BALI,KABARDAILY.COM – Kehadiran Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh di Universitas Dhyana Pura (Undhira) kembali memperkuat jalinan kerja sama antar dua perguruan tinggi yang telah terbangun sejak penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dua tahun silam.
Kunjungan kali ini, yang dilaksanakan pada 4 Juni 2025, membawa makna lebih dalam melalui pelaksanaan kuliah umum dan penandatanganan Implementation Agreement (IA) yang menegaskan komitmen lanjutan dalam penguatan seni, budaya, dan pendidikan karakter.
Dalam kesempatan istimewa ini, turut hadir Dr. Pdt. I Made Dwi Adnyana, S.Th., M.M., yang menjabat sebagai Chaplancy Universitas Dhyana Pura. Jabatan ini di lingkungan Undhira berperan penting dalam memberikan pembinaan moral dan spiritual, serupa dengan peran ustad atau tokoh agama di sejumlah kampus lainnya. Kehadiran Chaplancy dalam forum ini menambah perspektif yang kaya terhadap dialog antar seni, budaya, dan agama.
Dalam sesi kuliah umum yang mengangkat tema Estetika dan Penguatan Karakter, Pdt. Dwi Adnyana mengajukan pertanyaan reflektif mengenai tantangan aktual dalam menjaga toleransi di tengah dialektika antara seni dan agama. “Kita sering menyaksikan adanya benturan pemahaman antara ekspresi seni dan keyakinan agama. Pertanyaannya, adakah langkah konkret yang bisa kita tempuh bersama untuk merajut harmoni di antara keduanya?” ujar beliau di hadapan peserta.
Pertanyaan tersebut dijawab dengan penuh kearifan oleh Ichsan, M.Sn., Ketua Jurusan Seni Rupa dan Desain ISBI Aceh, sekaligus narasumber utama dalam kuliah umum tersebut. “Kunci utamanya adalah kearifan. Banyak perbedaan pandangan sebenarnya lebih dipicu oleh keterbatasan dalam memahami secara utuh, bukan oleh perbedaan yang hakiki. Maka mari kita bijak dan arif. Semua bisa dikomunikasikan dengan baik. Di era modern seperti ini, kegagalan dalam bersikap justru akan tersisih oleh proses alami dalam masyarakat yang semakin terbuka,” ungkap Ichsan.
Lebih jauh Ichsan menegaskan, sebagai bangsa yang multi-etnik dan multi-agama, Indonesia memerlukan sikap arif dalam melihat perbedaan. Seni, menurutnya, justru dapat menjadi medium yang ampuh untuk mempererat persaudaraan dan memelihara kerukunan di tengah keberagaman yang ada.
Di luar forum resmi, Pdt. Dwi Adnyana menyampaikan apresiasi mendalam kepada ISBI Aceh, khususnya kepada Ichsan yang telah menyampaikan materi yang sangat membuka wawasan. “Kami sangat berterima kasih kepada ISBI Aceh. Banyak hal yang bisa kami pelajari hari ini, terutama bagaimana seni bisa menjadi kekuatan positif dalam memperkuat toleransi di negeri yang kita cintai ini,” ujarnya.
Lebih lanjut, Pdt. Dwi Adnyana juga menyampaikan harapannya agar kerja sama ini bisa terus berkembang. “Kami berharap ke depan bisa berkunjung ke Aceh dan berbagi pengetahuan. Kolaborasi seperti ini sangat berharga dalam membangun jembatan antar budaya dan agama melalui pendekatan seni yang universal,” tambahnya.
Pertemuan dan kolaborasi yang hangat antara ISBI Aceh dan Undhira ini sekali lagi menegaskan bahwa seni, budaya, dan agama bukanlah entitas yang terpisah, melainkan dapat berjalan beriringan dalam memperkuat fondasi toleransi, penghormatan, dan persatuan bangsa.




















