- Oleh Ichsan MSn, Ketua Jurusan Seni Rupa dan Desain ISBI Aceh
KABARDAILY.COM | OPINI – Pernahkah kita mendengar istilah kriyawan? Di banyak daerah, terutama di Indonesia, istilah ini sering kali merujuk pada seseorang yang bekerja dalam bidang seni kriya, yaitu kerajinan tangan yang menggabungkan keahlian teknis dan kreativitas.
Karya yang dihasilkan oleh kriyawan sangat beragam, mulai dari kerajinan tangan berukuran kecil (handicrafts), hingga furnitur atau benda-benda yang lebih besar. Kriyawan tidak hanya berasal dari kalangan yang terdidik di sekolah menengah kejuruan atau perguruan tinggi seni, tetapi juga dari mereka yang belajar secara otodidak. Mereka adalah para pembuat karya seni kriya yang turut membangun dunia seni dan industri kreatif. Namun, di balik potensi besar dunia kriya yang kaya akan budaya dan inovasi, ada sebuah fenomena yang merisaukan: mengapa pekerjaan sebagai kriyawan masih dianggap sebagai pilihan kedua, bahkan ketiga, dalam masyarakat kita?
Fenomena ini tentu tidak lepas dari peran pendidikan dan pandangan masyarakat terhadap seni kriya itu sendiri. Banyak orang menganggap bahwa seni kriya adalah pekerjaan yang “terpaksa” dilakukan, bukan pilihan utama. Dalam bahasa Aceh, ada ungkapan, ” buet njang tapeulaku menyo hana_ buet laen ,” yang artinya pekerjaan yang dilakukan jika tidak ada pekerjaan lain. Ironisnya, meskipun ada banyak sekolah dan universitas yang menawarkan jurusan kriya, minat untuk masuk ke dalam bidang ini sering kali rendah.
Banyak siswa yang memilih jurusan lain sebagai pilihan utama, sementara seni kriya menjadi pilihan pelarian. Fenomena ini terlihat dari hasil survei dan wawancara dengan beberapa guru dari sekolah kejuruan, yang menyatakan bahwa semakin sedikit siswa yang memilih untuk menggeluti bidang kriya sejak awal.
Namun, pertanyaannya adalah mengapa hal ini bisa terjadi? Mengapa seni kriya, yang sesungguhnya memiliki potensi besar untuk berkembang, malah kurang diminati dan dianggap sebagai pekerjaan yang “tidak prestisius”? Untuk menjawabnya, kita perlu merenungkan beberapa faktor yang mempengaruhi persepsi masyarakat terhadap kriya.
Pertama, kriyawan masih sering kali dianggap sebagai mereka yang “terpaksa” beralih ke dunia kriya karena tidak memiliki pilihan lain. Padahal, seni kriya itu sendiri memiliki nilai seni, kreativitas, dan keahlian yang tinggi. Karya-karya yang dihasilkan oleh kriyawan adalah hasil dari proses panjang yang penuh dedikasi, di mana setiap detail, setiap lekukan, dan setiap goresan pada bahan memiliki makna dan tujuan. Namun, sering kali masyarakat menganggap bahwa pekerjaan kriya hanya untuk orang-orang yang tidak berhasil dalam bidang lain, atau mereka yang tidak memiliki pendidikan tinggi.
Fenomena ini terjadi, mungkin karena kurangnya pemahaman tentang seni kriya itu sendiri. Banyak orang lebih mengutamakan profesi-profesi yang dianggap lebih bergengsi, seperti dokter, insinyur, atau pengacara, daripada seorang kriyawan. Hal ini diperburuk dengan adanya persepsi bahwa seni kriya adalah pekerjaan yang berorientasi pada produk tradisional atau nostalgia, yang hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan estetika tanpa melihat potensi pasar dan perkembangan zaman.
Kedua, Seni kriya, meskipun sangat kaya akan nilai seni dan budaya, sering kali dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Seringkali kita melihat seni kriya hanya sebagai benda kerajinan tangan atau dekorasi rumah tangga yang tidak memiliki makna lebih dalam. Padahal, seni kriya sejatinya dapat bertransformasi menjadi produk yang inovatif dan berguna di banyak sektor, mulai dari industri furnitur, aksesori, hingga desain interior dan fashion.
Penting untuk menyadarkan masyarakat bahwa seni kriya tidak hanya berbicara tentang barang-barang yang indah, tetapi juga berbicara tentang ketelitian, kreativitas, dan kemampuan teknis yang luar biasa. Para kriyawan adalah orang-orang yang memiliki kemampuan untuk memadukan tradisi dengan inovasi, menciptakan karya-karya yang bukan hanya bernilai estetis, tetapi juga fungsional. Namun, untuk itu dibutuhkan pengakuan lebih dari masyarakat dan pemberian kesempatan bagi para kriyawan untuk menunjukkan keahlian mereka.
Ketiga, salah satu faktor lain yang membuat seni kriya kurang diminati adalah kurangnya dukungan dari sistem pendidikan dan pasar. Meskipun beberapa sekolah menengah atas dan universitas menawarkan program-program studi kriya, jumlahnya masih terbatas, dan banyak siswa lebih tertarik untuk memilih jurusan yang lebih “praktis” atau memiliki prospek karier yang lebih jelas. Selain itu, banyak juga kriyawan yang tidak mendapat kesempatan untuk mengembangkan karier mereka secara optimal, karena kurangnya akses terhadap pasar yang tepat atau peluang kolaborasi dengan industri kreatif yang lebih besar.
Di sisi lain, meskipun kriyawan sering kali menghasilkan produk yang bernilai tinggi, mereka sering kali tidak mendapatkan penghargaan atau pengakuan yang layak. Karya mereka sering kali terjebak dalam pasar yang terbatas, tanpa ada strategi pemasaran yang efektif untuk menjangkau audiens yang lebih luas. Untuk itu, perlu ada upaya yang lebih besar untuk memperkenalkan seni kriya kepada masyarakat secara luas, memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang nilai dan potensi karya kriya, serta menciptakan peluang bagi kriyawan untuk berkembang dan berkolaborasi dengan berbagai sektor industri.
Oleh karena itu, salah satu solusi yang dapat dihadirkan untuk mengatasi permasalahan ini adalah dengan membuat seni kriya lebih dekat dengan masyarakat. Seni kriya tidak boleh lagi dianggap sebagai sesuatu yang eksklusif, yang hanya dapat dinikmati oleh segelintir orang atau kalangan tertentu. Kriya harus hadir dalam kehidupan sehari-hari masyarakat, baik dalam bentuk produk fungsional yang berguna, maupun dalam bentuk karya seni yang menginspirasi.
Para kriyawan perlu diberi kesempatan lebih untuk berinteraksi langsung dengan masyarakat, berbagi pengetahuan dan keterampilan mereka, serta memperkenalkan karya-karya mereka ke berbagai pasar dan komunitas. Hal ini dapat dilakukan melalui berbagai cara, seperti mengadakan pameran, workshop, atau kolaborasi dengan desainer, arsitek, atau industri lainnya.
Seni kriya tidak boleh stagnan dalam nostalgia masa lalu. Karya-karya kriya harus bisa beradaptasi dengan kebutuhan dan tren masa depan. Kriyawan perlu terus berinovasi, mengembangkan teknik dan ide-ide baru yang dapat memenuhi tuntutan zaman. Dengan begitu, seni kriya akan tetap relevan dan mampu bersaing di pasar global.
Selain itu, dengan semakin berkembangnya teknologi dan digitalisasi, kriya juga harus mampu memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan kualitas dan jangkauan karya-karyanya. Kriyawan dapat memanfaatkan media sosial dan platform digital lainnya untuk memperkenalkan produk mereka kepada khalayak luas, serta mengembangkan jejaring dan peluang kolaborasi yang lebih luas.
Fakta, fenomena yang terjadi di dunia kriya saat ini menunjukkan adanya ketidakseimbangan antara potensi besar yang dimiliki oleh seni kriya dengan minimnya apresiasi dan pengakuan terhadap profesi kriyawan. Agar seni kriya dapat berkembang dan mendapatkan tempat yang layak dalam masyarakat, dibutuhkan perubahan pola pikir dan pendekatan yang lebih terbuka terhadap profesi ini. Kriya harus dekat dengan masyarakat, tidak hanya sebagai produk estetika, tetapi juga sebagai bagian dari kebutuhan fungsional dan budaya yang terus berkembang. Hanya dengan cara ini, seni kriya dapat keluar dari bayang-bayang pekerjaan yang dianggap “terpaksa” dan menjadi sebuah bidang yang dihargai dan dihormati. Semoga Seni Kriya dapat terus berjaya.




















