PENGALAMAN MENGERIKAN

Oleh : Atanaya Ramadhani Oktavia (Siswi kelas VIII/1 SMPN 1 PEUKAN BADA, Aceh Besar)
SANTERDAILY.COM | ——--Tiga tahun yang lalu saya mengalami kecelakaan, lengan saya harus dioperasi, bekas lukanya yang dioperasi masih ada di tangan, ceritanya begini.

Suatu hari di rumah kami ramai orang kampung datang menjenguk abang saya yang sakit yang mengalami patah tulang di kakinya.

Saya dan adik bermain diluar rumah, sedang asik bermain adik menyuruh saya mengambil jambu yang sedang lebat buahnya. Saya pun naik dengan memanjat pagar yang ada di samping pohon jambu, kebetulan saya memakai sandal, belum sempat sampai keatas pohon tiba-tiba saya terpeleset dan jatuh, tangan saya tersangkut di ujung pagar yang runcing. Tangan saya tersobek sampai mengeluarkan darah dan daging.

Bunda,,, bunda,,, sambil menangis dan menjerit saya memanggil mama. Sungguh ketakutan yang saya rasakan. Abang saya yang duduk di ruang tamu melihat saya tersangkut di pagar. Dia berteriak memanggil ayah. Ayah,,, ayah Naya nyangkut dipagar.
Dengan tergesa-gesa ayah, bunda, abang, dan kakak menghampiri saya, seketika saya melihat mama menangis, tidak lama kemudian mama pingsan. Saya diangkat oleh abang dari pagar, dan ayah mengangkat mama masuk ke rumah, setelah itu saya langsung dibawa kerumah sakit Meuraxa.

Diphotonya tangan saya yang terluka oleh suster. Tidak berapa lama Dokter masuk dan memeriksa tangan saya.

Anak Bapak harus dioperasi karena lukanya besar dan sedikit lagi hampir terkena nadi, kata Dokter kepada ayah. Setelah magrib saya didorong oleh suster kesuatu ruang.
Bang, saya mau dibawa kemana, tanya saya pada abang.
Ke ruang rongen, jawab abang.

Setelah di rongent lalu saya dibawa masuk ke ruang operasi, lalu saya dibius oleh dokter. Sambil membius dokter berbincang-bincang dengan saya.
Nama adik siapa, tanya dokter.
Nama saya Atanaya, jawab saya

Nama panggilannya, tanya dokter lagi.

Naya, saya menjawab.
Dek Naya kalau mengantuk tidur saja ya, kata dokter.
Iya dok,

Setelah itu saya tidak sadar lagi,saya tersadar kembali setelah operasi selesai, dan saya dibawa ke ruang nginap. Saya merasa sangat haus tetapi saya tidak boleh minum dulu, dan bibir saya hanya diolesi air agar bibir tidak kering. Satu malam sudah berlalu, keesokan harinya pukul 9.30 saya diperiksa kembali oleh dokter, perban ditangan saya dibuka dan diobati lagi.

Tiga hari kemudian dokter memperbolehkan saya pulang, dan menjalani rawat jalan saja. Selama satu minggu saya harus mendapat perawatan rawat jalan berturut-turut. Di hari terakhir perawatan dokter mengatakan bahwa saya harus dioperasi lagi, kami tidak tahu apa alasannya, tetapi ayah saya tidak setuju dan meminta jalan keluar lain kepada dokter,Alhamdulillah dokter menyetujui untuk tidak operasi lagi dan kami pun pulang dengan hati senang.

Banyak tetangga yang berkunjung melihat saya sakit, di kampung kami memang seperti itu, jika ada warga yang sakit beramai-ramai dikunjungi.

Itulah pengalaman yang paling mengerikan dalam hidup saya, sampai kapanpun saya tidak berani memanjat lagi.