Mengetuk Pintu Syurga Ar-Rayyan

Oleh : Ahlul Fikri SPdI MPd*

RAMADAN DARING–Ar Rayyan secara bahasa berarti puas, segar dan tidak haus. Ar Rayyan ini adalah salah satu pintu di surga dari delapan pintu yang ada yang disediakan khusus bagi orang yang berpuasa.

Dari Sahal RA, Rasulullah SAW bersabda,”Dalam surga ada satu pintu yang disebut dengan Ar-Rayyan, yang pada hari kiamat tidak akan ada orang yang masuk ke surga melewati pintu itu kecuali orang-orang yang berpuasa. Tidak akan ada seorang pun yang melewati pintu tersebut selain mereka. Lalu dikatakan kepada mereka: mana orang-orang yang berpuasa? Maka orang-orang yang berpuasa berdiri menghadap. Tidak akan ada seorang pun yang masuk melewati pintu tersebut selain mereka.

Apabila mereka semua telah masuk semuanya, maka pintu itu dititup dan tidak akan ada seorang pun yang masuk melalui pintu tersebut. (HR Bukhari).

Tak terasa saat ini kita memasuki fase kedua di bulan suci Ramadan. Bulan Ramadan telah ditetapkan oleh Allah sebagai bulan yang begitu istimewa dibanding sebelas bulan lainnya. Karena di dalamnya terdapat salah satu rukun Islam yang wajib dilaksanakan oleh tiap-tiap individu Muslim yang sudah cukup syaratnya dalam melakukan puasa.

Allah SWT mewajibkan kita melakukan puasa manakala bulan Ramadhan tiba. Sebagai sebuah kewajiban, puasa menempati posisi ketiga dalam pilar Islam setelah kewajiban beriman atas ketauhidan Allah SWT dan kerasulan Nabi Muhammad SAW, lalu shalat. Ada banyak makna yang tersimpan dari kewajiban berpuasa, salah satunya puasa menjadi ukuran atas derajat ketakwaan seseorang. Kita akan melihatnya dari pemaknaan atas puasa.

Karena ibadah puasa ini sangatlah istimewa, Allah tidak menentukan pahalanya. Sebagaimana firmannya dalam hadits qudsi, “Kecuali puasa, maka ia untuk-Ku dan Aku yang akan memberi pahalanya.”

Begitu mulianya ramadhan, hingga Allah menjanjikan bagi orang-orang berpuasa surgaNya. Ia dapat dilalui melalui sebuah pintu bernama Ar-Rayyan.

Nama tersebut ada di dalam hadits muttafaq alaih dari hadits Sahl radhiallahu anhu dari Nabi sallallahu’alaihi wa sallam, beliau bersabda,
“Setiap amal anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa. Sesungguhnya dia untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya.

Puasa adalah tameng, kalau salah di antara kalian ada yang berpuasa, maka janganlah berkata jorok dan jangan berbicara keras. Kalau ada orang yang menghinanya atau hendak menyakitinya, maka katakanlah, ‘Sungguh aku sedang berpuasa.’ Demi jiwa Muhammad yang ada di tangan-Nya. Bau mulut orang berpuasa lebih wangi di sisi Allah dibandingkan bau minyak kasturi. Bagi orang berpuasa akan mendapatkan dua kegembiraan; Gembira ketika berbuka dan gembira dengan puasanya ketika bertemu dengan Tuhannya.” (HR. Bukhari, no. 1771).

Puasa, dalam bahasa Arabnya adalah Shaum. Dalam berbagai kamus bahasa Arab, kata Shaum seringkali diterjemahkan sebagai Imsak yang artinya menahan diri. Untuk itu, secara fiqhiyah, kata puasa diartikan sebagai menahan diri dari hal-hal membatalkan seperti makan dan minum, dimulai dengan niat, dan dilaksanakan sejak subuh hingga azan maghrib berkumandang. Inilah derajat pertama seseorang dalam menjalankan puasa, yakni sekedar menjalankan kewajiban dengan cara menahan diri dari makan, minum, dan hal-hal membatalkan sejak subuh hingga adzan maghrib.

Saat kita memaknai puasa sebagai al-imsak ‘an kulli-l ma’ashiy maka selayaknya kita mengontrol kelima sumber dosa di atas.

Mulut dijaga dari ucapan-ucapan tidak benar seperti fitnah dan berbohong, mata dijaga dari pandangan yang tidak pantas karena mengundang syahwat, telinga dijaga dari hal-hal buruk, tangan dijaga dari perilaku dzolim, dan perut dijaga dari mengkonsumsi makanan-minuman haram baik karena dzat maupun cara perolehannya. Ketika puasa dimaknai sebagai al-imsak ‘an kulli-l ma’ashiy, maka menahan diri itu harus dilakukan dalam seluruh waktu.

Bukan sekedar menahan diri sejak subuh hingga adzan maghrib seperti pengertian puasa dalam batasan yang sangat sederhana. Saat berbuka misalnya, kita berbuka dengan makan-makanan yang secara dzat halal, tapi ketika puasa dimaknai sebagai al-imsak ‘an kulli-l ma’ashiy, maka kita tidak bisa berbuka dengan makanan-minuman halal tapi diperoleh melalui korupsi.

Selanjutnya, puasa juga diartikan sebagai al-Imsak ‘an Hubbiddunya, yakni menahan diri dari cinta-ketertarikan berlebihan pada hal-hal duniawi. Kita mungkin pernah mendengar nama seorang filsuf sekaligus sufi berpengaruh, Muhiddin Abu Abdullah Muhammad ibn Ali ibn Muhammad ibn Ahmad ibn Abdullah Hatimi at-Ta’i (L. 1165 M- W. 1240 M) atau lebih dikenal sebagai Ibn Arabi. Konon, ia merupakan orang kaya dengan lahan peternakan teramat luas. Namun, kekayaan tidak membuatnya lupa. Siapa pun yang datang kepadanya dan meminta ternak peliharaannya, Ibnu Arabi pasti akan memberikan. Bahkan, di setiap habis shalat Jum’at, ia akan mempersilahkan jamaah shalat untuk menghadiri jamuan makanan yang disediakannya secara gratis, termasuk menikmati makanan paling enak di ruangannya.

Ibnu Hajar Al Asqolani dalam Al Fath menyebutkan, “Ar Rayyan dengan menfathahkan huruf ro’ dan mentasydid ya’, mengikuti wazan fi’il (kata kerja) dari kata ‘ar riyy‘ yang maksudnya adalah nama salah satu pintu di surga yang hanya dikhususkan untuk orang yang berpuasa memasukinya. Dari sisi lafazh dan makna ada kaitannya. Karena kata ar rayyan adalah turunan dari kata ar riyy yang artinya bersesuaian dengan keadaan orang yang berpuasa. Orang yang berpuasa kelak akan memasuki pintu tersebut dan tidak pernah merasakan haus lagi.” (Fathul Bari, 4: 131).

Ibnu Hajar menyebutkan bahwa dalam lafazh hadits lainnya disebutkan bahwa di surga itu ada delapan buah pintu.

Salah satu pintu dinamakan Ar Rayyan. Pintu tersebut tidaklah dimasuki selain orang yang berpuasa (lihat Fathul Bari, 4: 132).
Dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, “Surga memiliki delapan buah pintu. Di antara pintu tersebut ada yang dinamakan pintu Ar Rayyan yang hanya dimasuki oleh orang-orang yang berpuasa” (HR. Bukhari no. 3257).

Orang-orang yang berpuasa sehingga mereka mendapatkan pahala surga dan masuk melalui pintu ar-Rayyan, tentunya bukan mereka yang berpuasa tapi hanya sekedar menunda waktu makan dan minum ke waktu malam, akan tetapi mereka yang berpuasa dengan kualitas yang ditetapkan oleh Allah dan Rasulnya.

Seperti apakah ketetapannya? Agar kita dapat mawas diri, mari luangkan sedikit waktu untuk menyibaknya :

1. Berpuasa Karena Iman dan Ihtisab.

Balasan surga atau ampunan dosa untuk mereka yang berpuasa telah dikaitkan dengan iman dan Ihtisab oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sebagaimana disebutkan dalam sabdanya:
من صام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه
“Siapa saja yang berpuasa ramadhan dengan keimanan dan Ihtisab diampunkan untuknya dosa-dosa yang telah lalu.” (HR: Bukhari dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu.).

Dengan keimanan maksudnya; dia berpuasa dengan dorongan keimanannya terhadap hak dan kewajiban berpuasa itu sendiri, dan yang dimaksud dengan Ihtisab; dia berpuasa mencari pahala dari Allah.

Makna lain yang dimaksud dari Ihtisab adalah seperti yang sebutkan juga al-Hafidz Ibnu Hajar Rahimahullah menukil dari perkataan al-Khathhabiy Rahimahullah adalah; berpuasa karena dia berkeinginan mendapatkan pahalanya disamping itu, dia juga melakukannya dengan kerelaan jiwa tanpa merasa berat menjalankan puasa itu dan tidak juga mengeluhkan hari-hari puasa itu panjang . (Lihat Fathul Bariy Syarh Shahihul Bukhariy Jilid 5. Hal. 232. Cet. Pertama 2005 Daar Thayyibah. Riyadh).

2. Berpuasa Tanpa Rafats Dan Tingkah Laku Jahil.

Meninggalkan dua perbuatan tercela ini, yaitu Rafats dan Tingkah laku jahil adalah keharusan bagi seorang yang berpuasa, barulah puasanya menjadi benar-benar sempurna dan diharapkan ia tergolong ke dalam puasa yang berujung surga al-Rayyan.
الصيام جنة فلا يرفث ولا يجهل
“Puasa adalah perisai maka janganlah ia berbuat Rafats dan jangan (bertingkah laku) jahil.” (HR: Bukhari Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu.)

Rafats sendiri dalam hadits ini maknanya adalah ucapan yang keji. selain itu, Rafats juga digunakan dengan makna bersenggama, dan mukaddimah bersenggama, atau membicarakan hal-hal terkait dengan perempuan yang bukan Mahramnya, atau bahkan bisa dengan makna yang lebih umum, yaitu berbicara dengan pembicaraan yang dilarang pada dasarnya oleh Syari’at secara umum. Dan inilah yang wajib dihindari oleh seorang yang berpuasa.

Adapun bertingkah laku jahil maksudnya; ia melakukan perbuatan-perbuatan yang dilakukan oleh orang-orang yang bodoh, seperti berteriak-teriak.

Kedua hal ini dilarang sesungguhnya tidak hanya pada bulan ramadhan saja, namun tetap juga dilarang pada selain bulan ramadhan.

Disebutkannya kedua hal ini dalam konteks puasa sebagai pengingat atas tidak layaknya kedua hal tersebut dilakukan oleh orang yang berpuasa dan berada di bulan yang dimuliakan.

3. Meninggalkan Ucapan Dan Prilaku Dusta.

Berdusta sangat tidak pantas dilakukan oleh seorang yang berpuasa, dan dosa yang bermuara dar mulut ini dapat mengancam tidak diterimanya ibadah puasa orang yang melakukannya.

من لم يدع قول الزور والعمل به فليس لله حاجة في أن يدع طعامه وشرابه

“Siapa saja yang tidak meninggalkan ucapan dusta dan berbuat dengannya (dusta) maka Allah tidak ada hajat dengan perbuatannya meninggalkan makan dan minumnya.” (HR: Bukhari, Abu Dawud dan lainnya)

Dari sekian banyak keterangan Ulama atas hadits ini, seperti yang dinukilkan oleh al-Hafidz Ibnu Hajar Rahimahullah dapat disimpulkan darinya bawa puasa yang disertai dengan ucapan mau pun perbuatan dusta tidak diterima oleh Allah sebagai puasa yang sesungguhnya.

Ketiga hal ini menjadi penentu diterimanya puasa, tanpa iman dan Ihtisab maka puasa itu akan hampa, dan jika dicampuri dengan Rafats dan tingkah laku jahiliyyah tentu akan mengurangi kesempurnaannya, terlebih apabila dibumbui dengan dusta, maka terancam puasa itu tertolak di sisi Allah.

Dan puasa yang tidak dicemari oleh dosa-dosa tersebut di atas adalah puasa yang sempurna yang diharapkan mendapat Qobul (yang diterima) di sisi Allah sehingga kelak ia diberi balasan masuk surga melalui pintu al-Rayyan.

Semoga puasa kita, diterima olehNya. Dan semoga Allah memudahkan kita semua memasuki SurgaNya dengan amalan puasa kita.[]

*Penulis : Kepala SMA Negeri 2 Lhoknga Kab.Aceh Besar Provinsi Aceh/ Ketua Umum DPW AGPAII Provinsi Aceh