Pemetaan Sastra Lisan Aceh 2026 Dokumentasikan Hikayat, Dodaidi, dan Cerita Rakyat di Bireuen

KABARDAILY.COM – Balai Bahasa Provinsi Aceh melaksanakan kegiatan Pemetaan Sastra Lisan Aceh 2026 di Kabupaten Bireuen selama tiga hari, 10–12 Juni 2026. Kegiatan tersebut memfokuskan pendataan terhadap tiga jenis sastra lisan, yakni peuratep aneuk (do da idi), hikayat , dan cerita rakyat.

Masing-masing jenis sastra lisan melibatkan dua dan empat orang penutur yang menjadi sumber data dalam proses pemetaan. Para penutur berasal dari sejumlah gampong di Kabupaten Bireuen yang masih mempertahankan tradisi lisan yang diwariskan secara turun-temurun.

Koordinator Kegiatan Pemetaan Sastra, Ibrahim Sembiring, mengatakan kegiatan tersebut bertujuan mengidentifikasi, mendokumentasikan, serta melindungi kekayaan sastra lisan Aceh yang masih hidup di tengah masyarakat.

“Melalui pemetaan ini, kami ingin memastikan kekayaan sastra lisan Aceh, seperti Peuratep Aneuk, hikayat, dan cerita rakyat, tidak hilang ditelan zaman. Hasilnya nanti akan menjadi bagian dari upaya pelindungan dan pengembangan bahasa serta sastra daerah agar tetap diwariskan kepada generasi mendatang,” kata Ibrahim di Bireuen, Jumat (12/6/2026).

Menurutnya, Kabupaten Bireuen dipilih sebagai lokasi pemetaan sastra karena masih memiliki penutur yang aktif dan tradisi lisan yang terus dipraktikkan oleh masyarakat.

“Bireuen memiliki kekayaan tradisi lisan yang masih hidup dan diwariskan secara turun temurun. Karena itu, pendokumentasian ini menjadi penting sebagai bagian dari upaya menjaga warisan budaya takbenda Aceh,” ujarnya.

Selama pelaksanaan kegiatan, tim Balai Bahasa Provinsi Aceh melakukan wawancara, perekaman, dan pencatatan terhadap para penutur. Pemetaan dilakukan pada tiga kelompok sastra lisan, masing-masing terdiri atas dua dan empat penutur yang mewakili peuratep aneuk, hikayat dan cerita rakyat.

Kegiatan tersebut turut melibatkan pegiat literasi Bireuen, Mukhlis Aminullah, yang mendampingi proses penggalian data dan pendokumentasian tradisi lisan di lapangan.

Sebelumnya, salah satu hasil penggalian cerita rakyat dalam rangkaian kegiatan tersebut ditampilkan oleh Wahyuni, relawan Perpustakaan Gampong Meubaca Lueng Daneun, Kecamatan Peusangan Siblah Krueng melalui dongeng Guha Ulee Keubeu,

Selain itu, cerita rakyat juga ditampilkan oleh Kafrawi, aktivis dari Komunitas Baca Bireuen (KBB) yang membawakan dongeng Putroe Nie. Kedua cerita tersebut merupakan bagian dari khazanah sastra lisan yang masih dikenal dan dituturkan oleh masyarakat setempat.

Ibrahim berharap hasil pemetaan dapat menjadi dasar bagi berbagai program pelindungan dan revitalisasi sastra lisan Aceh, sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menjaga dan mewariskan kekayaan budaya daerah kepada generasi berikutnya.

Tim Balai Bahasa Provinsi Aceh yang melakukan pemetaan sastra di Bireuen terdiri dari Ibrahim Sembiring, Helmi Fuad dan Irawan Syahdi. (Rus)