- Oleh Feri Irawan, Kepala SMKN 1 Jeunieb & Penikmat Kopi
KABARDAILY.COM | OPINI – Bireuen adalah surganya penikmat kopi. Bireuen dikenal memiliki beberapa warung kopi legendaris dan khas, yang kenikmatannya tiada tara.
Sejak tahun 1970, Bireuen telah dikenal sebagai daerah pengolah kopi legendaris, dengan Arasco dan Indaco menjadi bagian penting dalam perkembangan kopi di daerah tersebut.
Pengolahan biji kopi Arasco bukan saja memenuhi kebutuhan biji kopi di Aceh, tapi juga “mengekspor” produknya ke luar daerah, bahkan ke luar negeri.
Saat ini, warung kopi sudah menjelma di berbagai penjuru Bireuen. Tak heran, jika warung kopi atau kedai kopi di Bireuen banyak bertebaran bak jamur di musim hujan.
Bagi masyarakat Bireuen, minum kopi atau ngopi di kedai menjadi telah menjadi budaya.
Namun, dari banyaknya kedai kopi yang bermunculan, terdapat kedai kopi legendaris yang masih eksis hingga sekarang.
Jika Anda berkunjung ke Bireuen, jangan sampai lewatkan 5 warung kopi dengan sajian khas kopinya yang nikmat.
Ada Warung Kopi Indaco yang letaknya di Jalan Andalas Kota Bireuen. Ini adalah salah satu Warkop yang sudah menjadi legenda bagi para penikmat Kopi sejak tahun 70-an. Bubuk Kopi Arabika Gayo untuk Kopi Saring diolah sendiri oleh Pemilik Warung Kopi ini. Aroma Kopi pun memiliki sensasi tersendiri bagi para pelanggan yang datang ke Warkop Indaco.
Kopi Saring di Indaco memiliki aroma yang khas dan mengingatkannya kepada masa lalu yang lugu. Saat saya masih SMA, Warkop Indaco sangat dikenal oleh masyarakat Kabupaten Bireuen.
Bila Anda berada di Kota Bireuen, mampirlah ke Warkop Indaco dan nikmatilah rasa khas Kopi yang melegenda di Kota Juang ini.
Berikutnya, ada sensasi racikan Kopi Atra Samalanga. Warung kopi ini menyuguhkan nuansa sederhana dengan cara penyajian kopi yang masih tradisional.
Kopi saring di keude Kopi Atra Kecamatan Samalanga Kota Samalanga rasanya sangat berbeda dengan kopi yang dijual di warung kopi lainnya.
Racikan kopi di warung kopi Atra Samalanga sudah dikenal dengan rasanya yang begitu nikmat.
Bagi para penikmat kopi di seputaran Samalanga dan sekitarnya pasti tidak asing lagi yang namanya Kopi Atra
Karena salah satu kopi yang sangat legendaris ini sudah ada sejak tahun 1981
Disamping rasa yang nikmat, kopi ini menawarkan sesuatu yang berbeda dari kopi-kopi yang lain. Rasanya pun nikmat dan harga bersahabat mulai dari Rp. 3000-5000
Kembali ke KotabJuang, ada Warung Kopi ‘Ulee Gajah’. Warung Kopi ‘Ulee Gajah’ atau yang lebih familiar di telinga warga Bireuen dengan sebutan ‘Warung Mie Ulee Gajah’ berada di Jalan Andalas atau T. Panglima Polem, Kota Juang, Bireuen.
Pengelola Warkop Ulee Gajah, Dara Fonna, mengatakan Warkop Ule Gajah sudah ada sejak tahun 70-an. Warkop Ule Gajah merupakan bisnis turun temurun dari orang tua.
“Sudah ada sejak tahun 70-an. Bisnis turun temurun milik orang tua,” kata Dara yang merupakan anak semata wayang pemilik Warkop Ulee Gajah.
Sejak dulu, warkop yang hanya berjarak 100 meter dari Pendopo Bireuen ini menjadi tempat favorit bagi orang tua di hari-hari biasa. Namun, jika ada pertandingan sepak bola, tempat ini menjadi favorit bagi semua kalangan usia.
Masih di Kota Juang, di sudut jalan Ramai, ada Warung Kopi Cita Rasa. Kedai Kopi Warkop Cita Rasa merupakan salah satu warkop tertua di Bireuen, yang telah merekam jejak waktu setiap generasi. Namanya pun begitu akrab di telinga warga Bireuen.
Warkop yang hanya berjarak 50 meter dari Simpang empat Bireuen ini tak pernah sepi pembeli. Seperti namanya, cita rasa kopi yang melegenda dan suasana warkop yang khas, membuat warkop Cita Rasa tetap eksis hingga kini.
Menikmati kopi di pagi hari tak lengkap rasanya tanpa sebungkus nasi kucing dan roti khas warkop Cita Rasa yakni roti selai asoe kaya dan berbagai aneka cemilan lainnya. Soal harga tak perlu khawatir, kopi dan makanan di sini terbilang terjangkau.
Muhammad Hasan Basri akrab disapa Nyak Hasan merupakan pemilik tunggal warkop Cita Rasa. Warkop Cita Rasa mendapatkan hati tersendiri dari kalangan orang tua. Warkop ini mulai buka pukul 05.45 pagi sesudah salat subuh sampai tengah malam.
Terakhir, ada Warung Kopi Alakadar yang berada di pinggir jalan Medan Banda Aceh. Tepatnya Depan Hotel Djarwal Geulanggang Teungah, Kota Juang.
Warkop Alakadar hadir dengan nuansa harmoni. Makanya banyak yang menyempatkan diri hangout di sana, sambil menyeruput bergelas-gelas Robusta yang masih mengepulkan asap.
Bubuk kopinya berasal dari biji Robusta yang digiling kasar.
Saya harus mengakui bila aroma Robusta di Warkop Alakadar, istimewa. Ada rahasia cara meracik yang tidak disampaikan. Kelebihan lainnya, kopi Robusta di Alakadar aman bagi penderita gangguan asam lambung. Saya telah lama menyeruput kopi di sana.
Saat ini, Warkop Alakadar telah pula menjadi tempat singgah kaum hawa yang bekerja sebagai PNS. Biasanya mereka menikmati kopi, atau minuman lainnya, sambil mengudap berbagai makanan yang dijual. Menurut saya, selain kopi yang aduhai, rasa kue yang dijual di Alakadar tidaklah ala kadar.
Di tengah semakin berebaknya warkop di Bireuen yang menawarkan beragam kelebihan—dan banyak di antaranya telah undur diri setelah kalah dalam merebut pasar—Warkop-warkop legendaris, seperti Indaco, Ulee Gajah, Cita Rasa, Atra hingga Alakadar tetap berdiri tegak sepanjang waktu. Kekhasannya yang membuat mereka terus melayani pelanggan. Seperti yang dikatakan Coco Channel, “Untuk menjadi tak tergantikan seseorang harus selalu berbeda” (untuk menjadi tak tergantikan, seseorang harus selalu berbeda).
Sampai sekarang warkop legendaris di atas masih beroperasi dan semakin menjadi idola masyarakat Bireuen dalam menyurut secangkir kopi pagi dengan cita rasanya masing-nasing. Selamat mencoba.




















