28.7 C
Banda Aceh
BerandaPeristiwaDaerahGuru Pelintas Batas

Guru Pelintas Batas

Oleh : Juwita SPd            SANTERDAILY.COM | ACEH BESAR–-Guru sebagai pendidik juga makhluk sosial yang merupakan bagian dari kehidupan khalayak yang luas. Kehidupan tidak hanya milik personal, jika manusia menyadari kehidupan bukan untuk personal, timbullah penghayatan, kesadaran yang terakselerasi dalam bentuk keinginan untuk berbagi dalam hal “ pikir dan rasa “.

Kehidupan bersifat multilevel dimana untuk membangun kesatuannya kearah positif membutuhkan perubahan-perubahan, termasuk di dalamnya kaidah-kaidah beretika sebagai dasar ekspresi pribadi manusia.

Karakteristik guru sebagai figur pelintas batas adalah pribadi yang mampu memposisikan dirinya sebagai sosok yang komunikatif estetis, yang menunjukkan cara ekspresi sikap perilaku diwujudkan ke dalam bentuk keindahan satu rasa yang khas.

Satu kebahagiaan yang sangat luar biasa bila menjadi figur yang mampu berkomunikatif dengan perilaku yang estetis dengan latar belakang dan dimensi kehidupan yang berbeda, semua guru pasti memiliki keinginan menjadi sosok pribadi pelintas batas, dan figur guru tersebut adalah dambaan kita ditengah kebaikan dan keburukan yang mengakrabi perilaku manusia setiap saat, terutama untuk mewujudkan dan menggerakkan perasaan kepada kenyataan pengambilan keputusan yang bermakna dan mendatangkan manfaat.

Guru yang memiliki karakter pelintas batas adalah angin segar, dengan kehadirannya akan membuat siswa merasa nyaman, kepergiannya adalah sebuah kerinduan, berikut ini beberapa hal yang merupakan ciri guru pelintas batas diantaranya yaitu:

1. Altruistis, yaitu memiliki sifat mendahulukan kepentingan orang lain. Naluriah manusia mendahulukan diri terhadap orang lain ini pada kenyataannya memang perlu, Hak mendahulukan diri ini pun diakui dan dibenarkan oleh Allah SWT, namun ada tempat dan batasnya, biasa disebut hak-hak privasi, jelas diakui sepenuhnya oleh Allah SWT, supaya disalurkan kepada usaha lebih mendekatkan diri kepada Allah dengan ibadah yang lebih banyak dan lebih ikhlas, kusyu’ dan tawadhu’.

Dalam kehidupan sosial kita diwajibkan untuk mendahulukan kepentingan orang lain, apalagi bila ada kekuasaan yang diamanahkan kepada orang tersebut, namun bila tidak memiliki sifat altruistisme kelihatanlah sangat bebal terhadap kepentingan masyarakat umum, tak tergerak melihat saudara-saudaranya yang lemah tertindas, dia hanya memperkaya diri dan golongannya. Sifat altruistis menuntun pelaku kepada perilaku untuk berbuat adil, mendahulukan kepentingan diluar pribadinya dengan tidak menganut prinsip kerja cangkul, berperilaku jujur dan penyayang.

Bila sifat altruistis dimiliki, maka kehadiran sosok tersebut akan tetap selalu dirindukan oleh siswa dan masyarakat, sebaliknya bila sifat altruistis tidak dimiliki akan jadi hajatan agar sosok tersebut segera menghilang.

2. Tidak Mempersulit

Imam Muslim meriwayatkan dari Sahabat Jabir bin Abdillah ra, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
Artinya : Sesungguhnya Allah tidak mengutusku menjadi orang yang mempersulit (masalah) dan orang yang mencari-cari kesulitan, tetapi sebagai pendidik yang memudahkan.

Kita akan dicintai bila menjadi sosok guru yang tidak mempersulit permasalahan dalam berbagai masalah, selalu memberikan kemudahan mengatasi permasalahan yang tidak membuat siswa pesimis dan rendah diri bahkan mampu mencari solusi untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi orang lain.

3. Relasitisme, artinya personal fungsional yang menyadari kaitan individu dengan lingkungan dan menyatakan diri ada hubungan dan melaksanakan fungsi relasi, komit dengan masalah sosial, empati sosial yang tinggi, sadar kelemahan dan keterbatasan.

Perilaku relasitisme dimunculkan akan timbul sikap rendah hati, tidak meremehkan orang lain, menghargai dan tidak egoistis.

Kutipan kata bijak dari Samuel Butler :” Karakter paling nyata dari kebodohan adalah kesombongan dan kebanggaan pada kecongkakan.”

Memiliki sikap relasitisme tidak akan malu bertanya, positif, senang dan tulus menerima kritikan atau saran darimana pun sumbernya.

4. Instropeksi diri.

Mengintropeksi diri dengan tidak menyalahkan orang lain dapat menentukan keputusan akhir dari suatu tujuan yang ingin dicapai. Masalah mengintropeksi diri dengan tidak menyalahkan orang lain, dimulai dengan disiplin terhadap diri sendiri, lapang dada terhadap orang lain. Jika kita berperilaku disiplin dan berlapang dada, otomatis kita akan dapat menjaga kelakuan dan memaafkan perbuatan orang lain dengan benar-benar ikhlas dari relung hati, guru yang selalu merenungi, instropeksi diri dengan hati, yang tidak mencari kesalahan orang lain, tetapi mencari kesalahan diri sendiri, dengan sifat memaafkan diri sendiri dan selalu memaafkan orang lain.

Nurani akan selalu menanyakan apa yang telah diperbuat, pasti semua konflik dan perselisihan dapat diselesaikan dengan mudah. Tetapi jika hanya menyalahkan pihak lain dan tidak dapat mengintropeksi diri sendiri, maka akan timbul kebencian dan konflik makin berkepanjangan, yang akan menyebabkan ketidak harmonisan dan kehancuran hubungan.

Sosok yang selalu menginstropeksi diri akan melahirkan jiwa kepribadian yang bijaksana dalam semua hal, dengan tidak menyalahkan dan memusuhi orang lain, tidak akan menyembunyikan kesalahan, tidak melemparkan tanggung jawab diri sendiri, sehingga tidak menyebabkan konflik dan pertengkaran dengan orang lain.

5. Senyuman.

Suasana hati akan luluh dengan sebuah pekerjaan yang ringan dan mudah dilakukan yakni senyuman, Nabi Muhammad Saw telah meluluhkan hati siapa saja dengan senyuman, mampu menyihir hati dengan senyuman., menumbuhkan harapan dengan senyuman, mampu menghilangkan sikap keras hati dengan senyuman, mensunnahkan dan memerintahkan umatnya agar menghiasi diri dengan akhlak mulia ini.

Bahkan beliau menjadikan senyuman sebagai lahan berlomba dalam kebaikan.
Rasulullah saw. bersabda,
“Senyummu di depan saudaramu adalah sedekah.” At Tirmidzi dalam sahihnya.
Menjadi guru pelintas batas tidak akan pelit untuk selalu menyunggingkan bibirnya yakni senyuman, yang akan sangat berdampak pada psiklogis seseorang, yang menceminkan suasana hati, menjadikan sosok yang tidak ditakuti.

Dalam kehidupan senyuman mampu membawa dampak positif yang efektif, yaitu senyuman menjadi pendahuluan ketika hendak meluruskan orang yang keliru, dan menjadi bagian pembuka ketika mengingkari yang munkar. Orang yang selalu cemberut akan menyengsarakan dirinya sendiri dan memunculkan banyak penyakit baik lahir atau batin.

Guru yang sukar senyum berarti tidak menikmati suasana, kurang bersyukur, kurang menerima dengan ikhlas suatu keadaan yang datang. Sosok guru yang mau menebar senyum selamanya dia akan senang dan gembira dalam kehidupan, baik suka maupun duka.

*Guru SDN Indrapuri

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Stay Connected

31,112FansSuka
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Must Read

Related News

Indonesia
6,051,205
Total confirmed cases
Updated on May 18, 2022 10:50
Indonesia
156,481
Total deaths
Updated on May 18, 2022 10:50
Indonesia
3,898
Total active cases
Updated on May 18, 2022 10:50