- Penulis: Hafizhuddin Islamy ,Pemuda Aceh di Istanbul, Turki
KABARDAILY.COM,OPINI – Tanpa terasa waktu berlalu begitu cepatnya, menyisakan kerinduan karena rasa yang masih ingin berlama-lama dengan Ramadhan. Bulan agung dan mulia itu kini telah terlewati, bersyukur untuk kesempatan yang masih Allah Swt berikan hingga bisa beribadah sebulan penuh di dalamnya. Kini tinggal harapan dan doa agar kita semua Allah berikan keberkahan umur hingga berjumpa kembali dengan Ramadhan di masa yang akan datang.
Kini tibalah hari raya dengan suara takbir yang menggema dari setiap masjid dan mushalla yang ada. Hari yang disebut sebagai hari kemenangan setelah satu bulan berpuasa, mengendalikan nafsu serta memenuhi waktu dengan ibadah yang bertujuan untuk meraih ridha Allah Swt.
Di dalam tradisi masyarakat, hari raya merupakan hari suka cita yang menjadi momentum keluarga berkumpul. Mereka yang sudah setahun atau lebih hidup terpisah karena aktivitas masing-masing menjadikan hari raya atau lebaran sebagai momen untuk berkumpul. Mereka yang selama ini jauh dari rumah asal tempat tinggalnya pulang untuk menemui saudara-saudaranya.
Pada saat hari raya, dengan ditemani lantunan takbir kita akan melihat suasana bahagia penuh haru pertemuan orang-orang yang sudah lama tidak saling bertemu. Akan terlihat jelas dari hal tersebut rasa cinta dan kasih sayang yang terbalut dalam hangatnya silaturahmi antar sesama.
Bagi mereka yang keluarganya sudah meninggal, hari raya menjadi momen untuk berziarah dan memberikan doa terbaik kepada keluarganya yang telah meninggal tersebut. Doa yang dipanjatkan di hari raya kepada keluarga atau orang tua yang sudah meninggal pasti akan menjadi hadiah istimewa bagi mereka. Sama halnya seperti memberikan hadiah kepada orang lain, hadiah yang diberikan di hari-hari spesial seperti hari ulang tahun pasti akan jauh terasa lebih spesial daripada hadiah yang diberikan di hari-hari biasa. Hal ini juga berlaku bagi kehidupan di alam kubur, oleh karenanya doa-doa yang dipanjatkan pada waktu-waktu seperti hari Jum’at tentu akan berbeda fadhilahnya dengan doa-doa yang dipanjatkan di hari-hari lain.
Setelah ziarah kubur untuk mendoakan keluarga yang sudah meninggal, kegiatan hari raya pun dilanjutkan dengan menyambut kedatangan para tamu di rumah yang hendak bersilaturahmi atau pergi mengunjungi rumah-rumah saudara yang lain. Inilah beberapa hal yang akan menjadi pemandangan di tengah-tengah masyarakat pada saat hari raya.
Namun tidak cukup sampai disitu, sebagai ummat Islam kita harus jeli melihat lebih dalam makna dari hari raya itu sendiri. Kita sering mendengar istilah populer dari guru-guru kita yang menyampaikan bahwa “Hari raya bukanlah tentang baju atau pakaian baru, namun hari raya adalah tentang meningkatkan ketaatan kepada Allah Swt”.
Sesuai dengan maknanya Idul Fitri berarti kembali ke fitrah. Sebagai manusia yang tidak pernah luput dari dosa, setelah hari raya sudah semestinya menjadikan diri menjadi pribadi yang lebih baik dalam hal ketakwaan dan ketaatan. Hasil dari satu bulan ujian di dalam bulan Ramadhan akan terlihat dalam kehidupan setelah hari raya.
Sejatinya, tantangan sebenarnya baru dimulai setelah Ramadhan dan hari raya berlalu. Akan bagaimana kehidupan selama sebelas bulan pasca Ramadhan merupakan gambaran ataupun cerminan sudah maksimal atau tidaknya puasa seorang hamba. Setelah hari raya berlalu, akankah ibadah-ibadah yang rutin dilakukan pada saat Ramadhan akan terus berjalan? Atau sebaliknya?
Jika setelah hari raya manusia kembali ke kebiasaan buruknya dan tidak berusaha untuk melakukan perbaikan terhadap dirinya, maka hari raya tidak akan ada maknanya. Pada intinya memaknai hari raya adalah bagaimana kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya.
Ramadhan telah mengedukasi manusia untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah Swt dengan cara memperbanyak ibadah kepada Nya dan tidak mengerjakan larangan Nya. Lantas apakah setelah Ramadhan dan hari raya usai kedekatan kepada Allah akan berkurang? Sebagaimana di dalam bulan Ramadhan dimana ummat Islam seakan akan ditarik oleh sebuah magnet besar untuk terus menerus dengan penuh semangat mencari ridha Allah; seperti itu pula cerminan ideal seorang hamba setelah melewati Ramadhan dan hari raya.
Hari raya akan jadi bermakna jika diiringi dengan muhasabah diri, introspeksi diri, memperbaiki diri dengan bertaubat dan menyesali setiap kesalahan yang pernah dilakukan di masa lalu. Kemudian dengan penuh kesungguhan bercita-cita untuk tidak lagi terjerumus ke dalam jurang kemaksiatan yang sama serta menanamkan komitmen untuk menjadi hamba Allah yang bertaqwa.






















