UBBG Gelar “ACEH ARTSPACE”, Ajak Generasi Muda Kenali Kembali Akar Budaya Aceh

KABARDAILY.COM,BANDA ACEH — Panggung seni tradisional Aceh kembali hidup lewat acara “ACEH ARTSPACE” yang digelar Universitas Bina Bangsa Getsempena (UBBG). Dalam satu malam, penonton diajak berkeliling menyaksikan ragam tarian dan musik dari berbagai wilayah Aceh, mulai dari dataran tinggi Gayo hingga pesisir Pulau Aceh, dalam satu panggung yang sama.

Acara ini digagas oleh Regina Rahmi, dosen UBBG, bersama tiga rekannya yaitu Rika Kustina, Yusrawati Jr. Simatupang, dan Tirta Yusada. Mereka menggandeng mahasiswa Sanggar Seni UBBG untuk mewujudkan pertunjukan yang tidak sekadar menghibur, tapi juga dirancang sebagai sarana edukasi budaya dan promosi pariwisata daerah.

Delapan sajian seni tradisional tampil bergantian malam itu: Tari Saman, Tari Bines, Tari Guel, Didong, Rapai Geleng, Likok Pulo, dan atraksi Top Daboh, diiringi musik Rapai dan Serune Kalee serta vokal dalam beberapa bahasa daerah Aceh. Ragam pertunjukan ini sengaja dirangkai berdampingan untuk menegaskan pesan bahwa keberagaman budaya Aceh justru mempersatukan, bukan memisahkan.

Tari Saman asal Gayo Lues membuka babak pertunjukan dengan gerakan cepat dan kompak yang menggambarkan kebersamaan dan gotong royong — tarian ini bahkan telah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia. Sementara Tari Bines tampil lebih lembut, membawa syair-syair sarat pesan moral khas masyarakat Gayo.

Penonton juga disuguhi Tari Guel yang sarat nilai spiritual dan penghormatan pada leluhur, serta Didong, seni tutur yang memadukan syair, tepukan tangan, dan dialog sebagai media kritik sosial sekaligus pelestarian sastra lisan.
Nuansa religius hadir lewat Rapai Geleng dengan gerakan kepala berirama diselingi syair Islami, sebelum suasana berganti energik lewat Likok Pulo yang menggambarkan kehidupan masyarakat pesisir. Puncak pertunjukan ditutup dengan Top Daboh, atraksi ketahanan fisik yang melambangkan keberanian dan kekuatan spiritual yang diwariskan turun-temurun.

Regina Rahmi selaku ketua penyelenggara menjelaskan bahwa “ACEH ARTSPACE” sengaja dirancang untuk lebih dari sekadar pertunjukan panggung.

Ia menyampaikan bahwa budaya Aceh adalah identitas yang perlu terus dijaga dan diturunkan ke generasi berikutnya. Menurutnya, dengan menyatukan berbagai seni tradisional dalam satu panggung, pihaknya ingin memperlihatkan kekayaan budaya Aceh sekaligus menumbuhkan rasa bangga generasi muda untuk terus melestarikannya.

Regina menilai, di tengah gempuran budaya populer dan arus globalisasi, generasi muda membutuhkan ruang semacam ini untuk kembali mengenal akar budayanya sendiri. Nilai-nilai seperti kebersamaan, toleransi, disiplin, dan penghormatan terhadap sejarah, menurutnya, akan lebih mudah dipahami anak muda bila disampaikan lewat pertunjukan yang menarik.

Selain menjadi ruang tampil, acara ini juga mempertemukan seniman dari berbagai kabupaten dan kota di Aceh untuk saling berbagi pengalaman. Panitia turut menyiapkan dokumentasi digital dan katalog budaya dwibahasa yang nantinya bisa menjadi arsip sekaligus materi promosi seni Aceh ke kancah nasional maupun internasional.

Dipawangi oleh Riska Mahara, Mahasiswa Universitas Bina Bangsa Getsempena dan juga merupakan seniman Tanah Gayo, Tarian Kolaborasi ini melibatkan 100 penari UBBG dari berbagai Program Studi di lingkungan UBBG.
Lewat “ACEH ARTSPACE”, UBBG berharap seni dan budaya Aceh tidak hanya bertahan, tetapi juga makin dikenal luas. Sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, komunitas seni, dan masyarakat dinilai penting agar warisan budaya ini terus hidup dan menjadi kebanggaan lintas generasi.