Jenderal Qasem Soleimani, Sang Pembela dari Negeri Para Mulla

OPINI—-Pada bulan Juni 2020 saya mendapat kiriman buku dari Konsulat Kebudayaan Iran-Indonesia. Buku tersebut mengulas sepak terjang Jenderal Qasem Soleimani dalam mempertahankan Negara dan agamanya, dari ancaman senjata dan ideologi Amerika Serikat.

Perlakuan Amerika Serikat dan sekutunya terhadap negara Islam, sudah berlangsung cukup lama, dengan berbagai tudingan miring yang dialamatkan kepada dunia-dunia Islam. Atas dasar asumsi yang keliru, lalu Amerika mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang didukung oleh antek-anteknya untuk menghambat kemajuan negara-negara Islam, baik dalam bidang sains, teknologi, ekonomi, budaya, dan juga dalam berbagai perkembangan lainnya.

Baca juga : Sepak Terjang Aminullah

Amerika Serikat dengan tabiat buruknya dan kekuatannya, mengembargo Iran, bahkan Iran dibuat tidak bisa bernafas. Namun kesulitan-kesulitan tersebut membuat Iran semakin tertantang dalam pengembangan iptek. Kemajuan-kemajuan yang dicapai Iran, rupanya membuat Amerika dan sekutunya kian gencar membatasi ruang gerak Iran, dengan terus mencari dukungan “Dunia” serta menciptakan beraneka kerusuhan diberbagai wilayah.

Tidak hanya wilayah kedaulatan yang disusupinya, mediapun dibuat “riuh” oleh Amerika dengan memutar balik fakta.
Soleimani sang pembela yang tak pernah pergi
Iran beruntung memiliki seorang Soleimani, penentang Amerika yang “semangat” nya kini semakin nyata “hadir” dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Iran. Tidak hanya di Iran, bagi dunia, Soleimani merupakan “wajah” yang tidak biasa. Sebab itu, Amerika membunuh sang Jenderal Soleimani.

Soelimani adalah seorang yang sangat aktif dalam melindungi orang-orang tertindas.

Selama hidupnya ia selalu berkomitmen untuk membela hak-hak negaranya, tidak gila kehormatan, harta, pangkat, jabatan, dan juga fasilitas. Kendatipun ia seorang Jenderal besar di Iran, kedekatannya dengan sang Pencipta dan kesufiannya, membuat jiwanya kian hidup di hati masyarakat Timur-Tengah.

Di tengah maraknya pejabat dunia berebut tatah, fasilitas dan kekayaan, Soleimani justru memiliki karakter yang berbeda dari pejabat-pejabat dunia, ia sama sekali tidak tergiur dengan tatah dan juga tidak tamak.

Dalam surat yang ditinggalkan untuk istrinya, ia memberi pesan agar menulis nama dengan “Prajurit Qasem Soleimani” saja tanpa embel-embel gelar serta dimakamkan ditempat pemakaman Syuhada di Kerman. Satu jalan panjang yang dilalui Soleimani di Timur-Tengah, membuktikan jalan “cinta” sang pejuang pada negara dan agamanya.

“Soleimani tidak fanatik. Dia seorang pendengar yang sabar, memfasilitasi dialog dengan banyak jaringan penghubung, kualitas yang kurang dimiliki AS, Israil, dan Arab.” Demikian ungkap Marco Carnelos Mantan Duta Besar Italia di Baghdad.

Soleimani tersungkur dibumi Madinatus Salam (Kota Perdamaian)-Baghdad. Jumat 3 Januari 2020, dua rudal Hellfire menghantam mobil yang ditumpangi Soleimani. Seketika bintang terang Timur-Tengah pun pergi untuk selama-lama.

Penulis: Nurma Dewi
Mahasiswi S3 UIN Ar-Raniry dan Dosen PTIQ Aceh
Email: nurmadewi83@gmail.com