fbpx

Tirmi Ara, Berlian Yang Terpendam

kabardaily.com – Bagi orang luar daerah, mendengar kata Tirmi Ara pastilah dua padanan kata yang asing. Tapi tidak demikian, dengan warga Kecamatan Rusip Antara dan sekitarnya. Bagi mereka, ketika disebut dua kata itu, langsung tahu bahwa itu adalah sebuah desa di Kecamatan Rusip Antara. Mereka bahkan faham, bagaimana kondisi desa tersebut.

Tirmi Ara merupakan sebuah desa di wilayah barat Kecamatan Rusip Antara, berbatasan langsung dengan Kecamatan Tangse Kabupaten Pidie. Desa ini, sebagaimana desa lain di dataran tinggi Gayo, berhawa sedang dan sejuk. Luas desa 4.800 Ha dengan jumlah penduduk ± 600 jiwa dari jumlah 144 KK.

Secara umum lahan di desa ini adalah area perkebunan. Beberapa varietas tanaman, seperti kopi, alpukat, jeruk, durian, kemiri dan cabai, tumbuh subur. Mayoritas warga adalah petani/pekebun. Tidak semua warga disini penduduk asli, kebanyakan berasal dari luar desa, yang merantau kesini beberapa puluh tahun lalu, untuk merubah nasib. Hal ini mengingat potensi alam yang luar biasa untuk pertanian dan perkebunan.

Desa yang dipimpin oleh Johansyah ini memiliki komposisi etnis, mayoritas suku Jawa. Ada juga beberapa KK berasal dari etnis Batak, Aceh pesisir dan Gayo. Dalam kehidupan sehari-hari, masalah etnis bukan hal yang diperbincangkan. Semua warga sangat kompak. Terkait etnis hanya kita ketahui dari data kependudukan yang tertempel di papan pengumuman, termasuk dari data pemilih untuk Pemilu 2024. Selebihnya hampir tidak bisa dipetakan, karena sehari-hari mereka menggunakan bahasa yang sama, bahasa Gayo.

Desa ini jauh dari Takengon, ibukota Kabupaten Aceh Tengah. Tenaga Ahli Program Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa (TA-P3MD) Kabupaten Aceh Tengah, yang berkunjung ke desa Tirmi Ara, Selasa (23/5/2023) harus menempuh perjalanan selama 1.5 jam, menggunakan mobil Kijang Kapsul milik Pendamping Desa setempat. Jalan yang dilalui bukan jalan tol, tapi jalan aspal yang dibangun puluhan tahun lalu yang sudah rusak. Sebagian jalan lainnya malah jalan setapak.

Kunjungan para TA-P3MD ini merupakan kunjungan supervisi terkait Pelayanan Sosial Dasar. Pertemuan dilakukan di kantor Reje (sebutan untuk Kepala Desa di Aceh Tengah). Tim ini diterima oleh para perangkat desa, dipimpin oleh Lisa Rahmayanti, Sekretaris Desa (Banta, sebutannya di Aceh Tengah). Pertemuan berlangsung diaogis. Lisa Rahmayanti, memaparkan dengan detail kondisi desanya.

Selanjutnya, Sunarmi, salah seorang kader yang hadir, menggunakan kesempatan untuk menyampaikan aspirasi terkait kondisi jalan, kepada kami. Termasuk soal jaringan komunikasi yang juga tidak ada. Ia bahkan menyebutkan terkait kedua hal itu sudah disampaikan pada kegiatan Musrenbang, setiap tahun.

Setelah keluar ruang pertemuan, beberapa warga yang kami temui juga menyampaikan hal senada. Dibenarkan juga oleh Ricky Arianto, Kordinator Pendamping Desa disana, yang hampir setiap hari mendampingi masyarakat.

Benar, memang prasarana jalan menjadi penting. Karena untuk memudahkan petani menjual hasil pertanian dan perkebunan ke ibukota Kecamatan maupun ke Kabupaten. Begitupun dengan jaringan komunikasi. Adalah hal naif, untuk zaman 5.0 seperti saat ini, bila masih ada desa yang tanpa sinyal.

Diperkirakan, kekurangan kedua hal tersebut, menyebabkan kurangnya motivasi penduduk untuk meningkatkan penyaluran hasil panen. Diduga juga, ini menjadi penyebab para tenaga pendidik terlambat ke sekolah dan bahkan tidak termotivasi untuk mengajar.

Mencermati kondisi dan potensinya, sesungguhnya Desa Tirmi Ara adalah berlian yang terpendam. Berlian bernama area perkebunan yang luas sebagai sumber perekonomian. Berlian itu tinggal dipoles oleh Pemerintah, dengan membangun jalan dan jaringan komunikasi. Pasca Pemilu 2024, diharapkan kedua persoalan tersebut sudah tertangani. (Mukhlis Aminullah)