“Ini orang gak bisa lagi dipake jadi narsum. Gak berkarakter banget.” Windi berkata kepada ibu Tuti, nama peserta tersebut.
Mereka berdua kembali masuk. Windi sengaja mengajukan pertanyaan saat sang ketua panitia yang berbicara.
“Pak, boleh saya bertanya?”
“Silahkan, bu.”
“Tapi ma”af kalau pertanyaan saya bodoh.”
Windi melirik kuntilanak di sebelah sang ketua panitia. Ia menampakkan wajah yang tidak mengenakkan, merasa disindir. Sementara peserta yang lain menahan tawa.
Justru yang menjawab pertanyaan Windi adalah sang narasumber, dengan intonasi yang menunjukkan emosi tingkat tinggi dan kecepatan mencapai 180km/jam.
Windi mengelus dada dan beristighfar supaya dilindungi dari kuntilanak yang terkutuk.
Penulis : Suafrida Rahmah



















