Jakarta,kabardaily.com – Fajar Andi Saputra, tokoh politisi muda Partai PPP, jumpai Senator Asal Aceh H. Sudirman S.sos atau yang akrab di sapa Haji uma.
Dalam pertemuan tersebut, Fajar mengatakan selain sebagai sosok yang hangat dan ramah Haji uma ternyata memiliki perspektif mendalam terhadap isu-isu yang berkembang di Aceh, salah satunya terkait bidang ekonomi lapangan pekerjaan.
Pertemuan ini bukan hanya sekedar diskusi biasa, Tgk Haji terlihat begitu serius dalam memberikan gambaran detil tentang bagaimana kondisi Aceh saat ini memerlukan perhatian khusus dalam sektor pekerjaan. “Banyak potensi lokal di Aceh yang belum tergarap dengan maksimal, seharusnya menjadi ladang pekerjaan baru bagi masyarakat,” ungkap Haji Uma.
Fajar pun menekankan bahwa pendekatan Haji Uma yang berlandaskan pada data-data di lapangan, “hal ini menunjukkan validasi dari kepercayaan rakyat yang memberikannya suara terbanyak dalam pemilihan 2019”. Menurutnya, beliau benar-benar memahami situasi masyarakat Aceh. Ungkap fajar
Dalam pertemuan tersebut Haji Uma menegaskan bahwa Potensi sumber daya alam dan budaya di Aceh dapat dijadikan peluang besar untuk menciptakan lapangan pekerjaan di Aceh, namun sayangnya hal ini terlihat masih belum optimal dilaksanakan oleh kita semua.
Haji Uma berpendapat bahwa Aceh perlu strategi pembangunan yang inovatif. “Perlu sinergi antara pemerintah, swasta, dan masyarakat untuk membuka peluang pekerjaan baru, terutama di sektor pariwisata, pertanian, dan industri kreatif,” tegasnya.
Dia juga mengharapkan kepada Fajar, jika nanti diberikan mandat oleh masyarakat di DPRK Aceh Besar, untuk bisa memprioritaskan isu ini dan mewujudkan aspirasi masyarakat dalam bentuk kebijakan konkret. “Sinergi antara DPRK, DPRA, DPR RI, dan DPD RI akan krusial untuk percepatan penciptaan lapangan kerja di Aceh,” imbuhnya.
Menanggapi hal itu, Fajar Andi Saputra menambahkan, “bahwa sudah layaknya kedepan siapapun yang terpilih menjadi bagian dari Pemerintah harus hadir secara nyata di tengah masyarakat, bukan hanya sebagai regulator, tetapi sebagai fasilitator yang mendorong inovasi dan kolaborasi untuk menciptakan pekerjaan.”
Dengan dialog ini, diharapkan akan ada momentum baru dalam penciptaan lapangan pekerjaan di Aceh.[*]




















