- Oleh : Ayun Rivani SPdI (korban Tsunami Aceh yang tinggal di desa Mon Ikeun, Lhoknga).
kabardaily.com – Kami tinggal di desa Mon Ikeun Kecamatan Lhoknga Kabupaten Aceh Besar dan rumah kami hanya berkisar 1 km dari bibir pantai.
Tepatnya pada pagi itu 26 Desember 2004 kami sekeluarga lagi menonton TV di rumah pada pagi hari jam 08.00 Wib tiba-tiba gempa menggoncang rumah kami.
Lalu kami keluar rumah karena gempanya lumayan kuat.15 menit setelah gempa berhenti, tiba-tiba ada orang lari dari lorong samping rumah sambil berteriak “Air Laut Naik”.
Kami tidak begitu percaya karena belum pernah terjadi sebelumnya air laut naik, karena sudah ramai yang berteriak akhirnya saya masuk rumah ambil honda dan langsung tancap gas karena orang-orang sudah pada berlarian.
Di persimpangan jalan kampung saya lihat orang-orang makin ramai pada lari..akhirnya saya balek lagi karena saya teringat orang tua.
Akhirnya saya balek lagi ke rumah dan membonceng mamak dan adek saya Rahmi satu kereta..Pas dipersimpangan disitulah saya menoleh sekali kebelakang…masyaAllah.
Saya melihat airnya cukup tinggi lagi menghantam rumah-rumah dan pohon kelapa..mungkin sekitar 20 meter..ayah saya masih tercengang-cengang melihat orang-orang pada lari..akhirnya diteriaki oleh adek mamak saya Asnawi.
“Bang Duk Keuno..Peu neudong lom ” akhirnya ayah saya lari naik sepeda motor dengan adek mamak saya..kakak saya Yeyen dan 2 orang adek saya Ty dan Hafidz sudah duluan pergi bersama satpam Telkom depan rumah kami menuju Mata Ie.
Saya bersama mamak dan adek saya..begitu juga adek mamak saya dan ayah saya lari menuju arah Kota Banda Aceh..karena kami pikir hanya daerah kami yang air lautnya naik.
Pas sampai simpang rima..saya lihat air lagi menghantam pohon-pohon dari arah Ule lhe..akhirnya kami balik lagi..di situlah banyak orang bertabrakan karena lawan arah..yang dari Lhoknga menuju Banda Aceh..yang dari Ule lheu menuju lhoknga..pas sampai dilampisang orang-orang pada lari lewat jalan setapak persawahan..karena sudah macet..akhirnya saya lempar kereta ke sawah dan kami lari menuju gunung.
Alhamdulillah kami sekeluarga selamat..sore hari setelah airnya sudah agak surut..kami turun dari perbukitan tersebut..saya berenang lumayan jauh mencari kakak saya 2 orang adek saya yang pada saat itu saya tidak tahu kalau mereka sudah dibawa lari ke daerah Mata Ie oleh Satpam Depan telkom depan rumah kami..sedangkan kami lari ke arah lampisang lewat jalan nasional.
Disitulah saya terkejut sekali melihat mayat-mayat tergeletak dimana-mana begitulah sedikit cerita singkat ketika Kami lari dari hantaman Tsunami..Rumah orang tua saya Hancur hanya tinggal pondasi..rumah-rumah di desa kami semua hancur hanya tersisa pondasi rumah saja karena desa kami langsung berbatasan dengan laut.
Alhamdulillah kami sekeluarga masih diberi umur panjang oleh Allah SWT Saat itu tetapi nenek Kami M.Juned Gadeng dan saudara-saudara kami yang lain banyak yang hilang tidak tahu jejaknya..malamnya kami menginap di sebuah pesantren di Jeumpet..besoknya kami mengungsi ke Aneuk Galong di tempat saudara..dan besoknya kami dijemput oleh adek mamak yang tinggal di Neusu Banda Aceh diajak mengungsi ke perumahan pertanian disaree..2 minggu kami disana kami tidak betah karena teringat kampung halaman…akhirnya kami kembali ke kampung dan mengungsi dikemah-kemah pengusian di kampung selama setahun…suka duka kami rasakan bersama masyarakat yang laen ditenda pengungsian selama setahun..setelah itu baru kembali ke tempat tinggal asal setelah dibangun kembali rumah-rumah oleh NGO asing..
Mudah-mudahan nenek kami, saudara-saudara kami dan orang-orang yang telah meninggal dunia pada saat Tsunami maupun setelah Tsunami diampuni segala dosa-dosanya dan dimasukkan dalam Syurganya Allah SWT..Amin Ya Rabbal ‘alamin..[]




















