MENJEMPUT MATAHARI

Oleh : Muklis Puna

SANTERDAILY.COM | LHOKSEUMAWE–PUISI–Serat matahari samar di ufuk timur
Dingin pelan- pelan melepas pagi
Dalam kepompong berlogo kusam,
Dia susur celah sinar mentari
Ransel kumal berisi potongan ilmu

Motor butut menjerit-jerit dicambuk terjal
Jalan berkelok, lereng berbukit menari dalam bayang
Tubuh ringkih balutan plastik digigit angin
Lilin kecil sayup -sayup diterpa kabut

Guru honorer tak bergaji mengayuh hidup
Cita – cita telah ditulis di buku saku tak berjudul
Mengabdi pada keikhlasan
Mengharap secercah rupiah dari sisa pembukuan
Sering dapur tak berkepul,
Namun anak negeri dijunjung melambung

Kemarin malam debat penguasa menyeruak
Program pembangunan merambah telinga
Dia menatap pada kaca berwarna
Matanya berkaca-kaca
Butir-butir visi disimak
Tak pernah statusnya dibongkar

Guru honorer mengunyah kisah
Pengabdiannya tanpa koma
Kini dengan gaya santai melambai
Dihalau semua kisah penguasa berebut tahta
Pada tangga menuju langit dia bersandar
Biarkan debat larung berlarung

Lalu menuju kamar pengap
Besok pagi anak negeri
menyambut ria di pintu kelas

Lhokseumawe,19 Januari 2018