Dosen ISBI Aceh; Membangun Ruang Tangguh Bencana Banjir

KABARDAILY.COM – Lagi lagi Aceh Banjir, namun kali ini lebih istimewa. Akhir November kemarin, ia tidak hanya hadir membawa air, lumpur, dan kerugian material, ia juga membongkar ilusi besar yang selama ini kita rawat bahwa ruang-ruang tempat kita hidup sudah aman, modern, dan layak huni.

Kenyataannya, ketika air masuk ke rumah, sekolah, puskesmas, dan masjid, yang runtuh bukan hanya furnitur dan dinding, tetapi cara kita memahami ruang itu sendiri.

Sebagai akademisi dan praktisi di bidang desain interior di ISBI Aceh, saya melihat banjir bukan sekadar bencana hidrometeorologi. Ini adalah krisis ruang hidup. Krisis kesadaran desain. Krisis keilmuan yang selama ini terlalu meminggirkan interior sebagai elemen penting dalam mitigasi bencana. Kita sibuk memperdebatkan tanggul dan sungai, tetapi lupa bahwa korban banjir paling lama bertahan justru di dalam ruang.

Data BNPB menunjukkan bahwa lebih dari 30 persen bencana di Indonesia dalam satu dekade terakhir adalah banjir. Angka ini seharusnya cukup untuk membuat kita berhenti melihat interior hanya sebagai urusan estetika. Saat banjir datang, interior menentukan apakah seseorang bisa menyelamatkan diri, apakah listrik mematikan, apakah ruang bisa cepat pulih, atau justru menjadi sumber penyakit baru.

UNDRR (2019) menegaskan bahwa kerugian bencana membesar bukan hanya karena intensitas bahaya, tetapi karena ruang yang tidak dirancang berbasis risiko. Pernyataan ini sejalan dengan apa yang saya lihat di lapangan bahwa furnitur berat yang menghalangi jalur evakuasi, soket listrik terlalu rendah, material yang menyerap air dan memicu jamur hanya dalam hitungan hari. Semua itu bukan kesalahan alam, tetapi kesalahan desain.

Perlu diketahui bersama, Dosen desain interior memiliki peran yang sering luput disorot. Di ruang kelas, kami tidak hanya mengajarkan komposisi warna dan estetika visual, tetapi seharusnya juga mengajarkan etika ruang, keselamatan, dan ketahanan. Pendidikan desain interior yang abai terhadap bencana, sejatinya sedang melahirkan profesional yang buta risiko.

Rapoport juga pernah mengatakan bahwa ruang selalu membentuk perilaku manusia. Maka, interior yang salah akan membentuk perilaku yang salah di saat genting. Penelitian Wijaya dkk. (2023) membuktikan bahwa desain interior adaptif melalui material tahan air, furnitur modular, dan tata ruang fleksibel mampu mengurangi kerusakan dan mempercepat pemulihan pascabanjir. Ini bukan wacana, tetapi fakta ilmiah.

Namun, ilmu tidak boleh berhenti di jurnal. Dosen interior harus turun ke masyarakat. Pengabdian berbasis komunitas, pendampingan desain ruang aman, hingga kolaborasi lintas disiplin adalah jalan agar ilmu tidak terjebak di kampus.

Omondi (2021) menegaskan bahwa desain partisipatif meningkatkan ketahanan komunitas karena solusi lahir dari konteks lokal, bukan template global.

Interior, dalam konteks bencana, adalah batas antara selamat dan celaka. Ia menentukan apakah sebuah rumah bisa kembali dihuni, apakah keluarga bisa pulih dengan cepat, atau justru terjebak dalam siklus bencana berulang. Seperti dikatakan desainer interior Julianto Jaya Kusuma, ruang bukan sekadar tempat, tetapi perilaku manusia di dalamnya. Maka, interior pascabanjir harus dirancang untuk hidup, bukan sekadar untuk dilihat.

Jika arsitektur adalah kerangka, interior adalah organ yang membuatnya bernapas. Dan jika kita serius ingin membangun ruang tangguh bencana, maka dosen desain interior tidak boleh lagi berada di pinggir diskursus kebencanaan. Kami harus bersuara, memimpin arah, dan berani mengatakan bahwa ruang yang indah tetapi berbahaya bukanlah kemajuan.

Arsitek Andra Matin pernah berkata, arsitektur yang baik adalah arsitektur yang membantu kehidupan. Prinsip ini juga berlaku bagi interior. Sudah waktunya desain interior diposisikan sebagai bagian penting dari strategi mitigasi bencana, dan dosen desain interior sebagai aktor keilmuan yang ikut menentukan arah keselamatan ruang hidup kita.

Karena pada akhirnya, bencana selalu menguji satu hal yang sama: apakah ruang yang kita bangun benar-benar memahami manusia dan alam, atau hanya memuaskan ego estetika semata.