Aceh Festival Culinary: Mengenal Keberagaman Budaya Lebih Dekat dan Autentik

  • Oleh Feri Irawan

KABARDAILY.COM –  Aceh adalah pesta untuk indera, di mana setiap makanan menceritakan sebuah kisah dan setiap gigitan adalah perayaan budaya.

Aceh memiliki ratusan resep tradisional yang lahir dari keberagaman budaya, suku, dan rempah-rempah lokal. Dengan 23 kabupaten/kota-nya, Aceh adalah rumah bagi beragam rasa, bahan, dan teknik memasak yang mempesona yang mencerminkan sejarahnya yang kaya dan komunitas yang beragam. Dari rempah-rempah, budaya makanan Serambi Mekah ini beragam seperti pemandangannya, menjadikannya surga kuliner sejati.

Di tengah tingginya minat masyarakat terhadap makanan tradisional yang viral di media sosial, tidak semua kuliner daerah mudah ditemukan. Maka itu, datang ke Aceh Festival Culinary (AFC), 11-14 September 2026,
menjadi solusi yang paling mudah.

AFC menjadi ajang untuk memperkenalkan kekayaan tersebut kepada masyarakat, mulai dari hidangan yang sudah populer hingga kuliner khas daerah yang masih jarang ditemukan di pasar.

Menghadirkan lebih dari 100 pelaku UMKM kuliner, perwakilan dari 12 kabupaten/kota, serta 20 komunitas dan inisiatif kreatif dari Aceh, Jakarta, dan Bali, serta berbagai pertunjukan seni budaya yang memikat, acara ini mengajak saya menyelami kembali kenangan masa lalu yang bersahabat.

ACF 2026 yang digelar Pemerintah Aceh melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata mengusung tema “Celebrating the Authenticity of Aceh’s Living Culinary Heritage”.
Tentu saya dan keluarga sangat menyenangkan bisa menghabiskan waktu bersama di AFC 2026 yang digelar di Taman Sulthanah Safiatuddin, Banda Aceh, Sabtu (12/9) malam.

Tema ini menyuarakan pesan bahwa kuliner Aceh bukan sekadar makanan mati di masa lalu, melainkan tradisi yang terus hidup di tengah masyarakat hingga saat ini. Bagi saya, ACF menjadi ruang untuk menikmati kuliner sekaligus mengenalkan cerita, tradisi, dan budaya yang menyertainya. ACF bukan sekadar festival kuliner atau pasar UMKM biasa, melainkan sebuah lompatan transformasi yang menempatkan Aceh sebagai pusat studi gastronomi berbasis sejarah, kebudayaan, dan kekayaan rempah Nusantara

Kekayaan tersebut diperkuat oleh hasil laut dan pertanian, bahan pangan lokal, teknik memasak, serta tradisi khanduri dan makan bersama yang masih hidup di tengah masyarakat.

Identitas Budaya

Kuliner merupakan bagian dari identitas budaya. Setiap hidangan memiliki cerita mengenai tradisi, bahan pangan lokal, hingga cara memasak yang diwariskan secara turun-temurun. Karena itu, menikmati AFC berarti mengenal keberagaman budaya Aceh melalui pengalaman yang lebih dekat dan autentik.

Setiap Paviliun Kabupaten/Kota membawa kuliner otentik khas masing-masing wilayah, seperti kuliner tradisional Cagruk dan Limpeng dari Aceh Besar, serta sajian khas dari Sabang dan Aceh Barat.

Ada 11 paviliun kuliner tradisional yang menghadirkan sajian dari kabupaten/kota di Aceh, yakni Aceh Besar, Aceh Selatan, Gayo Lues, Aceh Tengah, Aceh Barat, Kota Sabang, Aceh Jaya, Nagan Raya, Simeulue, Aceh Tamiang dan Aceh Timur.

Paviliun tersebut tidak hanya menyajikan makanan khas serta bahan pangan lokal.

Zona Galarasa Nusantara menghadirkan sajian dengan beragam cita rasa dari berbagai wilayah Indonesia. Sementara Zona Bandar Rasa menampilkan inovasi kuliner serta hidangan bergaya global comfort.

Mendukung Ekonomi Kreatif

Festival ini berperan mendukung sektor pariwisata dan ekonomi kreatif Aceh, terlebih setelah empat kali berturut-turut masuk jajaran Top 10 Karisma Event Nusantara (KEN) Kementerian Pariwisata RI.

Selain sebagai tempat transaksi ekonomi, festival ini menjadi tempat pertemuan sosial yang mempererat hubungan kemanusiaan.

Nilai-nilai kearifan lokal seperti bertegur sapa dihidupkan kembali, memberikan pengalaman berbelanja seperti di pasar tradisional.

Sejumlah jenama dan UMKM lokal berpartisipasi, seperti Cireng Beledug BNA, Burgerlah, Burger Bohay, Little Matcha, TN Foodland, Harvies Roasters, iLemon, hingga Classic Photobooth

Selain kuliner, ada juga pelatihan pembuatan konten bersama TikTok GO by Tokopedia, Sanger Day, kompetisi hip-hop regional, permainan tradisional melalui Aceh Bermain, kegiatan literasi bersama Komunitas Melati hingga kelas fotografi makanan bersama Kompakers Aceh.

Berbagai pertunjukan budaya dan aktivitas kreatif turut dihadirkan, seperti Seudati Tunang oleh Sanggar Saleum dan Alee Meunari, kegiatan membuat sketsa bersama Koskah serta dokumentasi festival melalui Gampong Fotoyu Aceh.

Program lainnya mencakup pembuatan karya seni dari material daur ulang bersama Sahabat Hijau dan Sunday Morning Run (Sunmorun) yang digelar komunitas lari L5P5. Festival juga menghadirkan Gastroclass bersama sejumlah praktisi dan inisiatif gastronomi, antara lain Dewan Kuliner Indonesia, Kelas Pagi Pangan, Pengalaman Rasa Gastronomy dan Rumah Intaran Bali Utara.

Sejumlah kelas kuliner juga disiapkan bagi pengunjung. Materinya antara lain mengolah asam sunti menjadi candy roll, membuat kaldu bubuk dari ikan kayu, memasak hidangan warisan serta meracik bumbu masakan Aceh.

Bagi saya, ACF menjadi gerakan bersama untuk menjaga warisan kuliner, memperkuat ekonomi kreatif, dan memperkenalkan Aceh kepada Indonesia dan dunia.

Selain memperkenalkan makanan khas, AFC juga membuka peluang bagi pelaku UMKM untuk memperluas pasar. Kehadiran UMKM dalam AFC sejalan dengan upaya pemerintah mendorong ekonomi kreatif berbasis produk lokal dan meningkatkan daya saing usaha kecil.

AFC memainkan peran penting dalam menampilkan permadani rasa yang semarak ini. Perayaan ini tidak hanya menyoroti hidangan lokal tetapi juga berfungsi sebagai platform bagi masyarakat untuk berkumpul, berbagi tradisi, dan mempromosikan warisan kuliner mereka.

Selama festival, saya menemukan keluarga berkumpul di sekitar meja, berbagi makanan, dan menikmati kebersamaan satu sama lain. Ini adalah waktu untuk bercerita, tertawa, dan tentu saja, menikmati cita rasa yang mendefinisikan wilayah tersebut.

Dari sisi hiburan, panggung utama menghadirkan pertunjukan Experimental Music with Nature Project dari duo Bottlesmoker yang mengeksplorasi musik menggunakan buah-buahan. Penyanyi R&B Soulful Teza Sumendra juga tampil, bersama tiga musisi muda Aceh, yakni Fahmil Arabi, Aidil Farabi dan Jal Brahim.

Berbagai pertunjukan budaya dan aktivitas kreatif turut dihadirkan, seperti Seudati Tunang oleh Sanggar Saleum dan Alee Meunari, kegiatan membuat sketsa bersama Koskah serta dokumentasi festival melalui Gampong Fotoyu Aceh.

Panitia juga mendorong pengunjung membawa tas belanja dan botol minum sendiri. ACF menerapkan prinsip ramah lingkungan dengan mengimbau pelaku UMKM mengurangi penggunaan kantong plastik dan tidak menjual air minum dalam kemasan (AMDK). Namun, bagi pengunjung yang tidak membawa perlengkapan tersebut, tas belanja dan botol minum tersedia di lokasi.

Penulis adalah Kepala SMKN 1 Gandapura