Refleksi Hardikda: Tantangan Pendidikan Aceh Era Cakap Teknologi

  • Oleh Feri Irawan

KABARDAILY.COM – Pendidikan adalah urat nadi Aceh. Tanpa pendidikan yang kuat, perubahan dan kemajuan sulit dicapai. Oleh karena itu, peringatan Hari Pendidikan Daerah (hardikda) Aceh setiap 2 September bukan hanya seremoni, tetapi juga momentum untuk mengevaluasi pencapaian pendidikan. Ini adalah kesempatan untuk melihat sejauh mana pendidikan telah kita raih dan bagaimana kita dapat terus memperbaikinya.

Hardikda adalah momentum refleksi bahwa pendidikan bukanlah proses instan, tetapi investasi panjang. Membutuhkan kesabaran, keikhlasan, dan keberanian menghadapi ketidakpastian demi menghasilkan sumber daya manusia unggul di tengah kehadiran kecerdasan buatan.

Kemajuan teknologi semakin canggih dan modern. Proses pembelajaran bisa dilakukan melalui berbagai media. Wajah pendidikan kita mengalami banyak transformasi. Berawal dari gagap teknologi hingga berangsur menuju cakap berteknologi. Guru sudah bukan satu-satunya tempat bagi siswa untuk mendapatkan informasi. Apapun yang dibutuhkan, google menyediakan semuanya.

Kini, pendidikan karakter yang sudah terkontaminasi dunia digital membuat para guru pusing harus kreatif mengubah metode ajar.

Tidak mudah memang bagi guru menyeimbangkan pendidikan intelektual dan karakter berjalan bersama untuk menjadi pribadi yang tidak sombong dan beretika. Semua ini butuh kerja keras dari semua pihak. Tanpa keteladanan nyata, misi “Mewujudkan Pendidikan Unggul, Menuju Aceh Maju” hanya menjadi wacana semata.

Kita tidak ragu dengan SDM Aceh. Segudang prestasi para siswa, dan guru tidak diragukan lagi. Kita mampu bersaing, tidak hanya di skala nasional tetapi juga internasional. Sesungguhnya, Hardikda adalah bentuk penghargaan atas semua keberhasilan itu.

Tapi momen Hardikda bukan hanya sekadar selebrasi semata, tetapi juga suatu refleksi kritis untuk mengevaluasi
pendidikan intelektual dan karakter berjalan bersama. Hal ini menjadi pekerjaan rumah bersama, baik dari pemerintah Aceh, lembaga pendidikan itu sendiri, maupun orang tua dan murid.

Oleh karena itu, “Mewujudkan Pendidikan Unggul, Menuju Aceh Maju” menuntut keberanian kolektif untuk memberikan teladan, memperbaiki sistem, dan menumbuhkan ekosistem yang menempatkan etika moral (nilai-nilai) di atas segalanya.

Mari fokus memperbaiki Aceh dengan meperbaiki moral-moral generasi muda kita. Mari kita perjuangkan pendidikan moral untuk generasi muda Aceh. Para orang tua harus mengambil peran penting dalam mendidik moral anak-anaknya. Generasi muda yang berpendidikan dan memiliki moral yang baik dapat membangun Aceh yang maju.

Penulis adalah Kepala SMKN 1 Jeunieb