26.3 C
Banda Aceh
BerandaCerpenPijakan  Kaki di Tanah Kota

Pijakan  Kaki di Tanah Kota

Cerpen –  “Kira-kira nanti siapa ya gueststar untuk ngisi acara prom kita?” tanya seorang siswi yang sedang asyik membahas acara prom night bersama teman-temannya.

“Hmm, mungkin dj lagi atau pianist terkenal” jawab siswi lainnya.

Sudah memasuki tahun terakhir tentu saja topik pembicaraan tersebut sudah tidak asing lagi didengar di sepanjang koridor. Baik tentang pengisi acara, pakaian yang akan digunakan, bahkan pasangan untuk menghadiri acara tersebut.

Acara prom sudah menjadi tradisi bagi seluruh penghuni Inaffable High School.
Bel sekolah sekolah berbunyi menandakan seluruh murid diharuskan memasuki kelas untuk memulai pelajaran.

“Len, kamu nanti ke prom bareng siapa” tanya Farhan, “Ah, ngga usah bahas prom-proman segala deh mending mikirin ujian” jawab Alena ketus.

Dari ratusan murid di Inaffable High School hanya Alena lah yang tidak menyukai acara prom, padahal pada hakikatnya dirinyalah yang akan menjadi wakil ketua panitia pelaksana acara tersebut.

Bagaimana tidak, Alena adalah seorang wakil ketua osis dan hanya dia yang dapat dipercaya oleh seluruh anggota osis karena Vandy si ketua osis, bahkan orang yang memegang peran penting dalam menyukseskan acara tersebut memilih untuk tetap tebar pesona dan mengejar popularitas, ya walaupun tidak bisa dibantah lagi kalau Vandy memanglah cowo terkeren di Inaffable High School mustahil jika ada siswi yang menolak ajakan pulang diantar olehnya.
“Jadi kita mulai aja langsung rapatnya. Farhan boleh langsung dibacakan poin-poin yang akan kita bahas di dalam rapat.” Alena selaku wakil ketua osis membuka rapat osis pada siang hari setelah usai pembelajaran. “Iya, jadi yang pertama ada kas osis, lalu gerakan peduli lingkungan, selanjutnya prom night” Farhan selaku sekretaris membacakan semua point yang akan menjadi pembahasan pada rapat siang ini. “Nah, untuk prom night dan gerakan peduli lingkungan, aku ada usul gimana kalau kita gabung aja dua kegiatan tersebut jadi satu kegiatan,” kata Alena meminta persetujuan dari anggota osis lainnya. “Maksudnya kita jadikan di satu waktu gitu?” tanya Rere selaku bendahara. “Yaps, bukan hanya di satu waktu saja tapi juga di satu kegiatan. Kita ganti acara prom night jadi kegiatan yang lebih bermanfaat, seperti outbound ke pedesaan mungkin dan sekalian kita melakukan kegiatan peduli lingkungan di sana, kita bisa membantu masyarakat yang kekurangan dengan ilmu yang kita miliki dan melihat kegiatan apa yang mereka lakukan sehari-hari agar kita bisa lebih mensyukuri keadaan kita sekarang ini. Lagi pula prom night itu juga bukan budaya kita kan” jelas Alena. Namun reaksi teman-temannya tidak sesuai dengan ekspektasi Alena. Sudah tentu mereka semua tidak setuju dengan ide Alena yang bisa dikatakan norak dan sok patriotisme.
Prok prok prok tiba-tiba Vandy yang sedari tadi diam seribu bahasa tiba-tiba bertepuk tangan dan sontak membuat Alena bahagia, karena hanya Vandy yang memberikan respon yang baik. “Gimana lo setuju kan?” tanya Alena kepada Vandy. “Hmm, boleh-boleh aja sih, Farhan tulis yang yang Alena bilang tadi ke agenda osis” jawab Vandy sambil memainkan pulpen ditangannya dan memutar-mutar kursi. “Lho, berarti prom night ngga ada dong?” tanya Rere dengan ekspresi wajah yang sedih. “Prom ya tetap jalan seperti biasa” jawab Vandy enteng. “Yes” jawab semua anggota osis dengan serempak kecuali Alena. Alena yang tadinya sudah sangat senang sekarang wajahnya berubah menjadi merah padam, ia sangat marah terhadap Vandy. Alena dan Vandy memang tidak pernah akur bahkan saat Alena mengetahui bahwa Vandy memilih dirinya sebagai wakil ketua osis ia merasa itu bagian kiamat kecil baginya dan sekarang dia sedang merasakan hal tersebut terulang lagi. “Ngga, kalau gini gue ngga mau handle acara ini” bentak Alena sambil memukul meja dengan keras dan mengambil tasnya dan beranjak pulang. “Len, Alena jangan gitu dong” panggil Rere sambil mencegah Alena agar tidak pulang. Namun hal tersebut hasilnya nihil, Rere kembali ke tempat duduknya. “Sekarang gimana dong?” tanya Rere dengan raut wajahnya yang kesal. Semua orang yang di ruangan itu menatap Vandy. “Gue, hahaha masa gue, kan kalian tau gue sama Alena gimana” tolak Vandy. “Van, tapi kan lo ketuanya, tanggung jawab dong” jawab Rere dengan memaksa. Tanpa tunggu di hujani oleh hujatan teman-temannya Vandy pun langsung mengambil tasnya dan menyusul Alena. Untung saja Alena belum jauh dari lingkungan sekolah, “Len, Alenaaa” panggil Vandy dengan sedikit teriak, karena Alena tidak memberi respon apa karena ia tidak mendengarnya atau pura-pura tidak mendengarnya. Vandy terus berlari sampai tepat di depan Alena. “Kenapa?” tanya Vandy. Namun Alena hanya diam menunduk sambil memainkan pasir dengan sepatunya, “Jawab!” lanjut Vandy dengan nada yang lebih tegas. “Hmm, gue cuma mau kasih kesan yang berbeda aja di tahun terakhir gue” jawab Alena. “Bohong” namun langsung dibantah oleh Vandy. “Lo takut kan kalau lo ngga punya pasangan untuk ke prom dan lo ngga bisa tampil cantik seperti siswi yang lain” sambung Vandy. Tanpa menjawab apa-apa Alena dengan reflek menampar pipi Vandy dan berlalu pergi sambil terus-menerus meneteskan air matanya.
Sesampai di rumah ia tidak mempedulikan hujan pertanyaan dari orang rumah, ia mengunci diri dibalik pintu kamarnya dan tidak membiarkan siapa pun masuk ke kamarnya, ia hanya menangis ditutupi bantal. Tanpa sadar ia pun terlelap, saat ia terbangun ternyata hari sudah malam. Lalu ia mengambil handphone dan membuka media sosialnya, terlihat ia banyak mendapat pesan dari anggota osis yang meminta agar dia tetap menghandle acara prom. Namun yang Alena hanya terfokus pada pesan milik Vandy, pesan tersebut berisi permintaan maaf Vandy karena telah kasar terhadapnya siang hari tadi dan Vandy berjanji untuk menuruti keingingan Alena untuk mengganti kegiatan prom dengan outbound ke pedesaan. Seketika mood Alena berubah drastis, ia meloncat-loncat kegirangan. Ia pun langsung mencari informasi tempat-tempat yang sangat membutuhkan pendidikan.
Keesokan harinya, Alena terbangun di pagi hari dan menyiapkan dirinya, dan siap berangkat ke sekolah dengan semangat. Sesampai di sekolah ia langsung menceritakan tentang persetujuan Vandy kepada Farhan, “Akhirnya, aku bisa merubah tradisi sekolah ini menjadi kegiatan yang lebih bermanfaat” ucap Alena senang. Raut wajah Farhan sudah tentu tidak senang karena bagaimana pun dia sangat menginginkan acara prom itu berlangsung. Namun mereka bisa apa, semua keputusan berada di tangan ketua osis. Namun sedari tadi Alena belum melihat Vandy. Di mana si ketua osis sok keren itu, batin Alena. Karena belum juga melihat Vandy, Alena memutuskan untuk masuk ke kelas dan menjumpai Vandy setelah waktu pembelajaran selesai, walaupun hari ini tidak ada jadwal rapat.
Bel pun berdering, menandakan waktu pulang sekolah, Alena pun bergegas menyiapkan semua buku dan perlatan tulisnya. Tanpa harus menunggu lama Alena langsung bergegas pergi ke kelas XII-B untuk menemui Vandy. “Gas, Vandi mana?” tanya Alena kepada Bagas teman sekelasnya Vandy. “Hmm, kayaknya ngga masuk deh gue ngga liat dia dari pagi” jawab Bagas. “Oke, makasih” jawab Alena dan langsung meninggalkan kelas Vandy dan menuju ke ruang osis. Sesampai di depan ruang osis, ia melihat ada seseorang di dalamnya, ya siapa lagi kalau Vandy. Menggunakan kesempatan sebagai ketua osis agar bisa melewati pelajaran, padahal sedang tidak ada rapat saat itu, “Heh, jadi ketua osis itu ngurus sekolah bukannya jadi alasan untuk bolos” kata Alena membuat Vandy sedikit terkejut. “Siapa bilang gue alasan untuk bolos, lo ngga liat gue ngapain” jawab Vandy tak terima sambil menunjuk-nunjuk layar laptop di depannya, Alena pun melihat ke layar laptop, dan tertulis disana beberapa nama-nama desa dengan berbagai objek wisata. Lalu Alena pun tertawa melihatnya, “Kita itu mau ngadain kegiatan peduli lingkungan, bukan rekreasi keluarga” kata Alena dengan memberi sedikit penegasan pada kata keluarga. “Hehe jadi gimana juga? pusing nih gue dari tadi ngga ketemu” jawab Vandy sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal hanya untuk menutupi rasa malunya. “Nih, gue udah search tadi malam gue rasa ini cocok untuk kita” Alena menunjukkan sebuah web yang menunjukkan sebuah desa terpencil yang masih sangat miskin baik dari segi ekonomi ataupun pengetahuan. “Lo yakin?, kan lo tau sekolah kita ini kan International School, apa nanti ngga membebani teman-teman yang lain?” jawab Vandy dengan nada yang sedikit ragu. “Nah, memang itu tujuan gue. Kita sebagai orang yang sudah beruntung kayak gini, semuanya seraba ada fasilitas lengkap, kita harus tau gimana keadaan orang yang sangat jauh berbanding terbalik dengan kita. Sekalian biar kita bisa mensyukuri nikmat yang telah tuhan berikan kepada kita” jelas Alena, Vandy hanya mengangguk saja. “Yaudah deh gue setuju, eh nama desa nya apa? Terus jauh tidak dari sekolah kita” tanya Vandy, “Namanya Desa Lembah Biru, letaknya lumayan jauh tapi masih bisa ditempuh menggunakan bus kok” jawab Alena. “Oke, gue akan urus masalah transportasi nya dan izin di desanya, lo urus kegiatan apa aja yang akan kita lakuin di sana” kata Vandy sambil mengambil tasnya dan beranjak pergi dan meninggal Alena sendiri di ruangan osis.
Alena menulis semua kegiatan yang akan di lakukan saat outbound dilaksanakan, tanpa Alena sadari teryata seluruh murid sudah pulang dan tinggal dia sendiri di sekolah, lalu Alena membereskan semuanya dan bergegas pulang, saat diperjalanan Alena sempat memikirkan bagaimana kalau idenya tersebut tidak berhasil seperti ekspektasinya? Bagaimana kalau acara perpisahan kali ini akan menjadi sejarah buruk bagi sekolahnya? Ia takut akan mengecewakan teman-temannya. Sesampai di rumah Alena juga masih memikirkan hal tersebut karena kali ini dia memegang peran yang sangat penting, bahkan dia juga sudah berjanji pada dirinya akan merubah keadaan di desa Lembah Biru, tapi bagaimana kalau hal tersebut tidak berhasil? Bagaimana kalau masyarakat di sana tidak dapat menerima perubahan gaya hidup yang akan diberikan olehnya dan teman-temannya nanti? Dan bagaimana kalau dia mengacaukan semua. Pertanyaan itu terus terngiang-ngiang menghantui pikiran Alena. Tanpa berpikir lama Alena langsung menjumpai papanyan untuk menanyakan pendapatnya, pas sekali papanya sedang bersantai di ruang keluarga. “Papa, Alena mau tanya” kata Alena kepada papanya, “Ya, tinggal tanya saja asalkan jawabannya tidak harus membuat papa mengeluarkan uang” jawab papanya sedikit bercanda, “Hehe, kali ini ngga kok pa” lanjut Alena, Alena memperbaiki duduknya sehingga papanya merasa kalau anaknya benar-benar ingin membahas sesuatu yang serius, “Yaudah, mau tanya apa ni?” jawab papanya. “Jadi gini Pa, kan sekarang sudah tahun terakhir nih, biasanya kan sekolah Alena ngadain prom night. Tapi kali ini Alena mau ganti prom jadi kegiatan peduli lingkungan juga sekalian kegiatan sosial di pedesaan pa, tapi Alena takut kalau nanti hasilnya tidak seperti Alena bayangkan. Alena takut teman-teman tidak bisa beradaptasi dengan kondisi di desa dan kalau masyarakat desa tidak bisa menerima gaya hidup kami” jelas Alena. Papa meletakkan koran yang dibacanya tadi diatas meja dan mengubah posisi duduknya mengarah ke arah Alena. “Alena, kan papa selalu bilang. Kalau kamu punya mimpi atau ada sesuatu yang ingin kamu raih, kamu harus percaya kamu bisa apapun hambatannya bilang sama diri kamu sendiri kalau kamu percaya sama keinginan kamu itu dan kamu tidak bisa menyerah dan jangan lupa untuk berdoa, minta sama Tuhan agar kamu dan teman-teman dapat menyukseskan kegiatan tersebut. Apalagi kegiatan tersebut merupakan kegiatan yang baik, jadi papa yakin kamu bisa, asalkan kamu konsisten” jawab papa. Papa adalah orang yang tepat jika Alena sedang berada di kondisi seperti ini, Alena sudah dari kecil ditinggal oleh mamanya, Mama Alena mengidap penyakit Sepsis setelah melakukan operasi caesar saat melahirkan adik Alena. Mama Alena mengalami sepsis di bekas luka operasinya. Namun adik Alena lahir dengan sehat tanpa kekurangan apapun dari segi fisik maupun mental dan sekarang sudah duduk di kelas delapan. Papa Alena memilih untuk mengganti peran mamanya tanpa mengganti sosok mamanya dengan orang lain. Oleh karena itu, Alena sangat bersyukur karena ia memiliki papa yang sangat baik.
Hari ini merupakan, hari di mana ide Alena untuk mengganti prom night menjadi kegiatan outbound diumumkan kepada seluruh murid oleh Vandy. Semua murid dan guru berkumpul di lapangan sekolah. Vandy menjelaskan tentang kegiatan outbound yang akan menggantikan prom night, hanya sedikit murid yang memberikan respon baik. Selebihnya masih belum setuju, tapi mau bagaimna lagi, acara tersebut sudah diwajibkan oleh sekolah dan jika tidak mengikutinya akan mendapatkan pengurangan nilai. Kegiatan tersebut akan dilakukan dua hari lagi. Vandy sudah menyiapkan transportasi menuju ke desa Lembah Biru dan juga sudah meminta izin kepada kepala desa di sana. “Kita memiliki beberapa kegiatan dan tujuan saat berada di sana, pertama kita akan refreshing dengan melakukan perkemahan di sana sambil menikmati keindahan alamnya. Namun kita juga memiliki tujuan, kita akan membantu warga di sana dengan memberikan sedikit pengalaman atau ilmu yang kita punya kepada mereka, baik pelajaran sekolah ataupun gaya hidup yang lebih baik. Saya harap kita bisa bekerja sama, saya juga minta doanya agar acara ini akan sukses dan sekolah kita akan mencatat sejarah baru, sekian terima kasih,” jelas Alena di depan teman-teman dan gurunya. Sosialisasi tersebut akhirnya berakhir dan dilanjutkan dengan kegiatan gotong-royong sekolah karena besok diliburkan untuk menyiapakan keperluan di hari lusa.
“Kira-kira apa lagi ya yang harus dibawa?” tanya Alena kepada adiknya, Alazka. “Memangnya kakak mau pergi berapa lama?” tanya Alazka balik, “Kalau planning sekolah sih satu minggu, tapi kami kan punya tujuan, jadi kalau tujuan kami belum terwujud mungkin kami belum bisa pulang dulu” jawab Alena. “Ooo, kalau gitu bawa aja semua barangnya, sekalian kakak tinggal di desa aja” jawab Alazka asal sambil melangkah keluar kamar meninggalkan Alena sendiri. “Bukannya membantu, malah ngeledek” teriak Alena dari dalam kamar yang sudah pasti dapat didengar oleh Alazka.
“Nah, akhirnya selesai” kata Alena sambil merebahkan tubuhnya di atas kasur, besok adalah hari yang ditunggu-tunggu olehnya, besok mereka akan memulai perjalanan dari sekolah menggunakan bus, sampai ke gapura Desa Lembah Biru, selanjutnya mereka harus menempuh perjalanan menggunakan mobil pick up warga disana, karena jalanan yang bisa dibilang sangat sempit, sehingga tidak memungkinkan untuk dilewati bus.
Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba, Alena sudah selesai sejak subuh hari tadi, kini ia sedang melahap nasi goreng bikinan papanya. Lalu mengambil barang-barangnya dan berpamitan kepada papanya. “Pa, Alena pergi dulu ya, doain Alena semoga berhasil” pamit Alena, “Pasti, jaga diri baik-baik!” jawab papa. “Iya pa” jawab Alena, lalu ia langsung memasuki mobil yang disetiri oleh supir pribadinya. Sesampai di sekolah, Alena mendapati teman-temannya yang sudah terlebih dulu sampai. Ia senang melihat teman-temannya bersemangat.
Di dalam bus, Alena duduk dibarisan terdepan bersama Rere. Saat di bus mereka mengsisi waktu kosong tersebut dengan menyanyi, bercanda, bahkan tidur. Sejauh ini Alena sangat puas karena tidak ada teman yang terlalau mempermasalahkan idenya. Bus pun berhenti tepat di depan gapura bertuliskan “Selamat Datang di Desa Lembah Biru” gapura yang sudah sangat tua, bahkan tulisannya saja sudah sangat sulit dibaca. Mereka menuruni bus dan melanjutkan perjalanan dengan menaiki pick up. Saat berada di pick up, Alena dan teman-temannya sangan takjub melihat pemandangan yang masih sangat asri dan indah, udara yang masih sejuk belum terlalu banyak terpapar polusi karena sangat jarang kendaraan bermotor melewati desa terpencil itu.
Ternyata Desa Lembah Biru masih harus ditempuh dengan berjalan kaki, tetapi Vandy tidak membicarakan hal ini terlebih dulu, dia hanya mengatakan tentang pick up saja. Di sinilah mulai Alena mendengar keluhan-keluhan dari teman-temannya. Vandy hanya bisa meminta maaf, ia mengatakan kalau ia mengatakan hal ini terlebih dulu pasti banyak murid yang tidak ingin mengikuti kegiatan ini. Ada benarnya juga kata Vandy, tapi kan kalau gini Alena yang jadi repot.
Sesampai di desa, ternyata para warga sudah siap menyambut kedatangan murid dari Inaffable High School. Mereka sudah menyiapkan bebrapa hidangan makanan khas mereka, dan yang sudah tentu akan dilahap habis dalam kurun waktu tidak sampai tiga puluh menit karena juga perjalanan yang ditempuh bukanlah dekat. Jadi wajar saja kalau perut mereka sudah pada keroncongan. Setelah menyelesaikan makanannya, mereka semua membangun tenda di tempat yang telah disiapkan oleh kepala desa, sebuah lapangan luas yang dikelilingi dengan perkebunan. Melihat perkebunan yang hijau rasanya tidak cukup waktu kalau hanya seminggu disini. Setelah semua tenda sudah berdiri dengan sempurna. Mereka semua beristirahat agar dapat melakukan aktivitas di esok hari.
Pukul lima pagi semua murid sudah terbangun dan menyiapkan dirinya masing-masing. Kegiatan hari pertama adalah, membersihkan lingkungan sekitar. Meskipun di desa Lembah Biru sangat asri dan indah, tapi tetap saja masih banyak sampah plastik yang berserakan di mana-mana. Jadi semua murid diwajibkan mengutip setiap sampah yang ada di depannya, lalu dilanjutkan dengan aktivitas bebas karena masih hari pertama, makanya mereka masih bisa bersantai-santai.
Hari kedua, hari ini mereka sudah tidak lagi menginap di tenda, melainkan di beberapa rumah warga. Alena menumpang di rumah keluarga Bapak Darsa dan Ibu Eka, mereka meliki satu orang anak laki-laki yang kalau sekolah seharusnya ia sudah duduk di kelas delapan, sama seperti Alazka.
“Permisi pak, saya Alena ini Reka kami murid dari Inaffable High School, apa benar ini dengan rumah Bapak Darsa” tanya Alena kepada seorang bapak tua yang membuka kan pintu rumah kepada mereka berdua. “Iya, benar Nak, kalian ingin menginap di sini bukan?” jawab bapak itu. “Iya Pak” jawab Alena sambil tersenyum. “Yaudah, ayo langsung masuk saja” Bapak Darsa mempersilahkan Alena dan Reka. Rumah nya bisa dibilang sangat sederhana hanya ada dua kamar kecil, ruang tamu, dan dapur kecil yang masih satu ruangan dengan ruang tamu. Reka sempat mengeluh kepada Alena karena ia tidak mau tinggal di tempat seperti ini. Terlihat seorang wanita paruh baya berjalan dari dapur menghampiri mereka berdua, “Perkenalkan saya Eka” kata wanita tersebut. “Iya Bu, saya Alena dan ini Reka” jawab Alena memperkenalkan dirinya dan Reka. “Maaf ya, rumah nya jelek, sempit, kumuh” lanjut wanita itu sambil memperhatikan sekeliling rumah, “Tidak apa-apa kok buk, ini sudah lebih dari cukup. Ibu menerima kami saja kami sudah senang sekali” jawab Alena, Reka menjadi tidak enak karena sempat mengeluh kepada Alena soal kondisi rumah.
Semua murid dibagi menjadi dua atau tiga orang di setiap rumah warga, dan tugasnya adalah membantu pekerjaan warga pemilik rumah yang ditempatinya. Mayoritas pekerjaan warga disini adalah seorang petani, pekerjaan sehari-harinya mengurus kebun. Alena dan Reka sudah siap untuk membantu Pak Darsa berkebun. Sesampai di kebun sudah banyak warga dan tema-teman yang lain. “Kira-kira ini kapan panennya Pak?” tanya Reka. “Kalau memang berhasil, insyaAllah bulan depan” jawab Pak Darsa. Saat Alena dan Reka sedang membantu Pak Darsa bekebun, Tio anak pak Darsa dan anak-anak warga lainnya, datang untuk membantu pekerjaan orang tuanya masing-masing. “Lho, Tio kamu ngga sekolah?” tanya Alena, “Tidak kak” jawab Tio dengan raut wajah sedih, “Kenapa? Jangan suka bolos ngga bagus lho” lanjut Reka. “Bagaimana mau sekolah, di desa kami tidak ada sekolah. Kalau ingin sekolah harus ke kota dan menempuh jarak yang sangat jauh dan membutuhkan biaya yang sangat mahal” jawab Pak Darsa. “Kenapa bisa tidak ada sekolah?” tanya Alena. “Tidak ada warga kami yang berprofesi sebagai guru di sini, dulu sempat ada yang datang kesini, seperti kalian, tapi hanya beberapa bulan saja karena mereka tidak sanggup dengan kehidupan kami yang jauh barbanding terbalik dengan kehidupan kalian,” jelas Pak Darsa.
“Re, aku ada ide gimana kalau kita buka sekolah kecil-kecilan aja di sini kita ajarin mereka sebisa kita saja, kan kasihan juga di umur mereka ngga sekolah, gimana menurutmu?” tanya Alena kepada Reka saat perjalanan pulang dari kebun menuju rumah Pak Darsa. “Iya, aku juga setuju nanti aku kabari yang lain di group chat” jawab Alena. Sesampai di rumah Pak Darsa Alena dan Reka langsung membersihkan diri dan mengabari teman-teman lain lewat group chat tentang ide membuat sekolah kecil-kecilan, sekaligus menanyakan siapa yang bersedia menjadi guru dan ternyata respon dari mereka juga sangat baik, termasuk Vandy.
Sekolah kecil-kecilan tersebut dibuka di pondok tempat biasanya warga beristirahat. Pembelajaran dimulai dari pukul 7 pagi sampai pukul 11 pagi dan dilanjutkan dengan kelas kreativitas dari jam 3 petang hingga pukul 5 petang. Kelas pembelajaran diisi oleh Alena, Vandy, dan Reka. Kelas kreativitas diisi oleh Farhan, Rere, dan Bagas. Yang lain tetap membantu warga melakukan aktivitasnya.
“Jadi adik-adik semua, perkenalkan nama kakak Vandy. Di sini kakak akan mengajarkan kalian pelajaran matematika. Kalau yang ini Kak Alena, Kak Alena akan mengajarkan kalian bahasa inggris dan yang satunya lagi Kak Reka, Kak Reka akan mengajarkan kalian pelajaran IPA,” Vandy memperkenalkan dirinya dan kedua temannya. Tidak banyak jumlah muridnya, tetapi setidaknya ada beberapa anak yang memiliki kemauan untuk belajar. Pembelajaran di hari pertama sudah berjalan dengan lancar dan Alena sangat senang karena respon dari adik-adik didik nya sangat bersemangat meskipun lumaya susah untuk mengajar mereka dari dasar. Di kelas kreativitas mereka diajak untuk brain gym oleh Farhan dan dilanjutkan dengan menghafal lagu-lagu kebangsaan oleh Rere dan Bagas.
Sudah lima hari murid Inaffable High School berada di desa Lembah Biru dan semakin banyak penambahan murid di sekolah kecil-kecilan. Warga merasa pekerjaannya semakin ringan karena dibantu oleh murid Inaffable High School. Namun dua hari lagi mereka sudah harus pergi, “Well guys, we’ve been studying together for a few days, so now kakak mau nanya nih, nanti kalau kalian sudah besar mau jadi apa?” tanya Alena membuka pelajaran hari ini. “Aku mau jadi guru kak, tapi aku mau jadi guru di desaku saja, supaya anak-anak di desaku bisa pintar-pintar seperti kakak. Tapi kakak harus janji bakal ngajarin aku sampai pintar” jawab Uci dengan semangat. Mendengar perkataan tersebut Alena menjadi sedih karena keberadaannya hanya tinggal dua hari lagi. “Wahh, bagus sekali Uci. Kakak yakin kamu pasti bisa lebih pintar daripada kakak di sini” jawab Alena. “Kalau yang lain?” tanya Alena. “Aku kak, aku mau jadi dokter, nanti kalau ibu sakit aku bisa ngobatin ibu” jawab Tio. Ibu Eka memanglah sering sakit, sehingga Tio harus membantu Pak Darsa mengurus kebun. “Iya bagus Tio, kakak yakin semua dari kalian disini pasti memiliki cita-cita yang bagus dan kakak yakin kalian pasti bisa ngewujudin impian kalian, asalkan kalian percaya kalau kalain bisa meraihnya dan tidak boleh putus asa dan tetap konsisten” seketika Alena jadi rindu papanya, tapi ia juga sedih kalau harus meninggalkan desa ini. “Nah, hari ini kita belajar bahasa inggris nya profesi ya” lanjut Alena memulai pelajaran.
Setelah pelajaran selesai, Alena masih duduk di pondok sambil memandangi pemandangan kebun, sambil memikirkan jawaban adik didiknya tadi pagi, sejujurnya Alena juga masih sangat ingin terus berada di desa Lembah Biru ini, tapi tidak mungkin juga kalau dia terus-terusan di desa ini.
“Len!” panggil Vandy membuat Alena kaget.“Apa?” jawab Alena ketus, “Lo ngapain disini, ngga balik?” tanya Vandy ikut duduk di samping Alena. “Nanti” jawab Alena singkat, “Lo belum siap pulang ya?” tanya Vandy seolah bisa membaca pikiran Alena, “Gue ngga tega aja ngeliat merek, kasihan masih kecil ngga sekolah, apalagi mereka anak yang pintar. Gue pingin tetap disini” jelas Alena. “Yaudah, kalau gitu kita tambah beberapa hari aja lagi” jawab Vandy, “Ya ngga bisa lah, kita kan udah ada kesepakatan duluan” toalak Alena. “Iya juga sih, yaudah nanti kita pikirkan lagi, ayo balik udah mau maghrib” ajak Vandy. Alena pun menurut dan pulang ke rumah pak Darsa diantar oleh Vandy, lalu Vandy balik ke rumah warga yang ditumpanginya.
Setelah makan malam Alena dan Reka bersiap-siap untuk tidur. Saat Alena hendak tidur, tiba-tiba Tio berteriak memanggil pak Darsa. Lalu Alena dan Reka bergegas keluar dan melihat Tio sedang menangis dan Bu Eka tergeletak pingsan di dapur. Alena langsung menelepon Vandy untuk menyuruhnya datang ke rumah pak Darsa. Lalu Bu Eka dibawa ke rumah kepala desa, saat itu pak Darsa sedang di rumah warga lain. Ternyata penyakit Bu Eka bukanlah penyakit biasa, melainkan penyakit serius dan harus segera ditangani. Vandy menelepon papanya dan meminta agar mengirim dokter pribadi papanya untuk datang ke desa ini. Vandy memanglah dasar anak orang kaya. Tio hanya bisa terus menangis di pelukan Alena dan terus meminta Alena untuk tidak pergi. Alena semakin bingung, sedangkan lusa ia sudah harus pulang.
Setelah ditangani oleh dokter pribadi papanya Vandy, Bu Eka sudah siuman dan sudah bisa kembali ke rumahnya lagi. Begitu pun dengan Vandy dan teman-teman lainnya, semuanya kembali kerumahnya masing-masing untuk beristirahat agar besok dapat melakukan aktivitas seperti biasa lagi.
Hari ini adalah hari terakhir kelas pembelajaran di sekolah kecil-kecilan karena besok pukul 7 pagi, mereka semua sudah harus pulang. Namun sulit sekali rasanya bagi Alena untuk mengatakan hal itu kepada adik-adik didiknya, “Hi guys, how are you today?” Alena membuka pelajaran, “I’m fine thankyou, and you?” jawab para murid dengan serempak. “Yeah, i’m fine too” lanjut Alena. “Jadi adik-adik semua, hari ini adalah hari terakhir perjumpaan kita. Kakak harap pelajaran yang kakak berikan ngga kalian lupakan ya, bahasa inggris nya harus selalu di latih ya, kakak juga minta maaf kalau belum bisa jadi guru yang baik untuk kalian. Nanti kakak janji kakak akan kembali kesini lagi” jelas Alena dengan tetap tersenyum, meskipun sebenarnya ia sangat sedih. “Kakak kenapa ngga mau ngajar kami lagi? Kami ada salah sama kakak ya? Kami minta maaf, kak kami mohon jangan pergi kak” jawab Uci yang tidak terima. “Bukan, kakak bukan ngga mau ngajar kalian lagi, kalian juga ngga ada salah kok sama kakak. Tapi kan kakak juga punya mimpi, kakak juga belum menjadi orang sukses” jawab Alena lagi. Lalu dilanjutkan oleh Reka dan Vandy. “Kak Vandy sama Kak Reka juga minta maaf ya, kalau ada salah sama kalian. Kalian harus tetap semangat belajarnya yaa” kata Reka. Vandy memilih untuk diam dan hanya mengangguk-angguk setiap ucapan Reka dan Alena.
Hari yang paling tidak diinginkan oleh Alena pun tiba, hari dimana ia harus berpisah dengan adik didiknya, dengan pak Darsa, ibu Eka, dan desa Lembah Biru. Rasanya berat sekali untuk bangun di pagi ini, karena setelah ia bersiap-siap ia bukannya mengajar, melainkan harus pergi meninggalkan desa ini. Jam sudah menunjukka pukul 5.30 tapi Alena belum juga berberes. Reka terus mengomelinya, “Bangun, beres-beres nanti ketinggalan lho” omel Reka. “Iya iya” jawab Alena sambil berjalan menuju ke kamar mandi. Saat Alena keluar kamar, ia melihat Tio sudah rapi, ia hanya tersenyum melihat Tio, dan tidak melontarkan sepatah kata pun.
“Ayo, kumpul semua di sini” suara Vandy terdengar jelas melalui TOA yang digunakannya, semua murid berkumpul di halama rumah kepala desa, persis seperti hari mereka sampai di desa ini. Namun dengan perasaan yang berbeda, Alena rasa bukan hanya Alena yang merasa sedih untuk meninggalkan desa ini, tapi hampir seluruh murid juga merasakan hal sama. “Saya selaku ketua panitia kegiatan outbound ini mengucapkan, terima kasih kepada bapak ibu semua, karena sudah mengizinkan kami untuk berkunjung ke desa kalian, terima kasih juga karena sudah mengajarkan kami beberapa ilmu yang mungkin tidak akan kami dapatkan ditempat lainnya, dan juga terima kasih telah memberikan tempat tinggal kepada kami” ucap Vandy. Selanjutnya sesi penyerahan ucapan terima kasih dari Inafabble High School kepada desa Lembah Biru, dan dilanjutkan dengan foto bersama. Beberapa murid tidak pulang dengan tangan kosong melainkan mereka mendapatkan buah dari warga yang rumah ditempati.
Semua murid sudah berbaris, hanya Rere dan Alena yang masih diluar barisan. Rere sudah mengajak Alena beberapa kali untuk langsung memasuki barisan tapi Alena tetap menolak, ia mendahulukan teman-teman yang lain. “Len, ayo baris!” ajak Rere, “Iya, sebentar lagi tunggu yang lain dulu, lagian kita jalan di baris terdepan” jawab Alena sambil celingak-celingukan. “Kamu nyari siapa sih” tanya Rere heran. “Tio dan teman-temannya” jawab Alena. “Kan kita sudah pamit kemarin, mereka sudah tahu kok kalau kita mau pulang” lanjut Rere. Setelah lama menunggu, dan Vandy sudah memanggil nama mereka beberapa kali Alena pun menyerah, ia jalan sambil tertunduk, ia menendang batu-batu yang di depannya, ia benar-benar tidak mau pergi. Rere terus menghiburnya, tapi hasilnya nihil. Sesampai di barisan Vandy mengabsen semua siswa agar tidak ada yang ketinggalan, sampai ke nama yang terakhir, akhirnya mereka memulai perjalanan, namun tiba-tiba “Kak Alenaaa, tunggu!” teriak seorang anak kecil, Alena langsung mencari sumber suara tersebut, ternyata itu adalah Tio, Tio pergi bersama teman-temannya. Lalu mereka berlari ke arah barisan, “Tio, kamu kemana saja? Kakak mencarimu dari tadi” tanya Alena sambil memegang pundak Tio, namun Tio tidak menjawabnya “Kami ada sesuatu untuk kakak, semoga kakak selalu ingat sama kami ya, dan aku harap kakak kembali lagi kesini” ucap Tio sambil memberikan sebuah kotak yang entah apa isinya, setelah ia memberikan kotak itu ia langsung berlari meninggalkan Alena dan juga disusul oleh teman-temannya.
Perjalanan pulang sama halnya seperti saat pergi, mereka harus menempuh dengan berjalan kaki, lalu menaiki pick up dan yang terakhir bus. Sepanjang jalan pulang Alena hanya diam membisu sambil menatap kota yang diberikan oleh Tio. Perjalanan pulang tidak diisi dengan tawa canda atau nyanyian, melainkan diam dan tidur.
Siang hari Alena sudah sampai di rumahnya, papa nya menyambut Alena dengan sumringah, tapi berbanding terbalik dengannya, Alena masih memendam kesedihan, walaupun Alena juga senang berjumpa dengan papanya. “Wah wah, kok princess papa yang cantik ini pulang dari outbound bukannya senang tapi malah sedih gini, kenapa?” tanya papa sambil memeluk putrinya itu. “Aku sedih pa, harus berpisah sama adik-adik didikku disana. Mereka punya impian yang tinggi-tinggi pa, mereka juga pintar-pintar. Namun sayangnya disana tidak ada sekolah, mereka kesulitan untuk menuntut ilmu pa” jelas Alena kepada papanya. “Ooo, ternyata itu masalahnya, do you need my help?” tanya papa sambil tersenyum, “Papa seriusan mau bantu?” seketika Alena yang tadinya sedih sekarang malah lompat-lompat kegirangan, “Ya selagi bisa kenapa tidak, kamu mau papa bantu apa?” tanya papa, “Bisa tidak, papa membangun satu sekolah di desa Lembah Biru dan mengirim beberapa guru dan dokter ke sana?” lanjut Alena “Kalau begitu ya bisa saja sih, tapi papa tidak mau melakukan itu dengan cuma-cuma” jawab papa, “Jadi gimana? Aku harus bayar gitu ke papa?” tanya Alena, “Iya, tapi bayarnya bukan pakai duit. Bayarnya pakai prestasi, buktikan kepada papa kalau kamu bisa lulus SBMPTN tahun ini” lanjut papa.
Setelah hari itu, Alena terus belajar dengan giat. Ia tidak mau Tio dan teman-temannya harus kehilangan mimpinya. Tes SBMPTN diadakan bulan depan. Jadi Alena sudah benar-benar fokus belajar, bahkan ia tidak menyempatkan dirinya sama sekali untuk nongkrong dengan teman-temannya.
Hari tes pun tiba, Alena benar-benar gugup karena kesempatan ini hanya ada satu kali. Jangan sampai ia menyia-nyiakannya. Alena pergi diantar oleh papanya, sangat ramai orang di tempat tes tersebut membuat Alena semakin gugup, namun dia selalu mengingat ucapan papanya untuk selalu percaya diri dan yakin kalau diri kita sanggup dan mampu asal kita mau, dan tidak lupa Alena terus berdoa meminta kepada tuhan agar diberi kemudahan dalam menjalani tes.
Tes pun sudah dilalui oleh Alena, sekarang tinggal menunggu hasilnya saja, sekarang Alena hanya pasrah dan terus berdoa. Ia lebih sering mengurung diri dikamar, ia melakukan aktivitas yang membuat nya lebih tenang, namun hasilnya nihil, ia terlalu takut.
“Alena, papa dengar hasil tes SBMPTN keluar minggu depan, apa itu benar?” tanya papa saat di meja makan, “Iya pa” jawab Alena dengan suara gemetar. Tinggal beberapa hari lagi hasil tes tersebut akan keluar. Setelah makan Alena beranjak ke kamar nya lagi, saat memasuki kamar ia duduk di meja belajar, dan mendapati sebuah kota yang pernah diberikan Tio kepadanya, dan sampai sekarang Alena belum tau apa isinya. Untuk mengurangi rasa gugup Alena memilih untuk membuka kotak tersebut dan melihat isinya. Saat membuka kotak tersebut yang ada di pikiran Alena pasti isi kotak tersebut bingkisan atau semacamnya, namun ia sangat terkejut saat mengetahui isi kotaknya, yang ternyata adalah tanah dan sepucuk surat. Surat tersebut berisikan “Berjanjilah kak, kakak akan kembali untuk memijakkan kaki kakak di atas tanah ini”. Seketika air mata Alena pun mengucur deras, jika ia tidak lulus SBMPTN mungkin hal tersebut akan menjadi hal yang paling di sesali di dalam hidupnya.
Hari pengunguman pun tiba, Alena pergi bersama papanya untuk melihat pengunguman itu. Saking gugupnya Alena sampai gemetar, papanya tersenyum geli melihat tingkah laku putrinya itu. Karena ramainya orang sehingga membuat Alena dan papanya kesulitan melihat pengunguman dan sekarang Alena tepat berada di depan papan pengunguman. Ia mencari namanya dan ternyata. Ia lulus, ia sontak kegirangan ia tidak memperdulikan orang sekitar. Ia terus berteriak kegirangan dan mecari papanya. “Papaaaa aku lulus” teriaknya dari kejauhan. “Wah, selamat Nak” ucap papa, “Janjinya pa!” lanjut Alena sambil tersenyum lebar, “Iya” jawab papa singkat
Sesuai dengan janji papa, gedung yang dibangun untuk sekolah di desa Lembah Biru pun sudah selesai dalam kurun waktu hanya satu bulan. Namun Alena belum pernah pergi untuk melihat langsung dan hari ini papanya sudah berjanji akan mengajaknya ke sana karena di hari ini pula sekolah tersebut diresmikan dibuka.
Masih dengan suasana yang sama, hanya saja jalan kecil yang dulu hanya bisa ditempuh dengan jalan kaki saja sekarang sudah bisa dilewati mobil. Alena sudah tidak sabar ingin berjumpa dengan Tio dan teman-temannya.
Sesampai di depan gedung sekolah, Alena turun dan melihat ke sekitar. Ternyata tempat tersebut adalah tempat di mana ia dan teman-temannya dulu membangun tenda. “Kak Alenaaa” panggil seseorang, Alena membalikkan badannya dan melihat rombongan anak kecil mengarah ke arah nya, ya mereka adalah Tio dan teman-temannya. “Kakak sudah menepati janji untuk kembali memijakkan kaki di atas tanah ini, dan kami juga akan berjanji akan menjadi orang sukses dan memijakkan kaki kami di atas tanah kota nanti” ucap Tio. “Kakak pegang janji kamu, tapi ingat jangan lupa berdoa karena usaha tanpa doa sama saja bohong dan niatkan menuntut ilmu untuk beribadah dan membangun bangsa agar lebih maju, negeri kita membutuhkan penerus yang memiliki sifat religius dan patriotisme, bukan hanya mementingkan status sosial pribadinya saja. Promise?” lanjut Alena sambil mengacungkan jari kelingkingnya. “I’m promise” jawab Tio, “I’m promise” dilanjutkan oleh Uci, dan seterusnya.

Selesai

Aesha Lathieva Alrashada, siswi SMPIK Nurul quran

Sang Fajar Bersinar

Penemuan Mesin

Pesta Ulang Tahun

spot_img
spot_img
spot_img
Banda Aceh
overcast clouds
26.3 ° C
26.3 °
26.3 °
80 %
0.5kmh
95 %
Sel
26 °
Rab
28 °
Kam
29 °
Jum
28 °
Sab
28 °

Last Artikel

spot_img