Hotel vs Mesjid? 

Oleh : Usamah Elmadny.

LIPUTAN SAHABAT–

Bagaimana sesungguhnya relasi hotel – mesjid? .

Saling mengisi dan melengkapi?.

Atau, saling menegasi. Saling melemahkan?. Saling meniadakan?.

Paling tidak ada dua perspektif yang berkembang dalam melihat relasi hotel – mesjid: positif dan negatif.

Pemerintah Saudi Arabia yang dikenal berideologi salafi yang militan, misalnya, melihat relasi hotel – mesjid dalam perspektif positif.

Bagi Pemerintah Saudi, hotel dan mesjid adalah dua infrastruktur yang saling melengkapi. Keduanya berdimensi profan dan sakral. Saling menopang dan melengkapi dalam bingkai ridha ilahi.

Maka sekitar 100 meter bahkan lebih dekat lagi dari Mesjidil Haram dan Ka’bah yang suci dan disucikan itu, berdiri puluhan hotel berbintang.

Yang mengejutkan, salah satu Hotel yang paling dekat dengan Masjidil Haram dan

Ka’bah adalah Hotel Hilton milik seorang Yahudi, yang bernama Hilton Worldwide. Warga AS yang memiliki jaringan hotel di berbagai penjuru dunia.

Bagi yang pernah ke Mekkah pasti ingat hotel ini posisinya menghadap langsung ke Mesjidil Haram. Terletak antara Hotel Dar Tauhid Intercontidental dan Hotel Abraj Al-Bait.

Hotel ini memiliki panorama Mesjidil Haram dan Ka’bah. Tujuh lift dengan dinding kaca transparent bertengger di dalamnya.

Hotel Hilton ini memang milik Yahudi, tapi seluruh aspek manajemennya dikendalikan dan diawasi Pemetntah Saudi.

Dengan demikian di dalam hotel itu tidak boleh ada dan tidak tersedia kesempatan berbagai aktifitas maksiat yang berlawanan dengan syariat sebagaimana selama ini diyakini para pihak.

Ketika posisi dan manajemen hotel demikian, maka sekalipun hotel dekat Mesjidil Haram itu milik Yahudi, yang terjadi kemudian hotel tersebut justru menghadirkan maslahat. Bukan mudharat, apalagi maksiat.

Misalnya, setelah penat beribadah, jamaah Masjidil Haram dapat betistirahat dengan jarak dekat dari Ka’bah. Lalu, ketika azan berkumandang, atau sepertiga malam mau melaksanakan qiyamullail, maka para jamaah tidak perlu berjalan jauh. Sekejab sudah tiba ke mesjid.

Begitu juga tamu – tamu Allah seperti perempuan yang berhalangan (haid), dari kamar hotel dekat Baitullah itu mereka dapat mengikuti berbagai kegiatan di Masjidil Haram melalui CCTV yang dipancarkan ke kamar hotel. Termasuk mendengar azan, suara Imam yang merdu serta berbagai kenikmatan spiritual lainnya dari dalam Masjidil Haram.

Demikian juga di Madinah.

Puluhan hotel mengelilingi Mesjid Nabawi. Yang di dalamnya juga ada makam Nabi SAW. Kesemuanya memudahkan jamaah.

Di Banda Aceh sejumlah manajemen hotel akhir-akhir ini seperti memahami suasana batiniah tamu terutama turis luar yang ingin dan rindu shalat berjamaah di Mesjid Raya Baiturrahman.

Tapi apa hendak dikata. Maksud hati ke Mesjid Raya Baiturrahman, tetapi kaki tak sanggup menjangkau. Karena posisi hotel jauh dari mesjid kebanggaan kita itu.

Membaca keinginan tamu mereka, manajenen hotel di Banda Aceh akhirnya juga melihat relasi Hotel – mesjid dalam perspektif positif.

Maka sejumlah hotel di Banda Aceh pun saat ini memfasilitasi kenderaan khusus bagi tamunya untuk dapat shalat berjamaah di Mesjid Raya Baiturrahman.

Ternyata menurut sejumlah penuturan, para tamu dan turis yang datang ke Banda Aceh merasa senang ketika sejumlah pihak hotel memfasilitasi mereka shalat berjamaah di Mesjid Raya Baiturrahman.

Kemarin, ketika melintasi Jalan Mr. Muhammad Yamin sisi kiri Mesjid Raya Baiturrahman, dan ini sering saya alami, saya selalu terpana dengan tanah kosong eks Aceh Hotel yang terletak hanya di pisahkan jalan dari Mesjid Raya Baiturrahman.

Tanah kosong itu begitu stretegis. Di atasnya terhampar rumput hijau. Di sela-sela rumput hijau itu terpacak kokoh tiang pancang yang telah dicat warna warni.

Di tempat itu, belasan tahun lalu akan dibangun sebuah hotel berbintang. Namun kemudian tertunda sampai hari ini.

Konon konsepnya hotel itu akan dibangun dengan atsitektur yang terintegrasi dengan Mesjid Raya Baiturrahman.

Bukan hanya arsitekturnya, tapi juga konsep operasional hotel itu akan dibuat tetintegrasi dengan konsep religiusitas Mesjid Raya Baiturrahman.

Dengan demikian, hotel tersebut bukan hanya infrastruktur yang berdimensi bisnis, tetapi juga sebagai infrastruktur yang akan mendukung kesempurnaan Mesjid Raya sebagai tempat ibadah sekaligus destinasi wisata spiritual di Banda Aceh.

Gambaran estimasinya, hotel indah dekat Mesjid Raya Baiturrahman itu akan seperti hotel sekitar Mesjidil Haram dan Mesjid Nabawi di haramain (dua tanah haram) itu.

Manajemen dan kontrol operasional akan diawasi ketat Oleh Pemko Banda Aceh.

Dengan demikian di hotel tersebut benar terjaga dari hal hal yang tidak sesuai Syariat.

Bila seperti ini rencana operasional nya maka kekhawatiran sejumlah pihak terhadap keberatan hotel dekat Medjid Raya Baiturrahman tidak relevan lagi.

Seperti korelasi Hotel Hilton dan hotel lainnya di Mekkah dengan Mesjidil Haram. Maka dari dari Aceh Hotel di samping Mesjid Raya Baiturrahman itu para tamu dan wisatawan yang berkunjung ke Banda Aceh dengan mudah dan cepat setiap waktu datang, mengakses serta shalat di Mesjid Raya Baiturrahman ini.

Apalagi bila dari dan ke Mesjid Raya Baiturrahman akan di buat terowongan bawah tanah. Akan sangat indah lagi dan menjadi daya tarik wisata yang luar biasa.

Para wanita muslim yang berkunjung ke Aceh tetapi karena halangan syar’i tidak boleh masuk Mesjid Raya Baiturrahman, maka dari dalam kamar hotel itu melalu CCTV mereka bisa melihat dan mendengar suara azan, merdunya suara imam dan berbagai keindahan spritual Mesjid Raya Baiturrahman lainnya. Seperti dari Hotel Hilton ke Masjidil Haram.

Sepertinya perlu kita pikirkan ulang prmanfaatan lahan kosong eks Aceh Hotel dekat Mesjid Raya Baiturrahman itu.

Termasuk mempertimbangkan untuk bangunan Hotel Syariat yang indah, megahit serta berkonten Dan bernuansa religius.

Kalaulah kita ragu bahwa bangunan hotel dekat Mesjid Raya Baitirrahman itu dengan segala dinamikanya akan merusak spritualitas mesjid Raya, maka prasangka demikian perlu kita timbang ulang baik-baik.

Karena, yang merusak spritualitas Mesjid Raya Baiturrahman bukan sahaja karena hadirnya hotel yang tidak terkendali dekat mesjid.

Tetapi para pedagang di Pasar Aceh yang tidak menghentikan aktifitas perdagangannya ketika azan berkumandang dari Mesjid Raya Baiturrahman juga dapat mencoreng kehormatan orang Aceh sebagai Serambi Mekkah ketika sejumlah turis dari luar menyeksikannya terus menerus seperti itu. Berkali kali.

Bagi saya, Mesjid Raya Baiturrahman yang bersih indah dan artistik, ada hotel bermanajemen syariah di dekatnya, serta Pasar Aceh yang sepi ketika azan berkumandang dari Mesjid Raya Baiturrahman, adalah salah satu ikon wisata syariah yang dapat dipasarkan oleh Pemkot Banda Aceh dan akan menjadi daya tarik yang luar biasa.

Kiban meunurot gata, na cocok?.

Nyan ban. That na teuh. []

****