Warung Penulis Menyediakan Pelatihan Menulis Gratis

Oleh : Munawwarah*

SANTERDAILY.COM | BANDA ACEH —Matahari yang bersinar mulai meninggalkan jejaknya dari balik pepohonan di depan Warung Penulis dan menandakan waktu kelas menulis akan segera dimulai.

Di tengah kebisingan suara kendaraan bermotor tidak menghalangi semangat peserta kelas menulis yang umumnya terdiri dari mahasiswa. Sekolah menulis yang diberi nama Al-Khansa’ ini didirikan oleh Siti Rahmah, penulis buku Jejak Setapak di Tanah Rencong sekaligus dosen di Universitas Islam Negeri Banda Aceh.

Sekolah menulis Al-Khansa’ merupakan sekolah yang menfasilitasi bagi semua pecinta literasi khususnya dunia menulis.

Tua-muda, pengangguran maupun pekerja semuanya bisa bergabung di sekolah menulis ini. Sekolah ini dibuka untuk umum tanpa dipungut biaya apapun dan dananya berasal dari uang pribadi kami sendiri,” kata Siti Rahmah owner warung penulis.

Al-Khansa’ sendiri terinsfirasi dari nama perempuan hebat pada zaman Rasulullah yaitu seorang penyair kondang yang berani dan cerdas.

“Sesuai dengan namanya Al-Khansa’, sehingga melalui sekolah ini akan menghasilkan generasi yang berani dan cerdas dalam merealisasikan perubahan Aceh kedepan,” kata perempuan kelahiran Lhokseumawe ini.

Sekolah Al-Khasa’ satu angkatannya terdiri dari empat kali tatap muka, yaitu setiap sabtu jam 16.00 WIB di Warung Penulis yang terletak di Gampong Lambaro Deyah, kurang lebih seratus meter dari Universitas Abulyatama. Penerimaan peserta baru akan diinformasikan melalui facebook dan instagram Warung Penulis, akun facebook yaitu Warung Penulis dan instagramnya yaitu warungpenulis.

Tidak ada syarat dan ketentuan khusus untuk bergabung ke sekolah menulis Al-Khansa’ cukup memiliki kemauan belajar dan keseriusan dalam menulis.

Perbincangan sore itu kian hangat dengan secangkir teh manis dan beberapa gorengan yang disediakan oleh Warung Penulis. Makanan dan minuman tersebut telah tersedia rapi berjejeran di atas meja berwarna putih. Dapat ilmu, dapat makanan gratis dan berjumpa dengan orang-orang hebat. Sungguh nikmat, bukan? Dan rasanya sangat rugi bagi yang tidak mampu memanfaatkan momen berharga ini.

Kegiatan saat ini merupakan angkatan ke-II dan telah berjalan selama tiga minggu. Namun sangat disayangkan peserta kelas menulis hari itu banyak absen padahal setiap pertemuan merupakan momen yang “mahal”.

Dalam kesempatan itu, ibu satu anak ini berpesan sama seperti pesan Pramoedya Ananta Toer “Orang bisa pandai setinggi langit tetapi jika dia tidak menulis maka ia akan hilang dalam kehidupan dan sejarah”.

Selain berbincang dengan dengan founder sekolah Al-Khansa’ sore itu kami juga bertemu dengan NA Riya Ison salah satu pemateri di sekolah Al-Khansa’. Ada sisi yang menarik dari dua orang hebat ini yaitu keikhlasan dalam menyebarkan ilmu. Tidak ada tawaran income yang menjanjikan dari sekolah ini namun mereka tetap menebarkan ilmunya.

“Prinsip kami, ketika kita memberi maka akan kembali yang lebih besar kepada kita,” kata perempuan yang dijuluki perempuan dua puluh lima jam ini.

“Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” Qs 99: 7 – 8.

Tidak ada perbuatan yang sia-sia dalam kehidupan ini, dan semua perbuatan kita akan kembali lagi sesuai dengan apa yang telah ditanamkan. Mengingat hidup ini hanyalah sementara dan kita berkewajiban menyebarkan benih-benih kebajikan untuk aset generasi kedepan.

“Setiap yang kita punya itu pinjaman dan kewajiban kita untuk menyebarkannya,” kata NA Riya Ison redaktur Gema Baiturrahman.

Bang NA panggilan akrab laki-laki kelahiran Bandar Lampung ini, sosok yang ramah, santai, loyal, on time dan gemar memakai baju koko sedang menjelaskan materi mengenai cara membuat rilis. Jika kita mau melirik kebelakang kemampuan menulis sosok peminat fictures jurnalis ini berawal dari hobi menulis dan kemampuan mengetik cepat. Ketekunan dan kemampuannya mengantarkan beliau untuk bekerja di penerbitan dan akhirnya terlibat di dunia media literasi.

Hal ini mengajarkan kita bahwa tidak ada yang tidak mungkin jika kita mau berusaha, buktinya sekarang kita telah bisa menikmati karya-karya seorang staff Humas Rumah Sakit Jiwa ini menari di media.

Peserta kelas menulis angatan ini berjumlah 18 orang, sebahagian besar yaitu mahasiswa/i dari Universitas UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Mereka dibimbing untuk menulis hingga mampu menghasilkan karya yang berkualitas. Komunikasi yang dibina dalam proses pembelajaran tidaknya hanya melalui pertemuan-pertemuan yang dilakukan, namun peserta bisa bertanya kepada mentor dengan memanfaatkan media sosial yang dimiliki, seperti email, facebook maupun whatsapp.

Komunikasi ini tidak hanya berlaku bagi peserta kelas menulis namun alumnus sekolah menulis juga masih memiliki kesempatan untuk mengembangkan kemampuannya.

Selain dengan kegiatan sekolah menulis yang dilaksanakan pada hari sabtu, Warung Penulis juga melakukan kegiatan rutin lainnya seperti berbagi makanan ke rumah singgah di Rumah Saket Zainal Abidin, pejuang pencari ilmu di mesjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry Banda Aceh, anak-anak yatim piatu dan dhuafa, serta pengajian yang dilakukan pada hari minggu di Warung Penulis. Kegiatan-kegiatan ini juga sangat terbuka bagi siapa saja yang ingin berpartisipasi.

*Alumnus Sekolah Menulis Al-Khansa’