KABARDAILY.COM,JAKARTA, Natural Aceh akan berpartisipasi dalam forum Accelerating Women’s Entrepreneurship & Unlocking Funding for Women’s Economic Empowerment (WEE) in Indonesia, yang diselenggarakan oleh AVPN pada Kamis, 5 November 2026, di Shangri-La Jakarta, Jakarta Pusat.
Dalam forum yang dijadwalkan berlangsung pukul 10.00–13.00 WIB tersebut, Zainal Abidin Suarja, Director Natural Aceh, akan berbagi pengalaman mengenai pengembangan dan perluasan solusi pemberdayaan ekonomi perempuan berbasis komunitas, khususnya perempuan di wilayah pesisir Aceh.
Partisipasi ini membawa pengalaman dari tingkat akar rumput ke dalam diskusi mengenai bagaimana usaha perempuan dapat berkembang melalui akses pasar, penguatan kapasitas, kemitraan, pembiayaan, serta dukungan ekosistem yang berkelanjutan.
Dua sesi yang melibatkan Natural Aceh
Natural Aceh tercantum dalam dua sesi utama berdasarkan agenda acara yang diterima.
Pada pukul 10.15–10.35 WIB, Natural Aceh dijadwalkan tampil dalam sesi Impact Spotlight: Champions of Women’s Entrepreneurship. Sesi ini menghadirkan tiga organisasi yang berbagi pengalaman mengenai solusi nyata bagi perempuan pelaku usaha dan model pemberdayaan ekonomi perempuan di Indonesia.
Selain Natural Aceh, organisasi yang tercantum dalam sesi tersebut adalah Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia melalui Lembaga Bantuan Hukum Yogyakarta, serta Yayasan Generasi Maju Berkarya melalui Generation Girl.
Selanjutnya, pada pukul 10.35–11.20 WIB, Zainal Abidin Suarja dijadwalkan menjadi panelis dalam diskusi “Forging the Path: Founder, Funder, Advisor and Government”. Diskusi ini membahas perjalanan membangun usaha, dukungan pendanaan, pendampingan bisnis, serta peran pemerintah dalam memperluas skala usaha yang dipimpin perempuan atau mendukung mata pencaharian perempuan.
Panel tersebut dimoderatori oleh Joyita Ambett dan menghadirkan empat panelis:
1. Irene Umar, Deputy Minister, Ministry of Creative Economy Indonesia.
2. Amira Ganis, President Director of Brawijaya Healthcare.
3. Anggred Sutetjardja, Chief Sustainability Officer, BUMA International.
4. Zainal Abidin Suarja, Director, Natural Aceh.
Keterlibatan Natural Aceh dalam kedua sesi tersebut menjadi kesempatan untuk memperkenalkan pengalaman pemberdayaan ekonomi perempuan pesisir kepada jejaring organisasi, pelaku usaha, pemerintah, dan investor sosial.
Mengembangkan ekonomi perempuan melalui tiram dan mangrove
Salah satu fokus Natural Aceh adalah menghubungkan pengembangan mata pencaharian perempuan dengan keberlanjutan ekosistem pesisir.
Di Alue Naga, Banda Aceh, Natural Aceh memiliki pengalaman mendukung perempuan yang sebelumnya bergantung pada kegiatan pengumpulan tiram untuk mengembangkan peluang mata pencaharian melalui budidaya tiram dan pengolahan produk bernilai tambah. Pengembangan produk seperti keripik, kerupuk, nugget, dan bubuk tiram membuka peluang diversifikasi usaha, sehingga potensi hasil laut tidak hanya dijual sebagai bahan mentah, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi produk dengan nilai ekonomi yang lebih tinggi. Upaya tersebut berkaitan erat dengan kondisi lingkungan pesisir. Ekosistem mangrove berperan penting dalam melindungi garis pantai, menyediakan habitat bagi organisme pesisir, dan menopang keberlanjutan sumber daya alam yang menjadi dasar mata pencaharian masyarakat.
Karena itu, Natural Aceh mendorong pendekatan yang menempatkan penguatan ekonomi perempuan dan keberlanjutan lingkungan sebagai agenda yang saling mendukung. Perempuan tidak hanya diposisikan sebagai penerima manfaat program, tetapi juga sebagai pelaku usaha dan bagian penting dari pengelolaan sumber daya serta pembangunan ekonomi komunitas.
Pengalaman lain diwujudkan melalui Pasar Laut Aceh, sebuah inisiatif yang mendukung sekitar 300 istri nelayan di Leupung, Lamteungoh, dan Pulo Aceh dalam memasarkan produk lokal, termasuk ikan asin, garam, dan kelapa. Inisiatif ini menekankan pentingnya akses pasar bagi perempuan yang telah memiliki keterampilan dan aktivitas ekonomi, tetapi masih menghadapi tantangan dalam menjangkau pembeli dan mengembangkan usaha. Melalui penguatan pemasaran produk lokal, Pasar Laut Aceh berupaya membuka peluang ekonomi yang lebih luas bagi perempuan pesisir serta memperkuat peran mereka dalam rantai nilai hasil laut dan komoditas lokal.
Pengalaman tersebut memperkuat pendekatan Natural Aceh bahwa pemberdayaan ekonomi perempuan tidak cukup hanya melalui pelatihan. Perempuan juga membutuhkan akses pasar, jaringan usaha, dukungan teknologi yang sesuai, pembiayaan yang inklusif, serta kemitraan yang membantu usaha mereka tumbuh secara berkelanjutan.
Dalam forum AVPN, Natural Aceh akan berbagi perspektif mengenai bagaimana solusi yang berangkat dari kebutuhan masyarakat dapat dikembangkan dan direplikasi di wilayah lain.
Bagi Natural Aceh, memperluas dampak bukan sekadar meningkatkan jumlah penerima manfaat. Proses tersebut juga memerlukan model usaha yang sesuai dengan kondisi lokal, akses pasar yang nyata, penguatan kapasitas perempuan, dan kemitraan yang memungkinkan program berlanjut melampaui periode pendanaan.
“Pemberdayaan ekonomi perempuan bukan hanya tentang meningkatkan produksi atau memberikan pelatihan. Perempuan perlu memiliki akses terhadap pasar, kesempatan mengembangkan usaha, dan ruang yang lebih besar untuk mengambil keputusan ekonomi. Di wilayah pesisir, semua itu juga harus berjalan seiring dengan keberlanjutan sumber daya alam yang menopang kehidupan masyarakat,” ujar Zainal Abidin Suarja.




















