Rektor ISBI Aceh menyampaikan apresiasinya atas partisipasi mahasiswa ISBI Aceh dalam kegiatan ini. “Keterlibatan mahasiswa ISBI Aceh dalam pameran Building Bridges menunjukkan bahwa seni memiliki kekuatan untuk menghubungkan berbagai budaya. Ini adalah kesempatan bagi mahasiswa kami untuk memperluas wawasan internasional dan berkontribusi dalam dialog budaya global,” ujarnya.

Shopia Nurul Azizah, mahasiswa Program Studi Seni Tari, sebagai perwakilan ISBI Aceh mengungkapkan bahwa kegiatan ini merupakan kesempatan yang sangat berharga. “Kegiatan seperti ini menjadi kesempatan yang berharga, sebagai mahasiswa seni dapat berkolaborasi dengan teman-teman kampus seni lainnya dalam menggabungkan berbagai ide kreatif”, ujarnya.

Dalam workshop ini, Shopia berkolaborasi dengan 4 mahasiswa seni dari Indonesia dan Belanda, yakni Michael Christian (ISBI Bandung), Athallah Oktifanzha (STKW Surabaya), Cliff Vonk (Royal Academy of Art, Den Haag), dan Cailey Beerendonk (Maastricht Institute of Arts). Mereka menciptakan sebuah patung zoetrope berjudul Spinning Histories and Dancing Futures, yang menghubungkan budaya kedua negara melalui perpaduan logam asli, tarian tradisional, serta figur yang terinspirasi dari motif tenun Indonesia. Berasal dari latar belakang seni yang beragam, karya ini menghubungkan budaya Indonesia dan Belanda melalui perpaduan logam asli, tarian tradisional kedua negara, serta figur yang terinspirasi dari motif tenun Indonesia.

Bentuk cincin bertumpuk yang dapat berputar menciptakan koreografi yang terus berubah, melambangkan dinamika kolaborasi budaya. Saat diputar, cincin-cincin ini membentuk rangkaian gerakan tari yang unik—selalu sejajar tetapi tidak pernah mengulang pola yang sama. Dengan konsep ini, karya tersebut merayakan tradisi, kreativitas, dan persatuan melalui gerak yang terus berkembang.

Nisa Putri Rachmadani, S.T.,M.Ds, selaku Koordinator Pusat Urusan Internasional ISBI Aceh, berharap keterlibatan ISBI Aceh dapat menjadi langkah strategis dalam memperluas jejaring internasional kampus. “Semoga kedepannya program ini membuka peluang kolaborasi jangka panjang antara mahasiswa seni ISBI Aceh dan institusi seni di Belanda, sehingga semakin banyak karya tercipta dari pertukaran budaya ini”, tutupnya.