Hari Seni Islam Internasional Siap Meletup dari Jantho, Aceh

JANTHO,KABARDAILY.COM – Kota Jantho bersiap menjadi sorotan internasional. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Indonesia, bahkan Asia Tenggara, akan menjadi tuan rumah Peringatan Hari Seni Islam Internasional, sebuah agenda kebudayaan yang sebelumnya hanya digelar di Turki, Arab Saudi, dan Qatar. Momentum bersejarah ini berlangsung di Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh dan mencapai puncaknya pada 18 November 2025.

Sejak 10 November, kampus ISBI Aceh telah dipenuhi dinamika residensi seni. Seniman, mahasiswa, kurator, dan peneliti seni Islam berkarya dalam suasana kolaboratif yang menggairahkan. Massa residensi berubah menjadi arena pertukaran gagasan, penyusunan konsep, dan pengolahan estetika yang akan melahirkan ratusan karya seni Islam kontemporer.

Ketua Jurusan Seni Rupa dan Desain ISBI Aceh, Ichsan, M.Sn, menegaskan bahwa acara ini merupakan tonggak penting bagi perkembangan seni Islam di Indonesia. “Ini untuk pertama kalinya Indonesia terlibat dalam agenda besar Hari Seni Islam Internasional. Dan yang lebih membanggakan, peristiwa ini terjadi di Jantho. Dari sinilah kita ingin memperlihatkan bahwa seni Islam dapat berbicara lantang melalui karya-karya yang akan dipamerkan,” ujarnya.

Lebih dari seratus karya diprediksi memenuhi Galeri Seni Rupa dan Desain pada acara puncak. Karya-karya tersebut merupakan hasil proses kreatif mendalam, yang memadukan nilai spiritual, tradisi visual Islam, serta eksplorasi bentuk-bentuk modern.

Rektor ISBI Aceh, Prof. Dr. Wildan, M.Pd, secara terpisah memberi penghargaan kepada seluruh peserta dan panitia yang telah mempersiapkan acara ini dengan energi besar. “Dari Jantho, ISBI Aceh menunjukkan bahwa sebuah kota kecil dapat menghadirkan gaung besar dalam percakapan seni Islam internasional. Karya yang akan dipamerkan bukan hanya hasil artistik, tetapi refleksi perjalanan intelektual dan rohani para kreatornya,” jelasnya.

Ketua Panitia Pelaksana, Iskandar Tungang Dosen JSRD ISBI Aceh, menambahkan bahwa gelaran ini merupakan bentuk komitmen Aceh dalam menjaga, mengembangkan, dan menyebarluaskan nilai kebudayaan Islam melalui seni. Ia melihat acara ini sebagai ruang sinergi yang menyatukan kreator muda, akademisi, dan masyarakat.

“Kami ingin menghadirkan perhelatan yang bukan hanya meriah, tetapi juga bermakna. Peringatan ini adalah ruang dialog, ruang pendidikan, dan ruang perayaan. Kami berharap seluruh masyarakat Aceh datang menyaksikan bagaimana seni Islam tumbuh dari tanah kita sendiri dan berbicara kepada dunia,” ungkap Iskandar.

Ia juga menyebutkan bahwa panitia telah bekerja keras mempersiapkan setiap detail acara, mulai dari residensi, kuratorial pameran, hingga kesiapan fasilitas kampus. “Ini adalah kerja bersama. Kami ingin memastikan bahwa setiap peserta merasa dihargai dan setiap karya ditampilkan dengan penuh kemuliaan,” tambahnya.

Acara puncak pada 18 November akan menghadirkan orasi seni, diskusi tematik, perayaan maulid, serta pembukaan pameran ARTSALAM. Mengangkat tema salam, kedamaian, dan cahaya sebagai inti estetika Islam, pameran ini diharapkan membuka lanskap baru bagi perkembangan seni Islam Asia Tenggara.

Pameran akan dibuka hingga 20 November, memberikan kesempatan kepada publik untuk menikmati karya-karya yang mengolah simbol, garis, cahaya, dan ruang sebagai ekspresi spiritual.

Menjelang hari puncak, Iskandar kembali mengajak masyarakat hadir. “Mari kita rayakan momen bersejarah ini bersama-sama. Aceh pernah menjadi pusat peradaban Islam di Nusantara dan lewat seni, kita menghidupkan kembali cahaya itu,” tutupnya.

Peringatan Hari Seni Islam Internasional di ISBI Aceh bukan sekadar acara. Ia adalah narasi baru bagi dunia seni Islam Indonesia. Sebuah sejarah yang akan mulai ditulis dari Jantho, 18 November 2025.