KABARDAILY.COM,NAGAN RAYA – Upaya merawat denyut nadi kesenian tradisi Aceh terus disuarakan, tak terkecuali di Kabupaten Nagan Raya. Pada Minggu, 18 Oktober 2026, sebuah langkah penting ditorehkan melalui penyelenggaraan Workshop Rapai Doa Nagan Raya, atau yang lebih karib dikenal oleh khalayak luas sebagai kesenian Rapai Tuha.
Seni pertunjukan yang kental dengan nuansa spiritual ini tengah berada di persimpangan antara merawat otentisitas masa lalu dan menjawab tantangan zaman. Koordinator Seni Budaya Rapai Tuha, Rizza Amanda Phonna, S.Pd., M.Si., menyoroti urgensi kolaborasi antara seniman senior (tuha) dengan para seniman muda yang ada di Nagan Raya.
Rizza menuturkan, perkembangan seni modern tidak semestinya menjadi batu sandungan bagi eksistensi tradisi yang sudah mengakar kuat. Salah satu polemik dan dilema utama yang dibedah dalam lokakarya ini adalah perihal durasi pementasan. Secara tradisional, pertunjukan klasik Rapai Tuha memakan waktu yang sangat panjang, yakni berkisar antara empat hingga delapan jam.
“Melalui ruang diskusi ini, kita mencari titik temu agar seni pertunjukan Rapai Tuha dapat dikemas dalam durasi yang lebih singkat tanpa kehilangan esensinya. Tujuannya agar kesenian ini bisa dinikmati oleh semua kalangan, tak hanya sebatas masyarakat Nagan Raya, tetapi juga publik Indonesia pada umumnya,” ujar Rizza.
Tantangan adaptasi durasi tersebut tentu harus berjalan beriringan dengan pemahaman filosofis yang mendalam. Pemateri workshop, Said Johar, S.P., menjabarkan rentetan sejarah dan akar fundamental dari terbentuknya seni Rapai Tuha. Ia menekankan bahwa kesenian ini jauh dari sekadar hiburan visual dan audial, melainkan sebuah media pengajaran ketauhidan dan tasawuf.
“Ada banyak prosedur serta tata krama yang harus kita pahami bersama mengenai betapa sakralnya seni tradisi budaya ini,” tegas Said Johar di hadapan para peserta.
Dimensi spiritual tersebut diperkuat oleh pernyataan Ketua Sanggar Rapai Tuha “Tuah Naga”, Amirrudin. Ia menjelaskan bahwa roh dari pementasan ini adalah sarana mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Lantunan yang menggema dari tabuhan rapai mayoritas berisikan zikir, selawat, dan doa yang merujuk pada ketaatan mutlak kepada Allah SWT.
Kabar baiknya, upaya kolektif pelestarian ini mendapat pengakuan strategis dari pemerintah. Perwakilan Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparpora) Nagan Raya, Bustami, S.Pd., M.Si., menegaskan bahwa Rapai Tuha adalah warisan luhur yang eksistensinya wajib dijaga dan dilestarikan oleh lintas generasi. Sebagai bentuk afirmasi, Rapai Tuha pada tahun ini telah resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB).
Sebagai penutup paripurna, lokakarya tersebut tak hanya berkutat pada diskursus teori. Para peserta dan tamu undangan disuguhkan dengan pementasan langsung Rapai Tuha yang dimainkan oleh seniman asli Nagan Raya. Tabuhan ritmis yang menggema hari itu menjadi bukti sahih bahwa Rapai Tuha siap menyapa panggung nasional dengan wajah yang lebih segar, tanpa harus menanggalkan jejak kesakralannya.




















