Insiden Workshop

Windi berasal dari Medan dan memiliki gaya bicara yang mengebu-gebu bahkan cenderung seperti orang yang sedang marah.

“Ma”af bu. Saya berbicara memang seperti ini. Karena saya orang Medan bu.” Windi masih berusaha untuk bercanda.

Namun jawaban sang narasumber membuat Windi tak kan bisa melupakannya seumur hidupnya.

“Jangan bawa-bawa kesukuan disini.”

Dhuar… suasana menjadi tegang. Peserta lain saling berpandangan. Akhirnya sang narasumber bertanya.

“Siapa yang tidak setuju untuk menulis tentang beliau?”

Windi dan Nina tunjuk tangan, peserta yang lain hanya saling menatap, seperti ada rasa takut atau sungkan.

Dada Windi bergemuruh kencang seperti hendak berperang. Ia terus saja beristighfar agar tidak terpancing emosi. Dan dia berhasil meredakan gejolak kemarahannya karena dipermalukan di hadapan umum.

Namun ia sudah tidak lagi betah duduk di kursinya. Seperti ada ribuan paku yang menusuk-nusuk bokongnya. Dan narasumber yang berdiri di depan bukan lagi seorang wanita manis, melainkan kuntilanak yang haus darah.

Segera ia tutup laptopnya dan memasukkannya ke tas. Dia bersiap-siap untuk keluar kelas, tetapi tangan Nina menariknya untuk duduk kembali.

“Kak, sebentar lagi aja. Nggak enak diliat yg lain,” Nina berusaha menenangkannya.

“Hmm, benar juga ya Nin.”

Akhirnya Windi duduk kembali. Namun ia sungguh tak sanggup bertahan lama. Suara narasumber membuat telinganya sakit. Begitupun ia bertahan sampai coffee break. Tanpa berpikir panjang, Windi langsung pulang.

Sesampainya di rumah, Windi bersumpah tidak akan datang untuk keesokan harinya.