SANTERDAILY.COM | ACEH BESAR–-Pada Kamis (14/2/2019) tim I literasi Disdikbud Aceh Besar menuju SDN Simpang Tiga.
Di pintu pagar sekolah SDN Simpang Tiga berdiri seorang laki-laki mengenakan baju batik kecoklatan,dengan ramah dan selalu tersenyum menyambut kedatangan siswa-siswi yang akan menuntut ilmu serta menyalami satu persatu, nampak sangat bersahaja dari penampilan dan kepribadiannya itulah sosok kepala sekolah SDN Simpang Tiga bapak Jamaluddin, M.Ag.
Beliau belum lama menjadi kepala sekolah di sekolah tersebut, namun hasil amatan kunjungan tim gerakan literasi Aceh Besar, sudah banyak perubahan yang dapat dilihat dari tampilan fisik sekolah.
Pukul 7.20 saya sudah berada disekolah tersebut, awal kedatangan disambut dengan senyuman manis oleh kepala sekolah dan beberapa dewan guru, lalu beliau mempersilahkan saya untuk masuk keruang guru.
Acara sosialisasi gerakan menulis dilaksanakan di dalam ruang pertemuan guru, namun gugus Simpang Tiga tidak memiliki ruang pertemuan guru khusus.
Informasi dari guru yang ikut membantu saya mempersiapkan tempat dan perlengkapan lainnya, guru-guru di gugus menggunakan ruang kelas tersebut bila ada kegiatan KKG. Bila diamati area sekolah SD Simpang Tiga memang sempit, boleh dikatakan area yang kurang ramah anak.
Jam hampir menunjukkan pukul 8.00 wib, saya, guru dan beberapa siswa terus sibuk mempersiapkan segala sesuatu hal untuk kelancaran acara sosialisasi gerakan literasi, tiba-tiba saya mendengar suara hand phone berbunyi, ternyata yang menelpon saya adalah Bapak koordinator tim literasi Aceh Besar Bapak Rusydi SAg.
Beliau menanyakan dimana SD Simpang Tiga, dan beliau mengatakan sudah tersesat.
Tidak lama kemudian Bapak koordinator sampai juga ke sekolah, sesudah beliau menemui kepala sekolah dan sejenak berbincang-bincang lalu acara segera dimulai.
Pukul 8.15 wib acara dimulai, ternyata PLN tidak mau bersahabat dan lampu mati. Tim tidak kehabisan akal, daripada menunggu lampu menyala, lalu tim mengarahkan siswa-siswi untuk keluar ruangan, kita terlebih dahulu poto bersama untuk dokumentasi di halaman sekolah tersebut.
Bapak koordinator dengan lihai menjepret cameranya, giliran Bapak koordinator poto, beliau meminta bantuan guru di sekolah untuk menjepret kamera. Kepala sekoalh, guru ikut serta poto bersama.
Tak lama kemudian lampu menyala kembali, kami semua segera masuk keruang pertemuan. Acara segera dimulai lagi, arahan pertama disampaikan oleh kepala sekolah.
Dalam sambutannya beliau menyambut baik program yang dilaksanakan oleh dinas pendidikan dan kebudayaan, ilmu yang diberikan oleh tim literasi dapat bermamfaat, dengan kegiatan ini akan muncul siswa-siswi yang memiliki bakat dan minat untuk menulis yang selama ini mungkin tidak tersalurkan dan masih tersimpan, kedepan diharapkan akan memberi dampak yang sangat positif untuk memajukan dunia pendidikan. Beliau juga menyatakan siswa-dan guru harus bisa memciptakan sebuah karya berupa buku.
Arahan selanjutnya disampaikan oleh Bapak koordinator timliterasi bapak Rusydi SAg dalam arahannya pertama beliau menganalogikan makna tersirat dari nama sekolah yaitu simpang tiga artinya banyak simpang atau jalan menuju keberhasilan, jika tidak berhasil dengan satu jalan maka cobalah cara yang lain.
Selanjutnya beliau memaparkan bahwa menulis itu sangat mudah semudah kita berbicara, tuliskan apa saja seperti pengalaman sehari-hari, cerita pribadi, cerita di sekolah, bersama teman dan lainnya.
Tiba kegiatan inti sosialisasi gerakan literasi untuk meningkatkan budaya membaca dan menulis yang diisi oleh saya dan Lisa Fiyerni, S.Pd.
Jumlah peserta sebanyak 49 orang dari kelas IV dan kelas V, serta lima orang guru.
Sosialisasi diawali dengan bernyanyi bersama, kami menyanyikan lagu” literasi”, siswa terlihat sangat gembira ketika diajak bernyanyi. Tim melakukan tanya jawab dengan siswa dalam sosialisasi.
Sepakat bersama untuk membuat karya yaitu menulis cerita mini, dan tim memberikan waktu kepada peserta selama 1 jam untuk dapat menyelesaikan tulisannya. Sesudah semua siswa menyelesaikan tugas menulis lalu timmenseleksi karya siswa serta memilih tiga diantara sekian karya siswa.
Siswa yang terpilih karyanya dimintakan untuk tampil kedepan membacakan hasil karya sendiri, siswa yang terpilih yaitu Alif Maulidi dari kelas V, Eva Muliani dari kelas IV, dan Khairunnisak dari kelas V.
Di akhir sosialisasi untuk penutupan tim menjelaskan kepada guru dan siswa bahwa sekolah dengan tim harus selalu berkoordinasi untuk merampungkan karya siswa, dan tenggang waktu adalah dua bulan, nantinya karya siswa tersebut akan dikirim kepercetakan hingga menghasilkan karya menjadi sebuah buku ber-ISBN, serta dilakukan penilaian di bulan Juli 2019. September 2019 di hari HARDIKDA akan berikan penghargaan bagi sekolah pemenang tingkat sekolah Sistem Pendidikan Terpadu (SPT) Kabupaten Aceh Besar.
Penulis : Juwita SPd




















