- Laporan Mukhlis Aminullah, SE, MM
Kontributor kabardaily.com / Aktivis sosial kemasyarakatan
KABARDAILY.COM | FEATURE – Di usia kandungan yang memasuki 36 minggu, Achmi Yuliani seharusnya menikmati masa-masa menunggu kelahiran buah hati dengan tenang di rumahnya, Blang Rakal Kecamatan Pintu Rime Gayo Kabupaten Bener Meriah. Namun ketenangan itu berubah menjadi perjuangan panjang setelah banjir akhir November lalu memutus akses utama, termasuk jembatan penghubung yang menjadi nadi transportasi masyarakat.
Jumat pagi itu (5/12/2025) tanpa pilihan lain, Achmi Yuliani (31) dan suaminya, Darwin Mega (35), menyiapkan perjalanan yang bukan hanya jauh—tapi juga penuh risiko. Mereka menempuh 35 kilometer dengan sepeda motor menuju Teupin Mane Kecamatan Juli Kabupaten Bireuen. Perjalanan itu sendiri sudah melelahkan bagi seorang ibu hamil besar.
Belum sampai di situ, keduanya harus menyeberang dengan alat darurat, bergelantungan pada tali sling untuk mencapai Beunyot. Proses penyeberangan dilakukan perlahan dan penuh kecemasan, apalagi untuk Achmi yang tengah mengandung. Setiap orang dikenai tarif Rp 25.000, dan mereka membayar tanpa keluhan—karena keselamatan sang anak jauh lebih berharga daripada angka rupiah.
Dari Beunyot, perjalanan dilanjutkan menuju Kota Juang sejauh 11 kilometer menggunakan becak motor sewaan seharga Rp 50.000. Semua dilakukan demi satu tujuan: USG di tempat dr. Purnama Setia Budi, Sp.OG.
Awalnya, mereka bahkan tidak tahu harus ke mana. Hingga, Achmi memberanikan diri mengirim pesan ke akun Instagram dr. Pur untuk menanyakan jadwal praktik. Dari sanalah mereka mendapatkan nomor HP dr. Pur langsung via chat IG, agar bisa berkoordinasi sebelum datang. Jawaban yang ramah dari dokter memberi mereka sedikit ketenangan.
Sesampainya di ruang pemeriksaan di RS Avissena Bireuen, Achmi dan suaminya disambut oleh dr. Purnama Setia Budi—akrab disapa dr. Pur. Pemeriksaan dilakukan dengan teliti. Darwin menggenggam tangan istrinya erat-erat, menahan rasa takut yang tak pernah ia tunjukkan sejak perjalanan dimulai.
Beberapa menit yang terasa seperti jam panjang itu akhirnya berakhir. Hasil pemeriksaan menunjukkan janin mereka sehat, berkembang baik, dan dalam kondisi bagus menjelang persalinan. Perjalanan berat mereka hari itu terbayar lunas.
Tidak hanya itu, dr. Pur menolak menerima pembayaran — seluruh layanan, termasuk USG, digratiskan untuk pasangan ini.
“Saya hanya melakukan kewajiban sebagai dokter. Mereka sudah berjuang begitu jauh demi kesehatan anaknya. Tidak seharusnya mereka menambah beban biaya. Selama saya mampu, saya akan membantu masyarakat yang kesulitan mendapatkan akses kesehatan.”
Tak berhenti di situ, dr. Pur bahkan mengantar sendiri Achmi dan Darwin hingga ke penyeberangan darurat, memastikan mereka bisa kembali dengan selamat.
Achmi dan Darwin yang bertemu penulis jelang naik tali sling penyeberangan darurat, tidak mampu menyembunyikan rasa terharu mereka.
“Saya hanya ingin memastikan anak kami sehat. Perjuangan kami panjang, tapi dokter menyambut kami dengan sangat baik. Bahkan kami dapat nomor dokter karena saya chat di IG—dan dokter menjawab dengan ramah. Kami sangat berterima kasih. Allah saja yang bisa membalas kebaikan ini.” sebut perempuan asal Pekanbaru, Riau.
Darwin ikut menimpali pernyataan istrinya.
“Kalau bukan karena dokter, kami mungkin harus datang lagi dua atau tiga kali karena keterbatasan biaya. Dokter bukan hanya memeriksa, tapi membantu dari hati. Kami tidak akan lupa kebaikan beliau.”
Mereka kemudian pulang menempuh rute yang sama—motor, tali sling penyeberangan darurat, lalu perjalanan panjang ke rumah—kali ini dengan hati lebih ringan karena membawa kabar tentang kehidupan kecil yang menunggu hari lahir dengan sehat.
Di tengah keharuan itu, terselip permohonan besar dari keluarga kecil ini.
“Kami mohon pemerintah segera membangun kembali jembatan yang putus. Akses ini penting bagi semua orang. Kalau nanti saya harus melahirkan dan jalan belum diperbaiki, kami harus menghadapi perjalanan seperti ini lagi.”
Bener Meriah bukan hanya memerlukan bantuan darurat, tetapi pemulihan akses vital, terutama bagi warga yang membutuhkan pelayanan kesehatan yang cepat dan aman.
Perjalanan Achmi Yuliani dan Darwin Mega mengingatkan kita pada satu hal: hak kesehatan bukanlah sesuatu yang seharusnya diperjuangkan dengan begitu berat. Namun di tengah ketiadaan infrastruktur dan ancaman keselamatan, ada cinta orang tua terhadap anaknya yang menjadi kekuatan utama.
Detak kecil dalam rahim Achmi bukan hanya menggerakkan tubuhnya menempuh jarak puluhan kilometer—tapi juga menggerakkan hati orang-orang baik di sekelilingnya.
Semoga sebelum hari kelahiran tiba, negara hadir lebih dulu.




















