26.3 C
Banda Aceh
BerandaCerpenPersahabatan Zevalza

Persahabatan Zevalza

Cerpen  –  Aku melihat banyak sekali awan yang berwarna – warni. Plukk!! Kaki ku lagi – lagi tenggelam dalam lembutnya awan. Dari kejauhan aku melihat Reina menari di atas awan bersama para bidadari. Tiba – tiba… aku terjatuh dan terperosok ke dalam lubang yang tak kuketahui dari mana asalnya. Kepalaku pusing.

Astagfirullah! Aku terbangun dari tidurku. Aku tertidur di atas sajadah seusai menunaikan shalat dzuhur. Kejadian di sekolah tadi membuatku cukup lelah.

Entah mengapa akhir – akhir ini aku selalu saja memikirkan Reina. Reina adalah sahabatku. Dia meninggal 5 tahun yang lalu karena kecelakaan yang menimpa kami saat sedang berlibur.

Perkenalkan namaku Zevalza atau akrab disapa Alza. Aku bersekolah di rumah atau sering disebut home schooling sejak beberapa tahun lalu. Sebelumnya aku bersekolah disalah satu sekolah dasar internasional.

Aku memilih untuk home schooling sejak kepergian Reina, sahabatku beberapa tahun lalu. Kami telah bersahabat cukup lama, namun Allah lebih sayang pada Reina. Allah mengambil Reina tepat dihari ulang tahunnya.

Hari itu kami sedang berlibur ke pantai untuk merayakan ulang tahun Reina. Kami pergi diantar oleh Pak Wawan, supir pribadi keluargaku.

Kami menghabiskan waktu bersama di pantai. Setelah menghabiskan waktu yang cukup lama di pantai, kami pun pulang. Diperjalanan, aku melihat ada sesuatu yang aneh pada Reina. Reina lebih banyak diam dan merenung sambil melihat pemandangan di luar jendela.

Tiba – tiba dari kejauhan aku melihat ada sebuah truk yang hilang kendali. Pak Wawan mencoba menghindari truk tersebut. Namun naas, mobil yang kami tumpangi pun hilang kendali dan terguling.

Mobil kami terpelanting jauh. Aku melihat Reina terluka parah akibat pecahan kaca. Orang – orang pun mulai berteriak meminta bantuan. Setelah itu aku sudah tak sadarkan diri lagi.

Aku mulai membuka mataku, aku melihat kedua orang tuaku berdiri di sebelah ranjang rumah sakit. Aku langsung menanyakan keadaan Reina pada kedua orang tuaku. Aku melihat mereka menangis.

“Apa yang terjadi pada Reina ma, pa?” Tanyaku pada kedua orang tuaku. Mereka hanya terdiam sambil menagis.
“Apa yang terjadi pada Reina ma? Reina kenapa?” Tanyaku lagi.

“Rein.. Reina telah meninggalkan kita nak.” Kata mama dengan suara yang terbata – bata. Aku terkejut dan tak bisa berkata apa – apa lagi. Badanku terasa dingin dan seakan tak bisa digerakkan lagi.

Kejadian itu membuatku trauma. Aku selalu merasa bersalah atas kejadian yang merenggut nyawa Reina itu. Walaupun itu semua di luar kehendakku, tetap saja aku dihantui oleh rasa bersalah.

Sejak kepergian Reina, aku mulai menutup diri terhadap dunia luar. Aku lebih sering diam dan menyendiri. Aku juga memutuskan untuk keuar dari sekolah umum dan memilih untuk home schooling.

Tak terasa 5 tahun berlalu, rasa kehilangan terus saja menghampiriku. Aku kerap memimpikan Reina. Namun sekarang, aku mulai bisa merelakan kepergian Reina. Aku mulai membuka diri terhadap dunia luar.

Aku mulai bersekolah di sekolah umum seperti dulu dan mulai untuk berteman dengan orang banyak. Namun, memulai semua itu tidak semudah yang kubayangkan.
Tak terasa ini adalah minggu kedua ku di sekolah. Aku sudah mencoba untuk berteman dengan orang lain. Tapi entah mengapa, aku selalu menjauh kerap kali ada yang ingin berteman dengan ku.

Tidak hanya itu, aku juga sering membanding – bandingkan semua orang dengan Reina. Aku menganggap tidak ada seorangpun yang dapat menggantikan Reina.

Sifat itulah yang kadang membuat tidak ada satu orang pun yang ingin berteman dengan ku.
Suatu hari, ada seorang anak yang mencoba memdekati ku.

Dia mengajakku berbincang – bincang santai, tetapi aku mengacuhkannya. Aku menganggap dia bukan orang yang tepat untuk berteman denganku. Walaupun aku mengacuhkannya, dia tidak putus asa. Keesokan harinya, dia mendekatiku lagi. Tapi kali ini dia membawa makanan kesukaan ku. Aku terheran – heran.

“Bagaimana dia bisa tau makanan kesukaanku? Yang tau makanan kesukaanku kan hanya keluargaku dan Reina.” Ucapku dalam hati.

Aku pun menerima makanan darinya, walaupun aku masih bingung darimana dia mengetahui makanan kesukaanku.
“Makasih ya..” Ucap ku.

“Sama – sama, oh ya… sebelumnya kita belum kenalan ya. Namaku Nindyhta, kamu bisa panggil aku Nindy.” Ujarnya
“Namaku Zevalza, biasa dipanggil Alza.” Jawabku singkat sambil memakan makanan yang dibawa oleh Nindy.
“Makasih atas makanannya.” Jawabku seraya mengembalikan tempat makan yang dibawa Nindy dan langsung pergi meninggalkannya.

Akhir – akhir ini aku jadi lebih sering mengobrol dengan Nindy. Aku semakin merasa nyaman saat bersamanya. Aku merasa seperti sedang bersama Reina.
“Pagi ini cuacanya dingin sekali” ucapku seraya berjalan menuju kelas.
Hari ini aku berangkat lebih pagi karena harus menjalankan tugas piket. Saat aku memasuki kelas, aku melihat Nindy sedang duduk sambil memandangi sebuah foto.
“Pagi Nind!” Ucap ku sambil duduk di sebelah Nindy.
“Itu foto siapa Nind? Coba aku lihat.” Aku mengambil foto tersebut dari tangan Nindy.
“Ini foto Reina kan?? Darimana kamu dapat foto ini?? Kamu kenal Reina??” Aku menanyakan banyak pertanyaan sekaligus kepada Nindy.
“Maaf aku enggak pernah cerita soal ini sama kamu Za.” Jawab Nindy.
“Maksud kamu?? Jangan – jangan firasatku selama ini benar. Dari awal aku udah ngerasa ada yang aneh sama kamu. Ada hunungan apa kamu dengan Reina? Dan bagaimana kamu bisa tau banyak hal tentang ku?” Tanyaku sambil membenarkan posisi duduk ku.
“Aku akan cerita semuanya sama kamu Za.” Ujar Nindy.
“Aku dan Reina adalah teman baik.” Nindy memulai ceritanya.
“Dulu kami bertetangga, rumahku berada tepat disebelah rumah Reina. Kami sering menghabiskan waktu bersama. Reina sering menceritakan banyak hal padaku, salah satunya tentang kamu Za. Reina menceritakan semua hal tentangmu, mulai dari hal yang kamu sukai hingga hal yang paling kamu benci. Reina juga cerita bahwa kamu adalah sahabat terbaik yang dia punya. Dia sangat bahagia bisa bersahabat dengan mu.” Cerita Nindy.
“Terus kenapa kamu mau berteman denganku?” Tanyaku pada Nindy dengan wajah kebingungan.

“Seminggu sebelum Reina meninggal, aku pindah ke luar kota karena ayahku pindah tugas. Reina sering menceritakan tentang persahabatan kalian, dia ingin mengenalkanku padamu, dia ingin kita bertiga menjadi sahabat baik. Dua tahun setelah kematian Reina, aku kembali ke kota ini dan mencari keberadaanmu. Aku mencarimu disekolah kalian dulu, tapi aku mendapat kabar bahwa kamu sudah tidak bersekolah disitu. Sudah lama aku mencarimu, lalu aku mendapat kabar bahwa kamu bersekolah disini. Jadi aku pun memutuskan untuk bersekolah disini dan berteman denganmu.” Jawab Nindy.

Jujur aku masih tidak paham mengapa Nindy ingin bersahabat denganku. Tapi, obrolan hari itu mengubah segalanya. Aku menjadi lebih terbuka terhadap dunia luar. Sekarang aku pun lebih bisa menerima kepergian Reina. Akhirnya, aku dan Nindy pun menjadi sahabat baik.

~ SELESAI ~

Dinda Durrun Faradisa

Sang Fajar Bersinar

Penemuan Mesin

Pesta Ulang Tahun

spot_img
spot_img
spot_img
Banda Aceh
overcast clouds
26.3 ° C
26.3 °
26.3 °
80 %
0.5kmh
95 %
Sel
26 °
Rab
28 °
Kam
29 °
Jum
28 °
Sab
28 °

Last Artikel

spot_img