Tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya.
“Kak Windi. Hey”.
“Hey, Nina ikutan juga ya?” Salah seorang temannya juga ikut workshop ini.
“Iya kak. Pengen nulis kaya kakak. Tulisan kakak bagus.”
Windi melihat Nina tulus memuji (kalau tidak tulus, ia lempar pakai tupperware pastinya).
Singkat cerita mulailah sang narasumber yang diterbangkan dari luar daerah menyampaikan materi.
“Ayo pak bu, yang tau tunjuk tangan”.
Tidak ada pastinya peserta yang bersedia tunjuk tangan untuk menjawab setiap kali sang narasumber memberikan pertanyaan.
Peserta di belakang Windi berbisik, “dia pikir kita anak TK apa ya?”
Ya, Windi pun mengakui sang narasumber tidak menguasai pembelajaran andragogi.
Demi mencairkan suasana, Windi melemparkan joke-joke kecil. Dan sedikit banyak suasana kelas sedikit mencair.
Hingga tiba setelah makan siang, masuklah empat orang lelaki yang diperkenalkan oleh moderator sebagai perwakilan dari seorang tokoh partai nasional yang sekarang duduk di DPR RI. Beliau turut mensukseskan acara workshop dengan memberikan bantuan dana.
Selanjutnya, narasumber mengarahkan untuk menulis cerita tentang si tokoh politik tersebut.
Windi segera mengajukan keberatannya. Dia mengangkat tangan untuk diizinkan berbicara.
“Ma”af bu. Saya tidak bisa menulis yang bukan passion saya. Seperti yang ibu bilang bahwa seseorang dapat menulis jika ia menulis sesuai genrenya. Dan …”
Belum selesai Windi berbicara, sang narasumber memotong.
“Pelankan intonasi ibu. Ibu jangan egois.”



















