Diskusi Strategis Tokoh Masyarakat Bireuen: Merumuskan Gagasan, Menjemput Masa Depan Pembangunan

  • Oleh: Dr. H. Ilyas Wahab Gam

KABARDAILY.COM – Pembangunan daerah tidak selalu harus dimulai dari ruang rapat pemerintahan. Gagasan besar terkadang justru lahir dari pertemuan sederhana, ketika para tokoh masyarakat duduk bersama, bertukar pikiran, dan merumuskan masa depan daerah yang mereka cintai.

Suasana itulah yang mewarnai pertemuan silaturahmi tokoh-tokoh masyarakat Bireuen yang berdomisili di Banda Aceh atas inisiatif H. Subarni, Senin, 3 November 2026, di Cafe Hoco, Lambhuk. Pertemuan tersebut tidak sekadar mempererat persaudaraan, tetapi berkembang menjadi diskusi strategis tentang berbagai persoalan dan peluang pembangunan Kabupaten Bireuen.

Hadir sejumlah akademisi, mantan pejabat, politisi, dan kalangan profesional, antara lain Prof. Humam Hamid, Prof. Rusydi Ali Muhammad, Prof. Bahrun, Prof. Wildan, Hamdani (mantan Bupati Bireuen pertama), Yah Fud, anggota DPRA, serta sejumlah tokoh lainnya. Diskusi dibuka oleh drg. Saifuddin dalam suasana akrab dan konstruktif.

Salah satu gagasan penting disampaikan drh. Nasir Gurumud mengenai pembangunan Waduk Krueng Peudada untuk mendukung pengembangan pertanian dan jaringan irigasi. Ketersediaan air merupakan faktor strategis dalam meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus menjamin keberlanjutan usaha petani.

Sementara itu, penulis menyoroti kondisi tambak ikan rakyat di sepanjang pesisir Bireuen, mulai dari Samalanga hingga Gandapura, yang kini tidak lagi berfungsi secara optimal. Diperlukan survei dan penelitian menyeluruh untuk mengidentifikasi penyebab penurunan produktivitas tambak, baik dari aspek kualitas air, lingkungan, infrastruktur maupun teknologi budidaya.

Gagasan tersebut mendapat dukungan drg. Saifuddin yang mengharapkan Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Syiah Kuala melakukan survei lapangan. Keterlibatan perguruan tinggi sangat penting agar kebijakan revitalisasi tambak didasarkan pada kajian ilmiah dan kebutuhan nyata masyarakat.

Gagasan berikutnya yang disampaikan penulis adalah pembangunan pusat grosir pasar tani di kawasan Teupin Mane. Kawasan ini memiliki posisi strategis sebagai pusat distribusi hasil pertanian dan perkebunan dari Aceh Tengah dan Bener Meriah menuju wilayah pesisir.

Pusat grosir tersebut diharapkan mampu memperpendek rantai pemasaran, meningkatkan nilai ekonomi hasil bumi, membuka lapangan kerja, serta memperkuat Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Bireuen.

Dari Diskusi Menuju Aksi Nyata

Hal penting dari pertemuan ini adalah kesadaran bahwa pembangunan daerah membutuhkan kontribusi pemikiran dari berbagai kalangan. Bireuen memiliki banyak sumber daya manusia berkualitas, baik yang berada di dalam maupun di luar daerah. Potensi tersebut merupakan modal sosial yang perlu dihimpun dan diberdayakan untuk kemajuan daerah.

Pada akhir diskusi, Zaini Jalil, SH, dan Prof. Bahrun berharap pertemuan serupa dapat dilanjutkan melalui forum yang lebih formal dan terarah sehingga menghasilkan rekomendasi konkret bagi pemerintah daerah.

Menurut penulis, setidaknya terdapat tiga agenda strategis yang layak mendapat perhatian Bupati Bireuen dan anggota DPRA dari daerah pemilihan Bireuen.

Pertama, pembangunan Waduk Krueng Peudada beserta jaringan irigasinya untuk memperkuat sektor pertanian. Kedua, penelitian dan revitalisasi tambak rakyat guna mengembalikan produktivitas ekonomi masyarakat pesisir. Ketiga, pembangunan pusat grosir pasar tani di Teupin Mane sebagai pusat perdagangan dan distribusi hasil pertanian serta perkebunan.

Ketiga gagasan tersebut tentu membutuhkan kajian kelayakan, perencanaan anggaran, dan koordinasi lintas sektor. Namun, yang lebih penting adalah adanya kemauan politik dan kesungguhan pemerintah untuk menindaklanjutinya menjadi program pembangunan.

Kita patut mengapresiasi inisiatif H. Subarni yang telah menghadirkan ruang silaturahmi sekaligus diskusi produktif bagi tokoh-tokoh masyarakat Bireuen.

Pertemuan ini memberikan pesan bahwa kecintaan terhadap daerah tidak cukup diwujudkan melalui nostalgia dan kebanggaan terhadap masa lalu. Kecintaan itu harus diterjemahkan menjadi gagasan, pemikiran, dan kontribusi nyata bagi masa depan.

Bireuen membutuhkan lebih banyak pemikiran strategis, terobosan pembangunan, dan kolaborasi lintas generasi. Sebab, kemajuan daerah bukan semata-mata ditentukan oleh besarnya anggaran pemerintah, melainkan juga oleh kualitas gagasan, keberanian mengambil keputusan, dan kesediaan semua pihak untuk bekerja bersama demi kesejahteraan masyarakat.