Tet…
Gawainya berbunyi
“Hallo kak Windi. Besok kita nggak usah dateng ya. Males banget ih kak. Ibu Asma pun nggak dateng besok.” Nina menelponku.
“Oke deh Nin. Kakak juga ogah.”
Beberapa menit kemudian nomor yang tidak ia kenal meneleponnya.
“Bu Windi, besok datang ya. Kita ada tugas menulis. Saya ketua panitia.”
“Insya Allah ya pak.”
Tet…
Telepon masuk lagi.
“Ibu Windi, gimana workshopnya?” Pak Dahlan, teman sesama Instruktur Nasional Windi ternyata menelponnya.
“Gak worthy banget pak.” Windi menceritakan kejadian di workshop secara detail. Kemudian pak Dahlan memberinya saran.
“Sebaiknya ibu datang. Supaya karya tulis ibu bisa dibukukan. Hopefully tomorrow will be OK.”
“I think you are right pak. Ok, besok saya datang.” Akhirnya Windi menerima saran pak Dahlan.
*****
Pagi ini Windi seperti enggan untuk pergi. Bayangan kejadian kemarin masih menari-nari di ingatannya. Namun begitu, akhirnya dia memutuskan pergi. Cerpen yang telah ia ketik sudah rapih terjilid.
Begitu sampai, ia terlambat. Jika kemarin ia duduk paling depan, saat ini ia memilih duduk paling belakang. Tak berapa lama setelah ia duduk, seorang peserta bertanya.
“Ibu, kok bisa murah ya harga cetak bukunya?”
Jawaban sang narasumber sungguh di luar dugaan.
“Ibu baca, baca, baca. Sebelum bertanya, baca dulu. Jadi nggak memberikan pertanyaan yang justru menunjukkan kebodohan ibu.”
Windi terpelongo begitupun peserta lain. Suasana hening sejenak. Windi merasa sang narasumber sungguh tak beretika.
Ia dekati peserta yang barusan bertanya saat mereka keluar.



















